
Rangkulan penuh kasih persaudaran Paus Leo XIV dengan Imam Besar, Mesjid Raya Aljazair (Foto:Vatican Media)
Oleh Claudia Torres-Aljazair
Aljir, Aljazair — Pope Leo XIV memulai hari pertama perjalanan apostoliknya di Aljazair dengan serangkaian agenda padat yang menekankan pentingnya perdamaian dan dialog antaragama.
Kunjungan ini merupakan bagian dari lawatan Paus ke Afrika yang berlangsung pada 13–23 April 2026, mencakup Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Setibanya di Aljir pada Senin pagi, Paus menyampaikan kegembiraannya dapat kembali ke tanah kelahiran Santo Agustinus. Dalam penerbangan dari Roma, ia menyebut tokoh tersebut sebagai “jembatan penting dalam dialog antaragama”.
Ziarah ke Monumen Syuhada
Agenda pertama Paus adalah mengunjungi Maqam Echahid, monumen yang didedikasikan bagi para korban perang kemerdekaan Aljazair (1954–1962). Dalam pidato publik pertamanya, Paus menegaskan bahwa masa depan adalah milik mereka yang memilih jalan damai.
“Keputusan untuk hidup dalam kebebasan harus diperbarui setiap hari,” ujarnya.
Bertemu Pemerintah dan Tokoh Masyarakat
Paus kemudian melakukan kunjungan kehormatan ke Istana Kepresidenan dan bertemu Presiden Aljazair. Dalam pertemuan dengan pejabat negara, masyarakat sipil, dan korps diplomatik di pusat konferensi Djamaa El Djazair, ia mengingatkan pentingnya menghormati martabat setiap manusia.
Ia juga mengajak para pemimpin untuk lebih peka terhadap penderitaan sesama, alih-alih memperbesar konflik dan kesalahpahaman.
Kunjungan ke Masjid Raya Aljir
Pada sore hari, Paus mengunjungi Masjid Raya Aljir dan melakukan refleksi singkat bersama rektor masjid, Mohamed Mamoun Al Qasimi. Dalam kesempatan tersebut, Paus menekankan pentingnya saling menghormati, terutama di negara dengan mayoritas Muslim seperti Aljazair, di mana komunitas Kristen merupakan minoritas kecil namun aktif.
Bertemu Suster Misionaris Augustinian
Paus juga mengunjungi pusat pelayanan Suster Misionaris Augustinian di Bab El Oued. Di sana, ia mengenang para biarawati yang menjadi korban kekerasan selama perang saudara Aljazair pada 1990-an, yang dikenal sebagai “Dekade Hitam”. Ia menyebut pengorbanan mereka sebagai wujud nyata kesaksian iman hingga titik pengorbanan tertinggi.
Doa Bersama di Basilika
Hari pertama ditutup dengan pertemuan bersama komunitas Katolik di Basilika Bunda Maria Afrika. Meski cuaca buruk, umat tetap memadati lokasi dan mengikuti acara dengan antusias.
Paus mendengarkan berbagai kesaksian, termasuk dari seorang Muslim dan mahasiswa Pentakosta, yang berbagi pengalaman hidup berdampingan secara damai. Dalam pesannya, Paus menegaskan bahwa persatuan lintas agama di Aljazair menjadi tanda harapan di tengah dunia yang dilanda konflik.
Kegiatan hari itu ditutup dengan pertemuan pribadi bersama para uskup di Nunsiatur Apostolik, menandai akhir dari agenda padat di hari pertama kunjungan tersebut (VATICAN NEWS, 14 April 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr