Paroki St. Laurentius Pematangsiantar Dampingi Umat Bijak Gunakan Internet dan Media Sosial

759 total views, 1 views today

Komsoskam.com- Pematangsiantar- “Keluarga yang baik dimulai dengan rasa cinta, dibangun dengan rasa kasih sayang dan dipelihara dengan kesetiaan”, demikian Jansudin Saragih mengawali perbincangan di hadapan peserta sermon Paroki St. Lauentius Brindisi, Minggu, 08 September 2019. Peserta terdiri dari DPPH, Ketua Bagian, Ketua Seksi, DPL, LHB, Kelompok Parokial dan non Parokial.

Beberapa  Indikator Keberhasilan dari TPP yang disinggung dalam pertemuan ini yakni IK 5 Keluarga Katolik bebas dari penyakit sosial, IK 6 Keluarga Katolik Ikut Menanggulangi Penyakit Sosial dan IK 7 Keluarga Katolik Bijak Menggunakan Media Sosial.

Kita bersyukur atas sumbangan media sosial bagi kemajuan umat manusia. Dari pihak lain, bila tidak bijak menggunakannya akan menimbulkan berbagai masalah. Bahkan, Sejumlah keluarga Katolik ikut tertular penyakit sosial masyarakat seperti penyalahgunaan narkoba, pornografi, kekerasan dalam rumahtangga (KDRT), perjudian, perceraian, perselingkuhan dan pesta minuman keras.

“Disinilah diharapkan agar umat diberi penyuluhan dan sosialisasi tentang bahaya penyakit-penyakit masyarakat yang dapat melanda keluarga-keluarga Katolik. Segala upaya perlu dioptimalkan untuk menyadarkan tentang bahaya penyakit penyakit masyarakat. Anak anak diberi pembinaan rutin agar terhindar dari penyakit masyarakat, pergaulan dan aktivitasnya diawasi oleh orang tua”, ujar Jansudin.

Para peserta tampak semangat menyimak dan mengikuti kegiatan

Atas dasar inilah Seksi Keluarga Paroki St. Laurentius mengundang KOMSOS KAM memberikan sosialisasi agar keluarga-keluarga katolik semakin bijak menggunakan internet dan media sosial. “Sosialisasi ini diawali dengan mengundang para pengurus gereja, selanjutnya diharapkan Dewan Pastoral Lingkungan turut mensosialisasikannya di lingkungan masing-masing”, demikian harapan Pesman Aritonang.

Baca juga  Tinggalkan Jejak Digital Positif di Dunia Maya

Jansudin alias Shemy menjelaskan bahwa Gereja Katolik, sebenarnya pasca Konsili Vatikan II, sudah menyadari pentingnya komunikasi sosial serta dampak yang ditim-bulkannya. Saragih meresitir Dekrit Inter Mirifica (IM) menyatakan bahwa  Gereja memandang sebagai kewajibannya, untuk memanfaatkan media komunikasi sosial, menyiarkan Warta Keselamatan, dan mengajarkannya, termasuk bagaimana manusia dapat memakai media itu dengan tepat (IM2). Maka pada hakikatnya Gereja berhak menggunakan dan memiliki semua jenis media itu, sejauh diperlukannya atau berguna bagi pendidikan kristen dan bagi seluruh karyanya demi keselamatan manusia (IM3).

Tahun 1975, Paus Paulus VI mengeluarkan anjuran Apostolik Evangelii Nuntiandi. Paus Paulus VI menegaskan bahwa karya katekese maupun evangelisasi pada masa kini tidak dapat tidak harus menggunakan media masa atau media komunikasi sosial yang baru, bahkan katekese maupun evangalisasi tidak dapat dijalankan tanpa menggunakan alat-alat itu. Ensiklik Redemptoris Missio, 7 Desember 1990, Paus Yohanes Paulus II melihat dunia komunikasi sosial bukan lagi hanya sebagai alat atau sarana, tetapi merupakan budaya yang dapat menjadi tempat inkulturasi iman. Dengan hadirnya budaya baru ini, wajah karya penginjilan kepada bangsa-bangsa harus berubah. Karya penginjilan harus merasuki kota-kota besar, tempat tumbuhnya budaya dan cara komunikasi baru.

Bahkan Paus Fransiskus menyatakan ”Janganlah segan-segan menjadi warga dunia digital. Sangatlah penting perhatian dan kehadiran Gereja dalam dunia komunikasi untuk berdialog dengan manusia masa kini untuk mengantar dia berjumpadengan Kristus”. Gereja perlu hadir di dunia internet, agar Kristus semakin diwartakan di tengah kehidupan baru ini dengan berdialog dengan manusia masa kini (Hari Komsos 48). “Jejaring sosial daring (online) adalah pelengkap perjumpaan tatap muka. Melaluinya kita dapat membawa kabar baik dan menghadirkan kerajaan Allah di mana saja dan kapan saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Internet adalah sumber daya dan wahana bersama untuk menyebarkan kebaikan.” Paus Fransiskus, pada Perayaan Hari Komsos 53.

Baca juga  Mengapa aku mau menjadi Pengurus Gereja? RD Antonius Moa Bekali Pengurus Gereja St. Laurentius Pematangsiantar

Gereja Katolik sungguh menghargai sumbangan komunikasi sosial bagi pewartaan kabar gembira, di sisi lain kalau tidak bijak menggunakannya banyak sisi negatif yang ditimbulkannya. Sisi negatif yang ditimbulkan internet dan media sosial dipaparkan Shemy  antara lain: (1) Sindrom FoMO (Fear of Missing Out). Sebuah gejala psikologis takut ketinggalan berita terbaru. Istilah zaman now “takut gak update; (2) berita hoax dan ujaran kebencian; (3) Perceraian suami-istri karena medsos; (4) Kematian tragis karena kecanduan game; (5) dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya. Sekali lagi Paus Fransiskus mengajak kita, “Bijak menggunakan internet dan media Sosial demi keutuhan keluarga katolik yang beriman”. Demikian seluruh rangkaian sermon berlangsung, dan ditutup dengan doa oleh P. Simamora, Pelaksana I DPP St. Laurentius. *** (Dobes Tamba).

Jansudin Saragih

"Carpe diem" | Youtube : 2share4life

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *