41 Tahun Menjemaat” sebagai Sarana Kerygma Keuskupan Agung Medan

706 total views, 9 views today

Kerygma dapat terlaksana dalam bentuk lisan (pengajaran, kotbah) dan cetak (katekismus, majalah). Kedua bentuk kerygma ini dapat disebarluaskan melalui media sosial seperti elektronik (radio, televisi), digital (blog, situs, video youtube, whatsapp, facebook).

Sampai saat ini kerygma (pewartaan, penyebarluasan, dan pengajaran ima kekatolikan) di KAM dikemas dalam bentuk cetak (majalah Menjemaat) dan pengajaran, pelatihan dan pendalaman oleh komisi-komisi KAM di paroki-paroki. Cara ini telah berjalan sejak berdirinya KAM hingga sekarang dan sebelum media digital muncul dan merambat dengan dahsyat tak terbendung.

Perbandingan Pelanggan Majalah Menjemaat di Keuskupan Agung Medan

Menjemaat KAM sebagai media cetak sudah berusia 41 tahun pada tahun 2019. Berdasarkan data dari bagian distribusi Menjemaat, jumlah pelanggan Menjemaat hingga tahun 2019 ada sebanyak 3.493 (2.493 pelanggan dari paroki) dan 1000 pelanggan pribadi (termasuk pastoran, susteran, frateran, bruderan, postulat, novisiat, dan calon-calon imam di rumah-rumah pendidikan). Sementara itu, umat Katolik di KAM diperkirakan berjumlah sekitar 91.000 kepala keluarga. Jika pelanggan dari paroki yang berjumlah 2.493 (3%) dihitung sebagai kepala keluarga, maka sebanyak 88.507 (97%) keluarga Katolik di KAM belum berlangganan Menjemat. Jumlah pelanggan Menjemaat ini amat sangat rendah dibandingkan dengan umat (keluarga) yang belum berlanggan, apalagi Menjemaat sudah berusia 41 tahun.

Tiga pelanggan terbanyak dari paroki adalah Tebingtinggi (152), Lubuk Pakam (140), Aek Kanopan (106). Tiga paroki dengan jumlah umat terbanyak tetapi pelanggan Menjemaat masih sedikit adalah Pangururan (umat 32.995, pelanggan Menjemaat 70), Jl. Bali Pematangsiantar (umat 24.963, pelanggan 60), dan Delitua (umat 23.701, pelanggan 59).  Di antara 63 paroki di KAM terdapat 10 paroki di mana belum ada pelanggan Menjemaat.

Selama tiga tahun terakhir dan dua tahun ke depan, KAM sedang gesit-gesitnya mengeksekusi lima prioritas pastoral KAM tahun 2017-2021 yakni keluarga berdoa (2017), keluarga rukun (2018), keluarga memasyarakat (2019), keluarga sejahtera (2020), dan keluarga sumber panggilan (2021). Fokus program pastoral ini adalah keluarga yang adalah gereja kecil.

Baca juga  Peran Orangtua dalam Keluarga?

Informasi atas dan penyebar-luasan tiga prioritas pastoral KAM yang telah terlaksana (2017-2019) disalurkan melalui media cetak Menjemaat yang tentu saja sangat sedikit menggapai umat Katolik di KAM sebab pelanggannya hanya 3.493. Hal yang sama tampaknya akan terjadi dengan kedua prioritas pastoral terakhir (2020 dan 2021). Saya belum mengetahui sejauh mana indikator-indikator keberhasilan strategis telah tercapai untuk mencapai tujuan-tujuan strategis dari tiga prioritas pastoral pertama. Sayang sekali bahwa hasil godokan Sinode VI KAM dengan prioritas pastoralnya yang sangat berharga hanya diakses oleh segelintir umat.

Mengapa umat Katolik KAM enggan atau tak tertarik menjadi pelanggan Menjemaat, padahal majalah itulah satu-satunya sarana cetak kekatolikan KAM? Di antara banyak faktor penyebab, mungkin salah satu adalah pastor paroki kurang gencar mempromosikan Menjemaat kepada umat Katolik di parokinya. Asumsi ini didukung oleh fakta bahwa terdapat 10 paroki di mana tak seorang pun di antara umat Katolik menjadi pelanggan Menjemaat. Karena itu hendaknya para pastor paroki mendorong umat di parokinya untuk berlangganan Menjemaat. Kita berharap jumlah pelanggan Menjemaat akan bertambah drastis pada tahun 2020.

Mungkin ada di antara kita yang mengajukan pertanyaan berikut, “Apakah masih pas dan tepat guna berbicara tentang peningkatan jumlah pelanggan media cetak Menjemaat di era digital? Tidakkah isi Menjemaat dan pewartaan iman lainnya sudah semestinya disebar-luaskan dengan memanfaatkan sarana digital? Gaya tradisional (mengumpulkan dewan-dewan stasi di paroki untuk pelatihan, pengembangan, dan kegiatan katekese) memakan waktu lama (satu dua hari) dan biaya yang mahal (akomodasi, pangan, dan biaya perjalanan). Hal ini tentu saja semakin sulit diteruskan, sebab hampir setiap orang memiliki sarana digital (android). Dalam kegiatan-kegiatan tradisional yang disebutkan di atas, peserta pun selalu mencari waktu untuk membuka androidnya dan hanyut menikmati apa yang diaksesnya di sana.” Pertanyaan dan pernyataan ini masih dapat dilanjutkan dengan pertanyaan lainnya, “Apakah memang umat Katolik yang belum berlangganan Menjemaat menginginkan Menjemaat dan pewartaan iman lainnya secara digital?” Bila hal ini benar, maka inilah barangkali alasan mengapa tidak ada pelanggan Menjemaat di 10 paroki (termasuk di dalamnya paroki yang ada di Kota Medan). Mungkin ada pula yang menduga bahwa Menjemaat sebagai media cetak akan punah dalam waktu 5-10 tahun sebab media digital sangat cepat berkembang dan tak terbendung, serta dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Baca juga  Peran Orangtua dalam Keluarga?

Menurut saya, jawaban atas pertanyaan di atas bukan peralihan dari media cetak ke media digital, melain pemanfaatan baik media cetak maupun media digital. Sementara kita mempersiapkan diri untuk menggunakan sarana digital, mari tetap meneruskan media cetak Menjemaat dan gencar mempromosikannya kepada umat Katolik lainnya.

Karena itu, kerygma melalui media digital sudah saatnya dimulai. Bila kita ingin menyebar-luaskan iman Katolik yang sehat dan benar yang dapat diakses oleh siapa saja (Katolik dan bukan Katolik), kita mesti mulai menciptakan materi katese atau pengajaran iman kekatolikan secara digital dalam bentuk video youtube. Kemasan video youtube itu pun harus menarik dan menyenangkan agar diminati dan diakses orang. Tugas dan tanggung jawab berat dan mulia ini tentu saja jatuh menyimpa pundak komisi-komisi KAM. Namun sementara hal ini masih dalam proses, mari mempromosikan Menjemaat agar semakin menjemaat.

 

KERYGMA & MENJEMAAT KAM BAGIAN 2

Penulis:

RP. Ivo Simanullang OFM Cap (Direktur STFT Pematangsiantar)

artikel ini sebelumnya dimuat di majalah Menjemaat edisi Januari 2020

Facebook Comments

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply