
Paus Leo XIV menyapa umat pada audensi umum pada Rabu,27 Mei 2026
Oleh Isabella H. De Carvalho
Paus Leo XIV menegaskan bahwa pembaruan liturgi Gereja Katolik harus tetap berjalan selaras dengan tradisi yang autentik demi mendukung tugas evangelisasi Gereja di dunia modern.
Dalam Audiensi Umum mingguan di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Rabu (27/5/2026), Paus melanjutkan rangkaian katekese mengenai dokumen-dokumen Second Vatican Council dengan membahas Konstitusi Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium yang dipromulgasikan pada tahun 1963.
Dokumen tersebut merupakan teks pertama yang dihasilkan Konsili Vatikan II dan membawa perubahan besar dalam kehidupan liturgi Gereja, termasuk penggunaan bahasa setempat dalam misa dan dorongan bagi partisipasi aktif umat.
Paus Leo XIV mengatakan bahwa liturgi selama berabad-abad telah menjadi kekuatan utama evangelisasi Gereja.
“Energi ini harus terus diperbarui dalam kesinambungan dengan tradisi Katolik yang hidup dan autentik,” ujar Paus.
Ia menekankan bahwa perkembangan liturgi tidak boleh dipahami sebagai pemutusan dengan tradisi, melainkan sebagai pertumbuhan yang tetap berakar pada iman Gereja.
Kepada para imam yang memimpin perayaan liturgi, Paus meminta agar mereka senantiasa menghormati teks dan aturan liturgi Gereja. Menurut dia, sikap tersebut harus lahir dari kerendahan hati di hadapan Allah serta kesetiaan terhadap persekutuan Gereja.
Hubungan Erat Liturgi dan Pembaruan Gereja
Dalam katekesenya, Paus mengutip ajaran Pius XII yang menyebut Gereja sebagai “organisme hidup” yang terus bertumbuh, berkembang, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman, termasuk dalam bidang liturgi.
Menurut Paus Leo XIV, semangat inilah yang mendorong Sacrosanctum Concilium untuk memperbarui bentuk-bentuk liturgi demi memberi daya baru bagi kehidupan umat Kristen.
Ia menjelaskan bahwa pada masa Konsili Vatikan II muncul kesadaran kuat bahwa pembaruan liturgi berkaitan erat dengan pembaruan seluruh kehidupan Gereja.
Mengutip John Paul II, Paus mengatakan Gereja tidak hanya bertindak melalui liturgi, tetapi juga mengekspresikan dirinya, hidup, dan memperoleh kekuatan dari liturgi itu sendiri.
Tradisi dan Kemajuan Tidak Bertentangan
Paus Leo XIV juga mengutip pandangan Benedict XVI yang menyatakan bahwa tradisi dan kemajuan sering kali dipertentangkan secara keliru.
Menurut Paus Benediktus XVI, tradisi sejati adalah kenyataan yang hidup sehingga di dalamnya juga terdapat prinsip perkembangan dan kemajuan.
Paus Leo XIV menjelaskan bahwa Konsili Vatikan II membedakan unsur-unsur liturgi yang tidak dapat diubah karena berasal dari penetapan ilahi, dengan unsur-unsur lain yang dapat disesuaikan menurut kebutuhan zaman.
Ia menegaskan bahwa sepanjang sejarah, Gereja terus melakukan penyesuaian liturgi agar umat dapat semakin memahami dan berpartisipasi dalam Misteri Paskah Kristus, yang menjadi dasar iman Kristen.
“Liturgi Gereja telah diwujudkan dalam bentuk budaya di setiap zaman dan bahkan mampu memengaruhi serta mengubah budaya tersebut,” kata Paus.
Pembaruan Demi Persatuan Gereja
Paus juga mengingatkan bahwa setiap pembaruan liturgi harus dilakukan secara hati-hati melalui kajian teologis, historis, dan pastoral yang mendalam.
Ia menegaskan bahwa tidak seorang pun boleh secara sepihak menambah, mengurangi, atau mengubah tata liturgi atas inisiatif pribadi karena hal itu dapat menimbulkan kebingungan di tengah umat.
Menurut Paus Leo XIV, pembaruan liturgi yang benar justru bertujuan memperkuat persatuan Gereja, bukan melemahkannya.
“Perkembangan yang ditegaskan Konsili tidak mengorbankan persekutuan Gereja, melainkan meneguhkan dan memupuknya,” ujar Paus.(VATICAN NEWS,27 Mei 2026)