ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI

3,066 total views, 1 views today

PERGILAH DAN BERBUATLAH DEMIKIAN

Ul 30:10-14 Kol 1;15-20 Luk 10:25-37/Hari Minggu Biasa XV

Dalam perjalanan menuju Yerusalem, seorang ahli Taurat mendatangi Yesus hendak mencobai Dia. Ia mengajukan pertanyaan tentang bagaimana cara memperoleh hidup yang kekal. Yesus menjawab dengan menanyakan apa yang dikatakan dalam Taurat. Tapi, bagaimana itu dapat dilaksanakan? Siapakah sesama yang harus dikasihi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut Yesus menyampaikan cerita tentang orang Samaria yang baik hati. Jalan untuk memperoleh hidup kekal itu ada dalam hidup mereka sendiri.

Di jalan antara Yerusalem dan Yeriko seorang Yahudi dirampok habis-habisan lalu ditinggalkan setengah mati. Ia hanya akan dapat hidup bila ada orang yang lewat dan menolongnya. Seorang imam dan Lewi yang lewat di tempat itu melihat si korban, tapi tidak berupaya menolongnya, malah pergi dari seberang jalan. Imam dan Lewi adalah para tokoh penting dalam agama Yahudi, yang dapat dipastikan mengetahui hukum kasih kepada sesama.

Keduanya turun dari Yerusalem sehingga mereka tidak sedang bertugas mempersembahkan kurban. Tapi selaku orang yang berperan penting dalam ibadah, mereka harus menjaga diri supaya tetap tahir. Mereka tidak boleh menyentuh hal-hal yang dapat membuatnya najis. Bisa jadi mereka mengira bahwa orang yang dirampok itu sudah mati.

Seorang Samaria, yang oleh orang Yahudi dianggap orang asing yang lebih rendah dari mereka, juga melewati jalan itu. Melihat korban, hatinya tergerak oleh belaskasihan. Ia mendekatinya dan melakukan tidakan darurat lalu menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya dan membawanya ke tempat penginapan di mana ia melakukan perawatan yang lebih intensif. Keesokan harinya, karena ia harus pergi, ia meminta pemilik penginapan itu untuk merawat orang itu. Ia memberi dua dinar sebagai ganti perawatan dan akan mengganti biaya lain bila uang dua dinar tidak mencukupi.

Setelah itu, Yesus bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang itu adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Yesus mempertentangkan orang-orang yang paling wajib mentaati perintah untuk mengasihi sesama (para imam dan Lewi) dan orang asing yang sebenarnya tak mungkin diharapkan dapat mengasihi (orang Samaria). Jelas yang patut disebut sesama adalah orang Samaria, tapi ahli Taurat itu tidak berani untuk menyebutnya. “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan,” katanya. Dan itulah jawaban yang diharapkan Yesus. Yang penting bukan siapakah sesamaku, tapi bagaimana aku bisa menjadi sesama bagi yang lain.

Orang Samaria, yang dianggap musuh dan dipandang lebih rendah oleh orang Yahudi, merupakan teladan untuk menjadi sesama. Seluruh perhatian dan usahanya tertuju kepada korban. Melihat korban tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan setengah mati, hatinya tergerak oleh belas kasihan. Dan terdorong oleh belas kasihan itu ia memberi pertolongan sampai tuntas. Untuk menyelamatkan nyawa orang itu, ia harus mengurbankan waktu, tenaga dan uang. Ia melakukannya dengan tulus tanpa berharap apa pun dari orang itu. Menjadi sesama berarti mengasihi tanpa memikirkan diri sendiri. Yesus datang ke dunia karena kasih kepada manusia. Demi kebahagiaan kita, Ia menjadi manusia dan mengurban diri-Nya. Dari Yesus, kita belajar menjadi sesama bagi orang di sekitar kita khususnya yang menderita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *