BUKIT ZAITUN & DOA BAPA KAMI

943 total views, 37 views today

Pagi-pagi buta aku menapaki jalan setapak mendaki bukit Zaitun. Di saat fajar merekah dan matahari mulai bersinar aku sudah duduk di puncak bukit sambil mendoakan berulang kali doa Bapa Kami. Aku berada persis di sebuah gereja dengan satu gua kecil yang dikenal sebagai tempat dahulu Yesus mengajarkan doa Bapa Kami kepada para murid-Nya. Memang beberapa ahli Kitab Suci berpendapat bahwa pengajaran doa Bapa Kami, kemungkinan besar dan itu lebih logis, diberikan selama Yesus berkotbah keliling di daerah Galilea (Mat 6:9-13). Namun sebuah tradisi kuno berargumentasi bahwa Yesus dua kali mengajarkan doa Bapa Kami. Pengajaran pertama disampaikan sewaktu di Galilea dan kedua kalinya di puncak bukit Zaitun segera setelah kembali dari mengunjungi ketiga sahabat-Nya di Betania, Lazarus-Maria-Marta (Luk 10:38-42; 11:1-4).

Di tempat pengajaran kedua itu terdapat sebuah gua yang pada abad ke-4 persis di atasnya didirikan sebuah gereja Bizantium oleh Ratu Helena, yang disebut “in Eleona” yakni “dalam kebun Zaitun.” Namun gereja itu thn.614 dihancurkan oleh pasukan Persia dan baru abad ke-12 dibangun kembali oleh para pejuang Perang Salib. Thn.1198 gereja itu pun dihancurkan oleh orang-orang Arab dan baru thn.1868, setelah daerah itu dibeli oleh Aurelia Bossi, puteri bangsawan Tour d’Auvergue Perancis, maka thn.1875 dibangun sebuah biara bagi para biarawati Karmelites dan sebuah gereja dengan 50 doa Bapa Kami dalam ragam bahasa, termasuk bahasa Indonesia bahkan aksara Batak kuno. Kini lebih dari 50 doa Bapa Kami tertulis pada tembok gereja, lempengan batu dan tembok keliling yang membentengi kompleks.

Dalam Kitab Suci, doa Bapa Kami tertulis di Injil Matius 6:9-13 dan Lukas 11:2-4 dengan versi yang sedikit berbeda. Kedua penginjil sama-sama menggarap perkataan Yesus yang terkumpul dalam tradisi Q (Quelle = Sumber) tetapi dengan cara yang berbeda. Penginjil Markus tidak menuliskan doa itu karena waktu ia menulis Injilnya tradisi Q belum terkumpul. Penginjil Lukas mengikuti rumusan ringkas tradisi Q dengan penyesuaian seperlunya agar lebih cocok untuk jemaatnya. Penginjil Matius lebih mempertahankan rumusan aslinya, tetapi menambahkan penjelasan di sana-sini. Karena itu pada dasarnya kedua versi doa Bapa Kami memuat topik yang sama dengan sedikit perbedaan bila keduanya diperbandingkan.

 

Mat 6:9-10                                                                  Luk 11:2

Bapa kami yang di surga                                            Bapa

Dikuduskanlah nama-Mu                                           Dikuduskanlah nama-Mu

Datanglah Kerajaan-Mu                                             Datanglah Kerajaan-Mu

Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga

 

Yesus menyapa Tuhan Yang Mahakuasa dengan sebutan “Bapa” sebagai ungkapan keakraban satu sama lain. Kata Aram Abba artinya “Bapa” dan menjadi sapaan akrab tetapi hormat dari seorang anak kepada ayahnya. Dengan mengajarkan dan mengajak para murid menyapa Tuhan adalah Bapa, Yesus mau menempatkan diri-Nya sebagai sesama bagi siapapun yang akan mendoakan doa ini. Matius menambah keterangan, “Bapa kami yang di surga,” karena ia mau mengingatkan bahwa doa ini ditujukan kepada Tuhan Yang Mahakuasa di surga walaupun sapaannya Bapa.

Teks Injil Matius memuat tiga ucapan permohonan dan teks Injil Lukas hanya dua, tetapi dua atau tiga ucapan itu masih menguraikan satu topik permohonan saja. Hal ini terjadi karena doa Bapa Kami bukan doa dengan rumusan baku dan tetap, tetapi sebuah model doa. Ucapan Yesus yang mendahuluinya (“Karena itu berdoalah demikian:” atau “Apabila kamu berdoa, katakanlah:”) dapat ditafsirkan sebagai tawaran model doa, yang memberi kemungkinan si pendoa untuk mengubah atau menambahkannya. Karena itulah sejak masa awal jemaat Kristen terdapat beberapa versi doa Bapa Kami. Artinya, bentuk permohonan yang lebih panjang dalam Injil Matius merupakan pengembangan kemudian, sebagai tanggapan atas tawaran Yesus itu.

Baca juga  Yesus Dipersembahkan Di Kenisah

Pengembangan itu dipengaruhi oleh doa-doa Yahudi yang lazim pada zaman Yesus. Misalnya, Kaddish: “Dimuliakanlah dan dikuduskanlah nama-Nya yang agung di bumi yang Ia ciptakan menurut kehendak-Nya; dan semoga Ia menegakkan kerajaan-Nya dalam hidupmu dan dalam hari-harimu dan dalam hidup semua umat Israel cepat dan segera.” Doa Yahudi yang juga mempengaruhinya: “Lakukanlah kehendak-Mu di surga dan berilah kedamaian hati kepada mereka yang takut akan Engkau di dunia, dan lakukanlah apa yang baik di mata kami.”

            Maka, “Dikuduskanlah nama-Mu” adalah permohonan agar keberadaan Tuhan tetap sakral, keramat, lain dari yang lain meskipun disapa sebagai Bapa. Dengan cara demikian dunia akan semakin mengakui kemahakuasaan-Nya, menghormati dan memuliakan-Nya. “Datanglah Kerajaan-Mu” adalah permohonan agar dunia baru yang dijiwai dan digerakkan oleh kekuatan Roh Tuhan sendiri sehingga disebut Kerajaan-Nya, hadir dan terwujud di bumi ini. Gagasan tentang dunia baru itu tetap dalam ukuran-ukuran moral-sosial duniawi tetapi status sosial (misalnya kaya-miskin, pejabat-rakyat, tuan-hamba) tidak membatasi satu sama lain lagi dalam hidup bersama sebagai sesama. Karena itulah Matius menambahkan keterangan, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”

 

Mat 6:10-13                                                                Luk 11:3-4

Berikanlah kami pada hari ini                               Berikanlah kami setiap hari

      makanan kami yang secukupnya                          makanan kami yang secukupnya

dan ampunilah kami akan kesalahan kami          dan ampunilah kami akan dosa kami

     seperti kami juga mengampuni                             sebab kami pun mengampuni

     orang yang bersalah kepada kami                       setiap orang yang bersalah kpd kami

dan janganlah membawa kami                            dan janganlah membawa kami

     ke dalam pencobaan                                            ke dalam pencobaan

     tetapi lepaskanlah kami dari pd yang jahat

 

“Berilah kami…” adalah doa permohonan agar Tuhan mencukupi kebutuhan pokok untuk hidup dari hari ke hari, tidak lebih tidak kurang atau tanpa menimbun-nimbun. Perbedaan permohonan terjadi karena pandangan teologis dari masing-masing penginjil atau jemaat setempat. Jemaat Matius yakin bahwa hari Tuhan akan segera datang pada hari-hari itu, sehingga permohonan kebutuhannya pun cukup untuk dapat hidup saat itu saja. Jemaat Lukas percaya bahwa Kerajaan Allah pasti akan datang, tetapi kapan waktunya, tak seorang pun yang tahu. Mereka yakin bahwa kedatangan hari Tuhan tidak segera akan terjadi, sehingga permohonan kebutuhan untuk hidup pun diminta setiap hari. Memang jelas perbedaannya, tetapi kedua teks artinya sama, yakni pengajaran agar jemaat percaya bahwa Tuhan akan menyediakan kebutuhan hidup manusia.

Doa permohonan soal pengampunan pun mengajarkan agar para murid Yesus bersikap dan menjadi pengampun. Orang-orang Kristen-Yahudi yang berlatarbelakang bahasa Aram, memakai istilah “hutang” untuk menyebut “dosa”. Maksudnya, orang yang melanggar perintah Allah atau hukum-hukum-Nya adalah berhutang kepada Allah. Penginjil Matius tidak mengubah dan hanya menerjemahkan istilah Aram “hutang” itu dengan “kesalahan”. Sebab ia menulis untuk jemaat Kristen-Yahudi yang masih mengenal bahasa Aram dan memahami “dosa” sebagai “hutang”. Sedangkan Penginjil Lukas menulis untuk jemaat Kristen non-Yahudi yang tak memahami bahasa Aram, sehingga mengubah istilah “hutang” itu dengan “dosa”, agar lebih gampang dimengerti. Jadi, meskipun katanya berbeda, tetapi artinya tetap sama.

Doa permohonan “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” menimbulkan kesan bahwa Tuhan menuntun atau memasukkan kita ke dalam cobaan/ujian agar semakin tabah dan kuat. Pada hal yang dimaksud dengan “pencobaan” mengacu pada wilayah kekuatan jahat yang menakutkan dan mematikan. Maka terjemahan yang lebih cocok, “janganlah membiarkan kami masuk ke dalam pencobaan,” masuk ke dalam wilayah kekuatan jahat. Karena itulah Penginjil Matius tegas-tegas menambahkan penjelasan, “tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”

Doksologi atau “pujian kepada Allah” sebagai penutup doa hanya tertemukan dalam Injil Matius (Mat 6:13b) dan itu pun tertulis dengan tanda kurung: [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin]. Doksologi yang lebih pendek tertemukan dalam doa Bapa Kami versi Didache: “Sebab milik-Mulah kuasa dan kemuliaan selama-lamanya.

Penginjil Lukas tidak mencantumkan doksologi. Dalam perjalanan panjang penerjemahan Kitab Suci pun doksologi di Injil Matius kadang tercantum (seperti terjemahan bahasa Indonesia terbitan LAI), tetapi juga tidak (terjemahan bahasa Latin Vulgata oleh St. Hieronimus dan NIV-New International Version). Karena itu kenyataan bahwa Injil Lukas dan beberapa terjemahan Injil Matius tidak mencantumkan doksologi, maka meneguhkan keyakinan bahwa doksologi itu ditambahkan atau tidak asli dari Yesus, sehingga di Kitab Suci tertulis dalam tanda kurung.

Baca juga  Berdoa: Relasi Intim Kepada Allah & Sesama

Meskipun demikian, jika Yesus tidak membuat doksologi di akhir doa-Nya, bukan otomatis berarti bahwa Ia tidak menghendaki adanya doksologi. Kemungkinan besar Ia berharap bahwa murid-murid-Nya menutup sendiri doanya dengan doksologi. Sebab bagi orang-orang Yahudi semua doa harus selalu diakhiri dengan sesuatu yang baik, dan itu berarti suatu pujian kepada Allah atau doksologi. Dengan latar belakang kebiasaan doa-doa Yahudi seperti ini dapat diduga Yesus pun menghendaki agar doa Bapa Kami diakhiri dengan doksologi, karena doa menjadi tidak lengkap tanpa doksologi.

Doanya sendiri dapat dimaknai: “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Doa permohonan ini tertuju kepada Allah demi kekudusan dan kemuliaan-Nya. Doa ini mendahului permohonan demi mencukupi kebutuhan pokok untuk hidup kita, karena mau menempatkan Allah dan kehendak-Nya menjadi yang utama. Dengan kata lain doa permohonan demi kepentingan diri kita tidak boleh membelokkan kehendak Allah agar sesuai kemauan kita, tetapi menyelaraskan keinginan kita dengan kehendak Allah.

Di atas dasar terjadilah kehendak Allah itu kita mohon: “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membiarkan kami masuk ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Doa permohonan ini menyangkut tiga kebutuhan pokok, dalam tiga periode waktu kehidupan dan tertuju kepada Allah Tritunggal. Permohonan pertama terkait masa sekarang untuk makanan yang menjadi kebutuhan pokok kita demi mempertahankan hidup. Permohonan kedua terkait masa lalu untuk pengampunan atas kesalahan/dosa yang telah kita lakukan. Permohonan ketiga terkait masa depan untuk perlindungan dari pencobaan kuasa jahat yang siap menghadang perjalanan hidup kita.

Ketiga permohonan ini mengajari kita untuk menaruh semua kebutuhan pokok dan seluruh periode waktu hidup kita ke hadapan Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Sebab permohonan makanan untuk mempertahankan hidup mengarahkan kita pada Allah Bapa, Pencipta dan Pemelihara alam semesta beserta segala makhluk ciptaan-Nya. Permohonan pengampunan mengarahkan kita pada Allah Putera, Juruselamat dan Penebus dosa kita. Permohonan perlindungan dari kuasa jahat mengarahkan kita pada Allah Roh Kudus, Penghibur, Penguat, Penerang dan Pembimbing.

 

(RP. Surip Stanislaus OFM Cap)

 

Facebook Comments

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply