MPK KAM Gelar Workshop Kurikulum Merdeka Belajar

 228,245 total views,  626 views today

Ketua MPK KAM RP Chrispinus Silalahi, OFM.Cap membuka Workshop kepala-kepala Sekolah dan Tim Pengembang Kurikulum tingkat SMA dan SMK Sekeuskupan Agung Medan dan Keuskupan Sibolga, Kamis 26-30  Mei 2022 di Hotel Niagara Parapat.

Kegiatan diikuti 162 orang peserta yang dipandu Drs Heribertus SAS, M.Pd dan R. Hendy Kiawan SS, S.T.B, M.Hum dari Yayasan Pangudi Luhur Semarang.

Dalam sambutannya Pastor Silalahi menjelaskan bahwa tujuan workshop ini adalah mendesain Kurikulum Merdeka yang kontekstual. Diakui banyak hal dalam kurikulum ini belum dibarengi kejelasan informasi dan belum ada pembinaan lanjut secara masif. Atas dasar itu MPK KAM memberi pelatihan kepada kepala-kepala sekolah dan Tim Pengembang Kurikulum tingkat SMA dan SMK.

Di dalam desain kurikulum yang akan dielaborasi diharapkan tertuang ‘core values’ setiap yayasan yakni: visi, misi, pelindung, kekhasan, dan keunggulan masing-masing. Kurikulum Merdeka memiliki esensi merdeka belajar. Siswa bisa mendalami minat dan bakatnya. Peserta didik tidak boleh dipaksa mendalami sesuatu yang tidak menjadi bakat serta minatnya.

Menurut R. Hendy Kiawan ciri khas Kurikulum Merdeka Belajar adalah penekanan pada afeksi (kecerdasan emosional). Tidak lagi pada penonjolan kecerdasan intelektual, tetapi fokus pada pembentukan karakter, membangun kepribadian secara holistik, bukan semata-mata menjadikan peserta didik menjadi ilmuwan.

“Hantarlah kami masuk ke dalam ruang-ruang itu untuk melihat, menekuni, dan memiliki Kurikulum Merdeka itu”, harap Ketua MPK KAM ini kepada kedua narasumber. “Semua kita belajar, menjadi komunitas pembelajar, dan sama-sama mencari  jalan keluar, dan saling mengisi”, ujar Heribertus sebagai narasumber. “Penting membaca dokumen sebagai landasan hukum sekaligus melihat celah-celah hukum yang bisa kita masuki”, tandas beliau.

Baca juga  Guru Agama Katolik Dolok Sanggul Semakin Terampil dan Berkarakter

Karakteristik utama Kurikulum Merdeka Belajar ada tiga yakni, (1) Fokus pada materi essensial. Guru mempunyai cukup waktu untuk metode pembelajaran interaktif dan kolaboratif; (2) Struktur Kurikulum lebih fleksibel; (3) dan tersedia banyak perangkat ajar mulai dari modul ajar sampai dengan assesmen literasi dan numerasi.

Sistem belajar berbasis proyek untuk mengembangkan soft skills dan karakter siswa yang sesuai dengan dasar negara yaitu Pancasila. Fokus pada sistem pembelajaran melalui kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Dengan demikian guru lebih fleksibel dan bisa menyesuaikan kemampuan siswa dengan konteks muatan lokal. (Dobes Tamba)

Facebook Comments

Leave a Reply