Menghadap Pimpinan dan ditahbiskan menjadi Imam OSC.

 7,925 total views,  2 views today

Menjelang Merayakan 25 Tahun Imamat dengan berbagai kisah, Siapa tahu menginspirasi kawula muda.

Menghadap Pimpinan

Saat itu akhir-akhir Desember 1995. Sekitar, jam 7 malam aku bertolak menuju kota Agats, dengan menumpang sampan yang dikayuh oleh 3 pemuda setempat. Terang bulan dan suara hewan-hewan hutan terdengar sepanjang perjalanan kami, menyusuri Sungai Unir, yang lebar, rada angker itu. Esok paginya, kami tiba di muara sungai. Istirahat, sarapan seadanya (kopi dan beberapa potong sagu bakar) lalu melanjutkan perjalanan dengan mengikuti arah arus air naik, menyusuri Sungai Asewet. Sore-malam hari tiba di Biara Agats.

Aku memang sedang menjalankan Program Tahun Diakonat sekaligus Bina Budaya di Kampung Jipawer. Sebuah kampung yang tidak terlalu besar, dengan jumlah penduduknya kurang lebih 2.000 jiwa. Terbagi dalam 4 Desa, sesuai dengan jumlah Fam (marga) yang ada. Saat itu masih menjadi bagian dari pemerintahan Kecamatan Sawa-Erma- Kabupaten Merauke. Jarak tempuh,dengan Speed boat yang berkekuatan 40 PK dari Agats ke Jipawer kira-kira 3 jam.

Tiba di biara Agats, setelah mengurus hal-hal yang perlu untuk perjalanan pulang ke tiga pemuda itu, aku langsung istirahat. Tentu ngantuk, lelah, karena sepanjang malam dan siang harinya duduk di sampan itu. Keesokan harinya setelah sarapan, Pater Virgil Petemeir OSC, pimpinan biara sekaligus formator, meminta aku agar menghadapnya, di ruangan kerjanya. Dug…. Dag… dan takut-takut, apa gerangan yang terjadi dengan diriku ini?

Basa-basi sejenak, lalu: “Hubert, surat yang kau ajukan ke Magister General OSC, Mgr. Rein Van Hold OSC di Roma, agar ditahbiskan menjadi imam dalam ORDO SALIB SUCI telah disetujui. Kami bersama dengan Pastor Glen Lewandoski OSC sebagai Prior Pro Propinsi Wahyu Salib- Papua sudah mengajukan hal ini ke Uskup Keuskupan Agats Mgr. Alfons Sowada OSC dan beliau juga setuju. Dia merencanakan akan menahbiskanmu pada salah satu hari, dalam Minggu I (Pertama) oktaf Paskah, tahun depan. Entahlah tanggal 9 atau 10 April 1996, nanti kami akan pastikan lagi.” Ia menganjurkan agar aku memikirkan dan mengurus sebuah retret menjelang tahbisan, dan menghadap Uskup untuk mengurus beberapa hal menyangkut kelayakan tahbisan imam. Juga mengabarkan berita ini kepada keluarga di Maumere.

Saat diminta Pater Virgil agar memberikan tanggapan balik atas berita yang disampaikan, aku seakan tak sanggup berkata-kata. Hanyalah kata terimakasih dan berjanji sedapat mungkin tidak mengecewakan ORDO. Tanpa aku sadari air mata terharu dan syukur mengalir, membasahi pipiku yang kurus saat itu. Perjuangan, jerih payah, kelelahan mental dan fisik seakan menjadi plong.

Saat makan siang, Pater Virgil sebagai Pimpinan rumah mengumumkan berita dari Magister General OSC kepada penghuni biara. Tepuk tangan, doa, dan dukungan dari teman-teman membuat aku semakin yakin akan pilihan dan panggilan Tuhan ini. 

 Menjadi Sekretaris

Pertengahan Januari 1996, Panitia Pentahbisan Pastor Hubertus Lidi OSC, belum juga terbentuk. Tanggal tahbisan sudah dipastikan 10 April 1996. Tepatnya hari Kamis sesudah hari Minggu Paskah. Tidak tahu apa masalahnya? Rupa-rupanya, ada pada siapa yang harus mengambil insiatif dan mulai bergerak.

Atas ijin pimpinan biara, aku mengunjungi dan menghubungi beberapa tokoh umat Katolik di Agats, sembari mengundang mereka untuk berkumpul di biara. Pada hari yang ditentukan, berkumpulah beberapa dan ibu; seperti bapa Gedo, bapa Yos Ranolat, bapa Rino, bapaYuven Biakai, bapa Fabi Aling, dan bapa Erik sarkol. Ibu Minador, ibu Lin Kayep, ibu Karola, Suster Everista TMM dan Suster Emma OSU. Pater Virgil Petermeier OSC sebagai pimpinan biara juga hadir dalam pertemuan itu.

Spontanitas Panitia Pentabisan Pastor Hubertus Lidi OSC terbentuk. “Aku bagian Koor dan acara,” kata Pak Yos. “Aku bagian Pencarian Dana,” kata pak Rino. “Aku bagian Liturgi dan Dekorasi,” kata Pak Erik. “Kami ibu-ibu bagian Konsumsi,” kata Ibu Minador. Serentak mereka juga mendaulatkan bapa Gedo sebagai Ketua Panitia. (Bapa Gedo, orang dari Gehak-Koting, Maumere, yang ke Papua waktu itu Irian Barat sebagai guru Trikora) dan Suster Everista TMM sebagai bendahara. Selanjutnya bapa Gedo yang memimpin pertemuan tersebut. Persoalannya belum ada Sekretaris, minimal untuk mencatat hasil pembicaraan. “ Biar saya saja yang sekretaris!” Jadilah saya sebagai sekretaris dari Panitia Pentahbisan Pastor Hubertus Lidi OSC, dan dibantu oleh Suster Emma OSU. Pertemuan sore hari itu berlangsung santai, dan ditutup dengan nasehat dari Pastor Virgil OSC, lalu ngopi bersama.

Saat Rapat Pemantapan Pesta Pentahbisan, menjelang hari H, kala si Sekretaris memasuki ruang rapat waktu itu di Soska- Agats, dia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahwa banyak orang yang hadir dalam rapat itu, juga utusan-utusan, dari Kecamatan Sawa-Erma, Atsy, Basim dan Kamur. Bapa Kasim sebagai sesepu dan tokoh masyarakat juga hadir bersama dengan kawan-kawannya dari pasar. (Bapa Kasim seorang tokoh umat muslim, yang dekat dan bersahabat dengan siapa saja) Singkat kata acara siap digelar dan semua pihak akan saling bahu-membahu. Aku teringat akan kata-kata Yesus. “Siapakah saudara dan saudari Ku? Mereka yang percaya akan penyelenggaraan Ilahi”.

Selesai rapat, bapa Kasim mendekatiku,sembari berbisik seloro: “Pak Prater (Frater), kita akan morning-morning sampai pagi.” Maksudnya kita akan pesta sampai pagi. 

Menemukan dan Merefleksikan Motto Tahbisan Imamat

Hari itu Rabu, minggu kedua dalam bulan Maret 1996. Sore hari usai perayaan Ekaristi lintas Komunitas di Biara Agats, saya beranjak ke rumah tamu keuskupan yang berada di samping rumah Uskup Agats.(Biara Agats, kantor keuskupan, rumah Uskup, dan rumah tamu keuskupan satu kompleks) Saatnya untuk menyepi dan merefleksikan keagungan Tuhan menjelang tahbisan imamat alias retret. Pastor Allo Setitit OSC yang didaulat Ordo dan Keuskupan agar membimbingku dalam retret persiapan pentahbisan imam. Waktu bermenung atau tafakur akan berlangsung sampai hari Minggu sore. Kurang lebih 5 hari.

Tema retret: PROSES MENJADI IMAM KRISTUS, dengan penekanan pada PROSES. Gagasan dan Proses retret yang diangkat oleh Master Liturgi keluaran Amerika itu, simpel dan sederhana. Beliau menekankan bahwa pada saat kita ditahbiskan oleh uskup, memang saat itu kita menjadi imam. Apakah saat itu kita langsung menjadi seorang imam yang sempurna? Tentu tidak. Justru pada saat itu kita mulai memproses diri sebagai imam Kristus. Proses itu akan berlangsung sampai saat kita masuk kubur. Jatuh, bangun, jatuh lagi, dan bangun lagi, dan seterusnya. Komitmen kita adalah selalu berjalan dengan Dia yang empunya IMAMAT ITU. Kita berjalan bersama dalam Kolegialitas Presbiteral dengan Uskup sebagai sesepuh dan bersama umat yang kita layani. “Nah disana Imamat kita bertumbuh dan berkembang,” tegas Pastor Allo OSC. Proses retret: Sore hari konfrensi selama 45 menit, selanjutnya refleksi dan permenungan.

Pada saat yang sama, pastor Allo OSC mengajak aku mencari kutipan, terutama dari teks Kitab Suci, sebagai penggerak dan motivator (motto tahbisan) dalam perjalanan sebagai imam. Jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah memikirkan akan mengambil inspirasi dari Surat Rasul Paulus kepada umat di Korintus. Pertimbangannya bahwa: Korintus itu kota Pelabuhan, berkumpul orang-orang dari berbagai pelosok, kelompok dengan pemikiran, dan latar belakang hidup, kebiasaan, dan berbagai cara kehidupan lain. Ditempat yang heterogen, majemuk itulah Paulus mewartakan Injil. Kemajemukan Korintus, ibarat kemajemukan gereja kita.

Pada saat retret aku lebih memfokuskan pada I Kor 1:10 – 17. Ayatnya terakhir yang ke 17, bagian terakhir. “SUPAYA SALIB KRISTUS JANGAN MENJADI SIA-SIA”,  saya pilih sebagai motto tahbisan. Harapanku sederhana , agar dalam tugas, peran, kehadiran baik dalam “komunitas” atau masyarakat yang lebih luas; dengan segala macam kesulitan dan tantangan saya berupaya maksimal: agar Salib Kristus jangan menjadi sia-sia. Jangan menjadi sia-sia bagi diri dan sesama. Sebagai biarawan OSC saya hendak menghayati Spiritualitas Salib Paulus ini dalam pengabdianku sebagai imam Kristus.

Rettret ditutup dengan Perayaan Ekaristi. Saya bersyukur dibimbing oleh Konfrater sendiri, banyak hal inspiratif yang beliau bagikan. Pater Allo memang professional dan banyak makan “asam garam” dalam rettret. Obrigado Padre Allo Setitit OSC.

Besok harinya saya bertemu Uskup Alfons Sowada OSC, untuk hal-hal yang berkaitan dengan Fakultas pelayanan Sakramen Tobat. 

Keluargaku dari Maumere tiba di Agats 

Seminggu sebelum Pekan Suci (Semana Santa) keluargaku dari Maumere-Flores tiba di Agats. Kedua orang tuaku, Saudariku, Paman, keluarga dari ibuku, keluarga dari bapa, dan kawan kerjanya bapa. Semuanya ada 7 orang. Mereka menumpang kapal laut Umsini dari Pelabuhan Larantuka, dan turun di Pelabuhan Pomako -Timika. Kemudian OSC Agats, menyewa sebuah Speed Boat yang lumayan besar, menjemput mereka di Pomako. Driver andalan kota Agats, saat itu, bapa Rahawarin suami dari ibu Lin Kayep,dialah yang menjemput dan menghantar keluargaku dari Timika ke Agats. Saat melihat tampang drivernya bapa Rahawarin, ada yang berkomentar: Kami langsung merasa tenang karena beliau seperti “Body Guard” rada angker, rambutnya yang panjang, dengan gaya ikat ekor kuda. Bajak laut tak berani mendekat kala melihat nya”. Mereka gembira dan menikmati perjalanan, yang lebih kurang 6 jam itu.

Tiba di Agats, mereka disambut dengan ramah dan gembira oleh para pastor, frater-frater, dan para postulant yang ada. Sukacita dan terheran-heran kala mereka menginjakkan kaki pertama kali di kota Agats, kota Sejuta papan. Kota yang seluruh aktifitas masyarakatnya berlangsung diantara langit dan bumi. Syukurlah sebelumnya saya sudah memberikan gambaran seperlunya tentang Agats. Selanjutnya mereka menempati dua rumah keuskupan, yang kebetulan waktu itu tidak ada penghuninya. Tentu kami sudah menyiapkan semua perlengkapan yang perlu. Keluarga sekitarnya, seperti :bapa Silubun, beberapa ibu dari “Muyu kecil”, dari kampung Syuru dan Panitia Pentahbisan menyumbangkan bahan-bahan makanan dan minuman misalnya Kopi, Gula, teh beras, sayur, ikan, dan kayu bakar. Mereka selalu merasa berkelimpahan selama di Agats. Hospitalitas dari orang-orang Agats waktu itu luar biasa.

Saat Pekan Suci, keluargaku dari Maumere, mendapat kesempatan merayakan ibadat dan Perayaan Ekaristi di paroki-paroki bersama para pastor OSC. Ibu dan saudariku merayakan Pekan Suci di Paroki Ayam, secara khusus stasi Pau, tempa saya menjalankan Tahun Orientasi Pastoral, bersamaku. Kala menyaksikan umat setempat yang merayakan hari-hari kudus dengan sukacita, lengkap dengan asessoris adatnya,sembari menari-nari, lompat-lompat serta pekikan-pekikan yang membahana. Nampaknya si, garang, galak dan tidak main-main. Ibuku berbisik, bertanya kepadaku: “apakah kau tidak takut?” Sekilas saya memperhatikannya, ibuku, nampaknya begitu ketakutan. Saya memeluk, menenangkannya, dan mengatakan bahwa tidak apa-apa itu tarian. Wajar karena ia tidak pernah mengalami model perayaan seperti itu. Saudariku nampaknya, menikmati perayaan itu.

Hari-hari sebelum mereka bertujuh berangkat ke Agats-Asmat, keluarga besar di Maumere telah mengadakan pertemuan dan mengatur beberapa hal meyangkut perjalanan mereka. Misalnya ongkos perjalanan, sumbangan untuk Panitia Pentahbisan, dan Perlengkapan imamat, untuk imam baru. Sebagai pemberian: mereka membawa 4 Kasula, (2 buah kasula yang seluruhnya dari bahan tenunan motif Maumere. Satu buah Kasula modifikasi -tenunan dan kain biasa, dan satu lagi kasula dari Kain Sutra pemberian dari Pater H Bollen SVD. Mereka juga membawa Piala dan perlengkapannya. Sebuah Piala yang terbuat dari Kayu Cendana yang harum mewangi, dan pada bagian lapisan atas sengaja dibalut dengan emas murni.

Mereka memberikan yang terbaik untuk Putra kesayangannya. Barang-barang yang berharga dan penuh kenangan itu beberapa tahun kemudian saat Biara kami terbakar, maka semuanya ikut terbakar. Barang-barangnya boleh terbakar tapi kasih yang tulus yang mereka berikan tak akan terbakar dan hilang ditelan waktu. Mereka bertujuh yang datang ke Agats waktu itu, tiga orang sudah berbahagia di Surga; Mama Susana sado, Paman Wilibordus Padeng, dan bapa guru Karinus) Kita saling mendoakan. 

Doa dan Adat mereka meneguhkankku kepada Gereja

Hari itu 9 April 1996, sore hari, langit kota Agats cerah. Di gereja Katedral dalam sebuah Perayaan Sabda, Keluargaku dari Maumere secara adat “meneguhkan” agar aku total dan serius mengabdikan diri untuk kepentingan Gereja. Mengapa mereka menggunakan istilah Ritus Peneguhan Keluarga? Seyogianya semenjak mengikrarkan Kaul Kekal dalam Ordo salib Suci, keluarga telah secara resmi menyerahkanku ke Ordo Salib Suci(OSC)

Sisi lain acara Peneguhan Adat dilaksanakan sehari menjelang tahbisan imam, dengan pertimbangan agar sesuatu yang berurusan dengan adat digelar tersendiri, biar lebih fokus. Tidak menjadi acara “selipan” dalam upacara tahbisan imam.

Umat yang hadir pada saat perayaan itu tidak banyak, muda-mudi, anggota panitia tahbisan, dan beberapa undangan. Pater Virgil Petermeier OSC yang memimpin perayaan tersebut dan saya mendampingi beliau.

Perayaannya sederhana; Lagu Pembuka, Tanda Salib dan Salam, Kata pengantar – Hening, Doa pembuka. Bacaan Liturgis – (Injil), Sebagai diakon saya membacakan Injil. Pater Virgi memberikan khotbah, lalu dilanjutkan dengan Ritus Peneguhan, Doa Bapa Kami, Doa Penutup, Berkhat dan Pengutusan, Lagu penutup.

Sesudah khotbah, Pater Virgil meminta aku berdiri di tengah (antara altar dan bangku umat), lalu keluarga dari Maumere berdiri mengelilingiku, (lengkap berpakaian adat), dan orang tuaku menyerahkan sebilah Parang,dan Tugal yang dibuat dari bambu sembari bapa guru Karinus melantunkan kata-kata adat dan nasehat, dalam bah Sikka-Flores. Secara keseluruhan saya kurang paham akan ungkapan tersebut karena yang digunakan bukan bahasa Sikka harian. Bahasa Sikka adalah bahasa daerahku. Lumayan panjang, lantunan adat itu,tapi intinya agar saya menjadi Pekerja Kebun Anggur Tuhan dengan teguh dan serius. Dan Tuhan (Deus-Deot, Ama lero wulan reta, Ina nian tanah wawa) Allah langit dan bumi menjaga dan melindungiku.

Pada prinsipnya keluarga mendukung penuh, secara simbolis dengan memberikan ‘alat’ kepada pekerjanya, (Parang dan Tugal) serta petuah-petuah. Isi petuah menekankan bahwa sifat-sifat dasar seperti sopan-santun, menghargai orang lain, rajin, dan hal-hal dasar kemanusiaan lainnya sudah ditanamkan melalui didikan keluarga. Mereka berpesan agar saya serius bekerja dan tidak boleh macam-macam. “Jangan membuat kami malu,” tegas keluarga yang diwakili oleh bapa guru Karinus. Lalu mereka masing-masing, meneguhkanku dengan memercikkan air kelapa muda kepadaku. Simbol: kesegaran, inspiratif, dan semangat. Usai acara peneguhan adat, dilanjutkan dengan latihan-latihan untuk acara tahbisan besok pagi. 

Imam pertama orang Flores dalam Ordo Salib Suci (OSC)

10 April 1996. Mentari pagi bersinar cerah, membersitkan kilau indahnya dari ujung Timur. Burung-burung bangau yang tersisah, terbang ria, melompat dari satu pohon, kelapa ke pohon kelapa yang lain di seputar Biara Salib Suci Agats. Bumi seakan bersukacita, dan langit bersuka ria.

Sejak pukul 6 pagi, sudah terdengar alunan irama tabuhan tifa, yang diiringi dengan lagu-lagu adat Asmat yang datang dari luar biara. Ternyata para penari adat dari kampung Syuru dengan dandanan heroiknya sudah “ready” di sepanjang jembatan , depan biara. Umat yang datang dari Ayam, Pau, dan Jipawer juga telah memadati jembatan di luar Biara menuju ke gereja Katerdal. Mereka datang dengan insiatif sendiri, menghadiri perayaan tahbisan imam. Saya agak tergelitik, kala mereka dengan polos mengatakan bahwa kami mendengar “Hubertus kurus” itu akan ditahbiskan menjadi imam, maka kami datang. Kami senang. Memang waktu itu saya kurus.

Tepat pukul 8.00 waktu setempat prosesi tahbisan bergerak dari Biara Salib Suci Agats, menuju gereja Katedral Agats. Para penari adat, dalam nada dan gerak, membuka jalan sembari menghantar semua yang berarak menuju Rumah Tuhan. Di belakang para penari, barisan para imam Konselebran, lalu keluarga dari Maumere yang mendampingi putranya, dan barisan yang paling belakang bapa Uskup Alfons Sowada OSC, dan dua imam pendamping, Pater Virgil Peter Meier OSC dan Pater Glen

Lewandowski OSC. Bergerak menuju Rumah Tuhan, gereja Katedral Salib Suci Agats, dengan sukacita.

Setelah para umat dan petugas-petugas liturgi, keluarga dari Maumere dan aku serta para undangan mengambil tempat duduk sesuai dengan yang disiapkan. Komentator mengajak umat yang hadir berdiri dan menyanyikan lagu Pembuka menyambut para imam dan Celebran utama bapa uskup Agats yang berarak menuju Altar Tuhan. Lagu yang dinyanyikan dari buku Mada Bakti yang dipandu oleh dirigen bapa Yos Ranolat. Umat yang hadir semuanya berpartisipasi bernyanyi secara baik. Dengan sengaja semua lagu dalam Perayaan Ekaristi itu baik “propium dan ordinarium”, diambil dari buku Mada Bakti. Koor mengambil bagian menyanyi, pada Persiapan Persembahan dan saat Pembagian Komunio.

Ritus tahbisan yang diawali dengan pemanggilan si calon, dengan penuh percaya diri saya menjawab HADIR dan tampil berdiri. Permohonan dari pimpinan Ordo kepada uskup, dan penegasan kelayakan. Dialog uskup dengan si calon, lagi-lagi dengan penuh percaya diri saya menjawab: SANGGUP atas pertanyaan uskup. Litani Para Kudus saat itu sengaja diramu dengan unsur adat Asmat. Dengan tabuhan Tifa yang mengalun syadu yang, mengiringi nyanyian memanggil para santo-santa dan leluhur Asmat agar mendoakan aku, mendoakan gereja, mendoakan alam semesta. Penumpangan tangan doa tahbisan, lalu bapa Abdon Simon dan saudariku Erna mengantarkan kasula dan perlengkapan misa. Uskup dan pastor pendamping membantu aku memakaikan kasula, penyerahan piala, roti dan anggur. Sesudah itu bapa uskup memperkenalkan imam baru kepada umat. Tepuk tangan meriah disertai dengan pekikan Asmat membahana menyambut sang imam. Aku berdiri seakan tidak yakin bahwa saat itu aku sudah resmi menjadi imam. Tercatat dalam sejarah hidupku, Hubertus kurus itu sebagai imam pertama dari Flores dalam Ordo salib Suci. Perayaan Ekaristi diakhiri dengan Berkat dan Pengutusan dari Bapa Uskup dan imam baru.

Sesudah Perayaan Ekaristi, dilanjutkan dengan acara Meja Berkat di Soska Agats. Disana para tamu undangan dan umat yang hadir menikmati kue-kue, kopi dan teh yang disiapkan oleh panitia pentahbisan serta didoakan dan diberkati olehku sebagai Imam Baru. Pada ksempatan yang sama saya didaulat untuk memotong Kue Tahbisan olahan “tangan dingin” ibu Minador dan kawan-kawannya.

Sukacita tahbisan dilanjutkan dengan makan malam di Biara, dengan para pastor, biarawan-wati, Keuskupan, para calon pastor frater-frater Tahun Rohani bersama para undangan lainnya. Hiburannya menjadi makin “heboh” karena diisi dengan kronik-kronik kocak dari para calon dan Frater Tahun Rohani Bosco Yamlean, Frans Guna, Anton Kabelen,Inno Retobian, Edo Pausta, Lukas Yaisy. Semua yang tersembunyi dikupas habis, dalam tayangan fragmen, drama dan puisi kreatif. Mereka rupanya diam-diam mengikuti kebiasaan harian ku. Lelah tapi mengasyikkan hari itu .( Bersambung: Perayaan Ekaristi Syukur dari Imam Baru)

Gaya berkat seperti orang belah kelapa.

11 April 1996. Lagi-lagi langit cerah, seperti hari kemarin. Cuaca seakan bersahabat. Tepat pukul 08.00 waktu setempat barisan para imam melangkah pelan dari Biara salib Suci Agats menuju gereja Katedral Agats. Penari Adat dari kampung Syuru, dalam nada dan gerak tari adat menghantar hamba-hamba Tuhan menuju bait-Nya yang kudus.

 Saat itu saya menempati posisi paling belakang dari barisan para iman sebagai celebran dengan pendamping Pater Petrus Go OSC (Pastor OSC pertama orang Papua.) dan Pater Allo Setitit. Dengan kemegahan Kasula tenunan Flores yang membalut-habis, sang pemilik raga yang kurus. Aku berlangkah maju menuju Tuhan sebagai imam-Nya, bersama rekan-rekan imam. Ada macam-macam rasa bergejolak; gemes dan gemetar. Bangga tapi juga ketir-ketir. Ada rindu yang berdebar cemas. Maklum sebagai Pemula.

Kala memasuki pelataran katedral para umat serentak berdiri menyambut barisan para imam dengan lagu pembuka dari buku Madah Bakti. Kami menuju altar Tuhan dalam: Collegial sacerdotes dan in Persona Christe. Debar jantung ku yang kian keras sebelumnya , hilang seakan sirna kala aku merunduk-sembah, memberikan penghormatan pada Meja Altar. Tanda Salib dan Salam Pembuka berjalan lancar. Kala Kata Pengantar aku mengangkat muka dan sejenak mengarahkan pandanganku ke keluargaku dari Maumere yang menempati bangku depan nampaknya terpancar senyum bangga. Ibuku, Susana Sado yang jarang senyum hari itu dia tersenyum tipis.

Bacaan-bacaan liturgi saat itu: bacaan I berkaitan dengan motto tahbisan, “SUPAYA SALIB KRISTUS JANGAN MENJADI SIA-SIA.” Dari I Kor 1: 10 – 17, dan Injil Yohanes 1:35 – 42, berkaitan dengan tema Perayaan Ekaristi Syukur: MARILAH DAN KAMU AKAN MELIHAT. Tema yang demikian karena sedang merujuk pada cita-citaku menjadi imam. Pengalaman melihat para misionaris, SVD bermisi, terutama waktu masa-masa kecil dan sekolah, juga para Misionaris OSC bermisi, ketika berada di Asmat. Secara singkat saya rumuskan demikian: “Ada Kisah, kisah itu menggetarkan dan mendatangkan rindu, lalu mendesak aku agar mencari, mencari dan menemukan-Nya. Aku memberikan homili dengan semangat dan tidak ada kesan bahwa, gugup dan gemetar. Perayaan Ekaristi Syukur berjalan sebagaimana biasa, lancar dan sesuai ritus. Lagu-lagu semua dari Madah Bakti.

Saat berkat dan Pengutusan: pertama aku memberkati keluargaku dari Maumere, nampak mereka terharu, tentu aku juga. Sesudah itu aku bersama para imam konselebran memberkati umat yang hadir.

Usai Perayaan Ekaristi, para rekan imam dan umat mengucapkan proficiat atas Misa Perdana, sembari ada ada suster yang berseloroh: “Pater punya gaya berkat seperti orang belah kelapa”. Boleh jadi benar saya berupaya maksimal untuk PD alias percaya diri, toh masih ada unsur gugup.

Malam hari ada RESEPSI TAHBISAN IMAM BARU yang diselenggarakan oleh Panitia Pentahbisan Imam, yang dipandu oleh MC yang berpengalaman, bapa Tarsis Sarkol. Sebuah acara yang berlangsung sederhana, meriah dan penuh persaudaraan. Acara diisi dengan Kata sambutan. Bapa Abdon Simon, memberikan kata sambutan mewakili keluarga dari Maumere. Sesudah kata sambutan makan malam bersama, sambil diiringi hiburan; tarian dan nyanyian. Para undangan, utusan umat serta kelompok orang Flores di Asmat semuanya berpadu dalam sukacita bersama. Kira-kira pukul 10 malam, acara yang sifatnya formal dinyatakan selesai oleh MC, keluarga dan para undangan yang lain kembali ke rumah masing-masing.

Namun masih ada kelompok yang bertahan. Mereka melanjutkan acara: “MORNING MORNING SAMPAI PAGI” alias joget-ria sampai pagi. Benarlah apa yang dikatakan bapa Kasim saat Pertemuaan Pemantapan Acara Tahbisan.

Terimakasih kepada anda yang membaca Kisah-Kisah tahbisan, mendoakan, menantang dan mengapresiasi. Semoga anda tidak kapok mendoakan aku. Mari kita bersama membaktikan dan merawat panggilan Tuhan,yang dipercayakan kepada kita.

RP. Hubertus Agustus Lidy, OSC

 

Facebook Comments
Baca juga  Apakah Anda Mempunyai Hati?

Leave a Reply