Tangani Konten Asusila Dunia Maya, Literasi Digital Perlu Dibenahi

584 total views, 1 views today

Komsoskam.com-Jakarta- Guna menangani maraknya konten asusila di dunia Maya, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengatakan perlunya keterlibatan semua pihak. Terutama pemangku kepentingan dalam menetapkan batasan –batasan konten.

“Kita harus punya koridor batasan karena dinamika yang terus terjadi bisa menjadi kontrovensi, bukan hanya di dunia maya akan tetapi juga di dunia nyata,” tandas Rudiantara saat memberikan sambutan pembuka Sarasehan Nasional Penanganan Konten Asusila di Dunia Maya di Museum Nasional Jakarta, (12/08/2019).

Acara yang digelar oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika ini diikuti oleh pemangku kepentingan terkait seperti Tokoh Agama, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, NGO, CSO, Budayawan, Seniman, serta Media massa.

 Temuan yang Memprihatinkan

Data pantauan Tim Kementerian Kominfo, sampai dengan bulan Juli 2019 ditemukenali 2.457 konten berupa berita bohong, 898.109 konten pornografi, dan 3.021 konten penipuan.

Selanjutnya terdapat 10.451 konten radikalisme dan 71.265 konten perjudian.  Dari sekian konten negatif yang telah disebutkan, konten asusila atau pornografi merupakan bahaya laten yang ditakutkan oleh sebagian besar orang tua karena dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Literasi Sebagai Strategi Penanggulangan

Menurut Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, penanggulangan ini terutama perlu dilakukan melalui melalui pendidikan yakni literasi digital.

“Kita harus memberantas konten asusila dari hulu ke hilir. Di hulu dengan literasi, di tengah pendampingan, dan di hilir dengan peraturan dan penindakan,” tegas Semuel.

Ia menambahkan bahwa ruang siber, menjadi tanggung jawab semua pihak untuk menciptakan ruang siber yang lebih sehat dan produktif.

“Artinya semua yang ada di dalamnya bertanggungjawab, baik dari penyedia platform, kreator, maupun pengguna platform. Dengan adanya tanggung jawab dari semua pihak, maka ruang siber lebih sehat dan produktif,” tandasnya.

Selain itu ia juga menambahkan bahwa pemblokiran bukanlah jalan satu-satunya. “Tidak semua harus di handle dengan blokir. Kami berharap dengan memanfaatkan teknologi, ada kontribusi dari masyarakat untuk mengendalikan. Maka diperlukan pendidikan sejak dini pada masyarakat, khususnya pendidikan orang tua,” ungkapnya.

Semoga kita semua terlebih para orangtua turut aktif dalam memberantas konten asusila dalam dunia digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *