Aktivis Sri Lanka Desak Pemerintah Usut Tuntas Pembunuhan Pastor Katolik

Pastor Alfred Bernard Costa (foto: Facebook St. Gereja St.Yoseph Thilanduwa)

Oleh Reporter UCA NEWS

KOLOMBO, KOMPAS.com — Aktivis hak asasi manusia di Sri Lanka meluncurkan kampanye media sosial yang mendesak pemerintah mempercepat penyelidikan atas pembunuhan seorang pastor Katolik yang hingga kini belum terungkap, meski kasus itu telah berlangsung selama 25 tahun.

Pastor Alfred Bernard Costa, yang dikenal sebagai Pastor Aba Costa, ditemukan tewas dengan lebih dari 20 luka tusuk di rumah misinya di Thillanduwa, Negombo, sekitar 40 kilometer di utara ibu kota Kolombo, pada 11 Mei 2001.

Dalam kampanye yang diluncurkan bertepatan dengan peringatan kematiannya, para aktivis menilai aparat gagal membawa pelaku ke pengadilan meski penyelidikan telah dilakukan di bawah sejumlah pemerintahan selama lebih dari dua dekade.

Pastor Costa dikenal luas sebagai tokoh gereja yang vokal menentang korupsi, kekerasan, dan perdagangan narkotika di wilayah Negombo. Menurut aktivis dan sumber gereja, ia kerap mengkritik politisi yang diduga memiliki hubungan dengan jaringan pengedar narkoba.

“Dia berbicara secara terbuka melawan perdagangan narkoba di Negombo melalui khotbah, tulisan, dan aktivitas publiknya, sekaligus menantang para politisi yang diduga terkait dengan para bandar narkoba,” tulis aktivis Nirmal Weerasinghe dalam unggahan media sosialnya.

Aktivis lainnya, Niranjan Fernando, menyebut sejumlah politisi pernah dikaitkan dengan kasus pembunuhan tersebut, tetapi tidak pernah ditangkap maupun diadili.

Sebaliknya, kata Fernando, aparat justru sempat menahan beberapa orang yang tidak terbukti terlibat sebelum akhirnya kasus terhadap mereka dihentikan karena minim bukti.

“Selama bertahun-tahun, pihak berwenang membiarkan pembunuhan ini tetap menjadi misteri yang belum terpecahkan. Pemerintah baru harus melanjutkan penyelidikan dan membawa pelaku sebenarnya ke pengadilan,” ujar Fernando kepada UCA News pada 12 Mei.

Para aktivis juga menuduh polisi pernah menahan seorang pria berusia 30 tahun selama 21 bulan tanpa bukti memadai dan menyiksanya demi menutupi pelaku utama.

Hingga kini, pihak kepolisian belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.

Pastor Costa berasal dari keluarga besar di Boralessa, Keuskupan Chilaw. Ia kemudian bergabung dengan Keuskupan Agung Kolombo dan ditahbiskan sebagai imam pada 1958.

Kelompok hak asasi manusia menilai pembunuhan Pastor Costa mencerminkan pola panjang kasus kekerasan terhadap rohaniwan, jurnalis, dan aktivis di Sri Lanka yang tidak pernah terselesaikan, terutama pada masa gejolak politik.

Beberapa kasus lain yang hingga kini belum terungkap antara lain pembunuhan Pastor Srilal Amarathunga pada 1990 di Paroki Kongodamulla, Kolombo, serta Pastor Michael Rodrigo.

Pastor Rodrigo ditembak mati saat memimpin misa setelah aktif membela para petani dan mengkritik kerusakan lingkungan akibat industri gula.

Selain itu, jurnalis sekaligus pemimpin redaksi Sunday Leader, Lasantha Wickrematunge, juga dibunuh di dekat pos pemeriksaan keamanan pada 2009. Kasus tersebut menjadi salah satu pembunuhan paling mendapat sorotan internasional di Sri Lanka.

Para aktivis menilai banyak kasus serupa tetap mandek meski pemerintah silih berganti menjanjikan keadilan. Mereka kini berharap pemerintahan baru yang dipimpin Presiden Anura Kumara Dissanayake sejak September 2024 dapat membuka kembali penyelidikan dan menuntaskan kasus-kasus lama yang belum terpecahkan.(UCA NEWS, 13 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com