BERTOBAT DAN PERCAYA KEPADA INJIL

14,830 total views, 2 views today

RP. Hubertus Agustus Lidy OSC.

(Kej 9:8 – 15, I Ptr 3:18 – 22, Mrk 1:12-15)

Masa Pra Paskah atau masa Puasa, bagi orang Kristen merupakan saat memasuki padang gurun kehidupan. Kita menimba pengalaman Yesus di Padang Gurun selama 40 hari. Ia berdoa dan berefleksi sebelum menjalankan karya besar Allah: Memberitakan Injil Allah, melalui: kata-kata, perbuatan dan kehidupannya sehari-hari. Dalam masa khusus ini, setan mencari peluang menggoda-Nya. Sudah dipastikan setan tidak mungkin berhasil membuali Yesus.

Selama lebih kurang 40 hari gereja (kita) secara sadar, ingin mengalami dan menghayati peristiwa Yesus dipadang gurun itu. Kita melintasi padang gurun kehidupan masing-masing dengan menfokuskan diri pada doa, puasa/pantang dan karitatis (Derma dan Bakti). Mengapa hal-hal itu penting? Kita sebagai bagian dari ciptaan Tuhan, mustahil kita terlepas atau terbebas dari relasi-relasi, dengan Tuhan sebagai pencipta, diri sebagai subyek ciptaan dan sesamabersama alam ciptaan yang ada sebagai bagian dari ciptaan. Masa Puasa bagi kita merupakan momentum membaharui relasi itu, sembari menyambut paskah kristus.

DOA: kita membaharui relasi dan komunikasi dengan Tuhan. Biarlah Tuhan bersabda dan kita mendengarkan sambil melihat titik-titik lemah dalam kehidupan kita dan membaharuinya. Iblis: malas, merasa diri sempurna, tak punya waktu dan kesempatan, sibuk dan seribu satu macam alasan akan menggoda komitmen dan keseriusan kita masing-masing dalam membina relasi yang intens dengan Tuhan.

Puasa/Pantang:  Kita membaharui relasi kita dengan diri sendiri atau dengan hidup ini. Kita menata kembali agar hidup sehat dan terarah kepada kebaikan. Iblis: rakus, egoismen, mentalitas glamour/hedonis, pesimis dan merasa diri tak berguna akan selalu menggoda kita dalam waktu-waktu ini.

 Karitatis (Derma dan Bakti) Kita menata dan membaharui kembali relasi kita dengan sesame (Universal) Secara nyata dengan menyedekahi apa kita miliki secara sadar, agar dimanfaatkan untuk kesejahteraan orang banyak. Kita juga dengan sengaja  keluar dari lingkaran kehidupan kelompok kita, lalu membaur bersama orang-orang lain membaktikan/membantu orang lain berkaitan dengan kepentingan umum yang lebih luas. Iblis: Kikir, cari untung gede, merasa diri paling susah sedunia sebagai dalih tak menyumbang, sombong, akan selalu menggoda sehingga kita tidak melaksaanakan niat baik itu. 

Kasih dan pengorbanan diri merupakan bagian hakiki dalam masa puasa ini, agar Tuhan dimuliakan melalui kebaikan (termasuk alam dan lingkungan hidup) dan menjadi bagian dari kehidupan kita.

Kita menjalankan aspek-aspek tersebut dengan kehendak bebas dan bertanggung jawab, sebagai bentuk syukur. Tuhan berjanji untuk senantiasa menngasihi manusia. “Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi dan tidak akan lagi air bah untuk memusnahkan bumi.” Komitmen Allah jelas, tetapi hanya karena kerakusan dan kesombongan manusia, maka kadang manusia masih menanggung resiko-resiko yang tak perlu. Petrus dalam suratnya, mengatakan bahwa tanggung jawab iman terhadap Tuhan, diri, dan sesama sebagai komitmen akan Babtisan Tuhan yang kita terima. Kita    bukan saja membersihkan kenajisan jasmani, tetapi juga memohon agar Tuhan membersihkan nurani kita. Nurani yang baik dari setiap pribadi, berdampak baik secara luas bagi sesama.

Mari kita mengiringi perjalanan Salib Tuhan dengan kasih (AMOR) dan pembaharun (CONVERTEI) untuk menikmati rakhmat kebangkitan-Nya.  kita mau mengikuti Tuhan secara utuh dan lengkap. Pengorbanan dan kebangkitan. “Waktunya telah genap; kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Hari Minggu I Pra Paskah – 2021)

Facebook Comments
Baca juga  BACAAN INJIL, JUMAT 25 SEPTEMBER 2020

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply