Waktu Tuhan Pasti Yang Terbaik

 6,769 total views,  2 views today

Mudik adalah sukacita terbaik seorang anak rantau. Di suatu sudut kapal, seorang wanita hendak memandang pesona Danau Toba saat perjalanan pulang kampung. Mengenakan jaket biru kesukaannya membuat kulitnya terlindungi dari hembusan angin yang cukup kuat. Rambutnya seakan berkibar seolah menunjukkan sukacitanya di kala itu. Selama tiga setengah tahun dia merantau, namun mudik kali ini adalah yang paling berkesan dari tahun sebelumnya. Dia termenung mengingat kisah perjalannya yang begitu unik menurutnya. Sosok wanita itu bernama Veronika Situmorang yang berasal dari Samosir.  

Ketika awal merantau pada tahun 2017, ia begitu yakin bahwa keputusannya untuk melanjutkan pendidikan pasti akan terwujud. Sang ibu yang merupakan orang tua Veronika Situmorang benar-benar kurang menyetujui niat putrinya itu. Bagaimana tidak, kodisi keuangan keluarga Veronika Situmorang memang benar-benar kurang mendukung dia untuk kuliah. Ayahnya juga telah meninggal sejak lima tahun yang lalu. Ditambah lagi, empat orang adiknya masih sekolah.

Meskipun berbagai gejolak diperhadapkan dengan sosok wanita ini, dia tetap optimis untuk melanjutkan pendidikannya tanpa membuat ibu terbeban. “Aku pasti bisa kuliah dengan beasiswa dan sambil bekerja,” gumamnya selalu di hati kecilnya. Setelah beberapa waktu di Medan, ia mencoba masuk perguruan tinggi melalui SBMPTN. Namun hasilnya nihil seperti saat dia mencoba SNMPTN alias kalah. Sementara teman-temannya yang lain dinyatakan lulus.

Tak bisa berkata apa-apa selain menangis. Demikian suasana yang dialaminya pada saat itu. Sang Ibu meneleponnya dari kampung dan mengatakan mungkin memang belum rejeki mu. Sang ibu kembali menganjurkannya untuk bekerja. Dia terdiam dan pasti akan mencoba kembali tahun 2018. Akhirnya setelah beberapa minggu mencari pekerjaan, ia diterima di salah satu toko bangunan menjadi karyawan bagian kasir.

Selama bekerja, banyak teman-teman sekolahnya dulu yang tau keberadaannya. Bahkan ada beberapa orang yang berkata, mungkin dulunya dia adalah juara umum yang asal dibuat saja. Mendengar ungkapan-ungkapan tidak enak tentang dirinya, dia hanya bisa bersabar dan selalu berdoa. Dia yang bercita-cita menjadi seorang Auditor begitu yakin bahwa tahun 2018  dia pasti bisa kuliah.

Melihat kegigihannya yang selalu membawa buku saat bekerja, membuat pemilik toko benar-benar penasaran dan akhirnya bertanya siapa karyawan barunya itu sebenarnya. Mendengar cerita gadis tersebut, bukannya mendukung malah seperti menjatuhkan. “Nasib itu telah digariskan Sang Pencipta. Memang takdir mu mungkin tidak berkuliah, lebih baik kamu bekerja.” Mendengar ungkapan itu, hatinya laksana tersayat sembilu.

Dia pura-pura pergi ke kamar mandi setelah mereka bercerita. Menangis dengan sejadi-jadinya demikian aksinya di kamar mandi. Supaya tidak ketahuan, dia berpura-pura mencuci muka. Dengan professional dia kembali melayani pelanggan seolah seperti biasanya. Namun dia tidak pernah jera dan selalu membawa buku materi dan soal-soal SBMPTN untuk tahun 2018.

Hari berganti hari, dia selalu bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Tidak terasa SBMPTN akan di buka kembali. Dengan persiapan yang dilakukan selama kurang lebih setahun, dia kembali meyainkan dirinya bahwa dia pasti bisa. Sebulan sebelum SBMPTN 2018 dia memutuskan untuk berhenti bekerja. Tujuannya berhenti bekerja adalah agar ia lebih intensif lagi saat belajar. Selama ini dia membuka buku soal-soal SBMPTN saat waktu luang di tempat pekerjaan dan malam hari. Dia ingin lebih fokus lagi di dalam satu bulan ini.

Saat dia memberi info kepada sang ibu bahwa dia telah berhenti bekerja, sang ibu bena-benar marah. “Terlalu tinggi kamu bermimpi. Jangan berharap apa-apa dari ku jika kamu ingin berkuliah.” Tegas sang ibu sambil mematikan telepon. Mendengar ungkapan sang ibu, Vero benar-benar menangis terisak. Dia kembali meyakinkan dirinya yang hampir ragu karena ungkapan ibu.

Saat pengumuman SBMPTN 2018, ia kembali mendapati dirinya kalah. Ia takut memberitahukannya kepada ibu. Ia benar-benar tidak menyangka semua ini. pekerjaannya telah ditinggalkan karena ingin fokus SBMPTN, namun ia kalah juga. Meskipun ada rasa sedih yang begitu menyelimuti hatinya, dia merasa hati kecilnya berkata bahwa ada yang lebih baik lagi baginya meskipun tidak kuliah di Universitas Negeri. Ia bingung dengan perasaannya tersebut.

Di suatu hari minggu setelah pengumuman SBMPTN, dia beribadah ke gerejanya di Medan. Dia menuangkan isi hatinya saat berdoa. Air matanya berurai membasahi pipi mungilnya. Setelah selesai ibadah, dia ingin pulang ke kos. Tiba-tiba pimpinan gereja yang disebut sebagai Pendeta mengajak dia berbincang. Inti dari pembicaraan mereka adalah bahwa bapak Pendeta memberikan saran kepada Vero utuk berkuliah di suatu Universitas Swasta di Medan dengan beasiswa.

Wajah gadis itu kembali berseri dan mencoba saran dari bapak Pendeta tersebut. Proses demi proses dilaluinya, akhirnya ia dinyatakan kuliah dengan jurusan Akuntansi di Universitas Katolik Santo Thomas jalur beasiswa full sampai tamat yakni beasiswa Bidikmisi. Dengan mengetahui kemenangan tersebut, dia menangis bahagia dan hatinya limpah dengan syukur kepada Tuhan. Dia segera mengabari sang ibu di kampung melalui telepon. Sang ibu menangis karena terharu dan meminta maaf karena telah ragu terhadap Kuasa Tuhan selama ini.

Setelah berkuliah di universitas yang dulunya tidak terlalu diinginkan karena merupakan swasta, namanya cukup terkenal di fakultas Ekonomi karena bakat dan kemampuan akademiknya yang lumayan bisa di kampus. Berbagai kegiatan fakultas sering melibatkan dia. Selain itu, di Unika Santo Thomas dia mendapati  Dosen dan teman-teman yang begitu baik.

Dia juga belajar di Unika Santo Thomas mengenai kedisiplinan. Ternyata umat Katolik berpegang teguh terhadap kedisiplinan yang erat di dalam segala hal. Terkhusus di dalam hal memuji Tuhan. Beberapa kegiatan katolik di kampus seperti Misa setiap hari Jumat dan Doa Angelus setiap hari juga sering di ikutinya. Banyak hal baik dan benar diperolehnya setelah mengikuti kegiatan itu. Bahkan dia sampai menerapkan hal tersebut di gerejanya Protestan. “Ternyata, kesatuan umat-umat Tuhan menghadirkan banyak hikmat,” sering menjdi gumam di hatinya. Dia juga tersadar akan hati kecinya dulu, bahwa kampus inilah yang terbaik buat dia. Banyak anugerah yang didapat olehnya selama kuliah di Unika Santo Thomas.

Disamping berkuliah, dia juga mengajar les private anak SD di Medan. Saat ini dia telah duduk di semester enam. Dia tidak ingin ibunya di kampung benar-benar tidak terbeban. Meskipun setiap hari dirinya selalu dipenuhi kelelahan, hal tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk meraih mimpinya yang ingin menjadi seorang Auditor.

Si gadis berjaket biru yang duduk di sudut kapal itu benar-benar tidak menyangka bahwa proses Tuhan benar-benar luar biasa di hidupnya. Proses itu memang kadang rumit bahkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa hal yang dipahaminya sampai sejauh ini adalah di saat telah berdoa dan berusaha maka keyakinan atau iman akan bertumbuh. Keyakinan atau iman tersebut akan menjadi nyata disaat kesabaran benar-benar menjadi senjata utama di dalam menghadapi semua musim. Waktu Tuhan pasti yang terbaik sekalipun kadang tak mudah di mengerti. 

 

Facebook Comments
Baca juga  TERNYATA…

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply