MENGENAL Ragam PUASA & TOBAT

2,951 total views, 21 views today

Saat fajar mulai menyingsing aku sudah berada di bukit Karmel, tempat Nabi Elia pernah mengalahkan dan membantai empat ratusan nabi-nabi Baal. Kabut pun masih menyelimuti daerah itu. Memang hampir sepanjang masa dan sangat sedikit kesempatan kita dapat melihat lembah di sekitar bukit Karmel tanpa kabut. Lembah landai berkabut itulah yang disebut dataran Armagedon, lembah Megido, area pertempuran di masa lampau. Salah satunya pertempuran thn.609 SM (bdk. 2Raj 28-302Taw 20-25) yang menewaskan Yosia, raja muda Yehuda yang karismatis. Kematian Yosia ini mempercepat bobroknya dinasti Daud dan telah mengilhami harapan akan datangnya kembali seorang Mesias dari garis keturunan Daud.

Berbagai pertempuran dan nubuat tentang masa depan itulah yang mendorong pemikiran orang akan peperangan besar pada akhir zaman di Armagedon atau Harmagedon. Kata Ibrani Har Megido (הַר מְגִידוֺ) berarti “Bukit Megido”. Dalam Kitab Suci satu-satunya yang menyebut Armagedon hanya Why 16:16 “Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon.” Kenyataannya, sebelum penghancuran kota dan Bait Allah Yerusalem thn.70 memang sejumlah pasukan Romawi dikumpulkan di lembah Megido untuk salah satu penyerangan kota Yerusalem thn.67. Kematian Yosia di tangan firaun Mesir, Nekho II, dalam pertempuran di Megido pun menjadi pemantik nubuat akan datangnya seorang raja dari keturunan Daud yang akan berperang di lembah itu dan memperoleh kemenangan.

Para Saksi Yehuwa menggagas Armagedon sebagai area pertempuran, di mana penghulu Setan akan mempersatukan semua penguasa di muka bumi untuk melawan Raja yang ditunjuk oleh Allah, yaitu Yesus Kristus. Jadi, berbeda dengan kelompok Kristen, Saksi Yehuwa tidak menghubungkan Armagedon dengan Antikristus melainkan penghulu Setan sendiri yang akan menggerakkan kerajaan-kerajaan dunia memerangi umat Allah. Mereka merujuk pada Why 16:14 “roh-roh setan mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa,” namun “Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka yang Bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia” (Why 17:14). Karena itu pertempuran Armagendon bermakna simbolis yang berkaitan dengan akhir zaman.

Masih menurut Saksi Yehuwa, kisah Armagedon diikuti oleh pembentukan Kerajaan Allah di muka bumi, suatu masa yang dikenal dengan pemerintahan Kristus selama seribu tahun, ketika “ia menangkap naga, si ular tua itu, yaitu Iblis… ia mengikatnya seribu tahun lamanya” (Why 20:2). Akhirnya, Iblis itu “dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang… dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya” (Why 20:10). Mereka yang bergabung bersama dalam kejahatan Iblis itu pun akan disiksa untuk selama-lamanya.

Anda pernah melihat Iblis? Iblis itu termasuk dalam bilangan roh jahat. Konon, di dunia Mesir kuno pernah diadakan sensus penduduk roh jahat yang katanya berjumlah 7.500.000. Jenis kelamin mereka laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki dikenal dengan nama shedim dan yang perempuan disebut lilith. Mereka suka tinggal di tempat-tempat kotor seperti kuburan, di padang gurun dan di laut. Namun ada juga yang diam di sekeliling manusia, yaitu 10.000 di sebelah kanan dan 10.000 lagi di sebelah kiri. Roh-roh jahat yang mengerumuni manusia inilah yang siap mengganggu dan menyebabkan berbagai penyakit psikis maupun fisis. Sebab menurut orang-orang Mesir, roh-roh jahat itu dapat masuk ke dalam setiap bagian tubuh manusia yang terdiri dari 36 bagian. Mereka masuk bersamaan dengan makanan yang dimakan manusia. Nah… apakah ini berarti bahwa orang yang banyak makan itu banyak roh jahatnya? Tak ada data untuk itu. Yang jelas ide seperti itu telah mempengaruhi banyak pertapa di padang gurun untuk berpuasa, yakni tidak makan agar dijauhkan dari gangguan roh jahat.

Dari motif dan kebiasaan berpuasa para pertapa tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa berpuasa itu bukan sekedar tidak makan, tetapi orang tidak makan itu agar terluput dari godaan roh jahat. Maka, tujuan kita berpuasa adalah menjauhkan diri dari kecenderungan berbuat jahat karena pengaruh roh-roh jahat dan berbalik dari kejahatan-kejahatan yang telah kita lakukan untuk menguduskan diri sehingga Roh Allah berkenan tinggal dalam diri kita.

Masa Prapaskah adalah waktu untuk berpuasa dan bertobat. Puasa adalah salah satu bentuk ungkapan dari sikap tobat. Kecuali berpuasa dan berpantang, cara lain untuk menyatakan pertobatan di Masa Prapaskah adalah berdoa lebih rajin, semakin tekun mendengar dan merenungkan sabda Tuhan, dan meningkatkan karya-karya amal dan cintakasih.

Berpuasa dan berpantang sebagai ungkapan pertobatan untuk menyongsong perayaan Paskah, sebagaimana termuat dalam Liber Sacramentorum III, sudah dirintis sejak pertengahan abad ke-2 di zaman St. Yustinus. Bentuk pertobatan itu lama-kelamaan semakin digemari dan dijalankan umat di Masa Prapaskah. Kebiasaan itu untuk pertama kalinya terjadi di Gereja Timur awal abad ke-4 dan Gereja Barat baru mempraktekkannya akhir abad ke-4.

Lamanya hari-hari berpuasa dan pantang sepanjang Masa Prapaskah, yakni 40 hari. Angka 40 mengingatkan kita pada peristiwa-peristiwa penting dalam Kitab Suci, yaitu selama 40 hari Nabi Musa berada di puncak gunung Sinai menghadap Allah (Kel 34:28); selama 40 hari Nabi Elia berjalan menuju gunung Allah (1Raj 19:8); selama 40 hari semua penduduk kota Niniwe melaksanakan puasa nasional (Yun 3:1-10); selama 40 tahun umat Israel menjalani peziarahan di padang gurun menuju Tanah Terjanji; dan selama 40 hari Yesus berpuasa di padang gurun (Mat 4:2; Luk 4:2). Dengan demikian berpuasa menjadi tanda keikutsertaan kita pada momen-momen istimewa terutama pengalaman Yesus yang berpuasa. Artinya Masa Prapaskah menjadi masa untuk membangkitkan peran serta umat Allah pada misteri sengsara, wafat, kebangkitan dan kemuliaan Kristus: “…kita mengambil-bagian pada penderitaan demi penderitaan-Nya untuk mengalami juga kemuliaan-Nya” (Rm 8:17).

Dalam perkembangan Gereja selanjutnya, Masa Prapaskah mendapat makna tambahan, yakni sebagai masa pertobatan khususnya bagi para pendosa berat yang berpuncak pada perayaan tobat bersama Uskup di hari Kamis Putih pagi, dan sebagai persiapan dekat bagi para katekumen yang akan dibaptis pada Malam Paskah. Konsili Vatikan II menandaskan tentang ciri ganda Masa Prapaskah itu, yakni sebagai masa persiapan pembaptisan dan sebagai masa pertobatan umat untuk mempersiapkan diri merayakan misteri Paskah dengan cara lebih tekun mendengarkan sabda Allah dan semakin rajin berdoa (KL 109).

Masa Prapaskah diawali dengan hari Rabu Abu. Disebut Rabu Abu karena upacara khusus yang dilaksanakan pada hari itu, yakni penerimaan abu untuk seluruh umat. Penerimaan abu itu menjadi ungkapan pertobatan yang mengacu pada Kitab Suci. Abu dipakai sebagai sarana pengungkapan rasa tobat dan sesal karena manusia sadar akan kerapuhan dan kelemahan dirinya: “turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu” (Yun 3:6). Abu digunakan untuk keperluan pembersihan diri dan silih atas dosa: “seorang yang tahir haruslah mengumpulkan abu lembu itu… supaya semuanya itu tinggal tersimpan bagi umat Israel untuk membuat air pentahiran; itulah penghapus dosa. Bagi orang yang najis haruslah diambil sedikit abu dari korban penghapus dosa… sebab percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah” (Bil 19:9,17; Ibr 9:13). Abu pun merupakan simbol dari kepedihan hati yang mendalam: “Ayub mengambil sekeping beling untuk menggaruk-garuk badannya, sambil duduk di tengah-tengah abu” (Ayb 2:8), tetapi Yesus juga mengingatkan akan makna simbolis abu berkaitan dengan pertobatan: “…jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dengan mengenakan kain kabung dan abu” (Mat 11:21).

Dalam sinode di Benevento thn.1091 Paus Urbanus II menetapkan ritus resmi pertobatan dengan penerimaan abu yang berlaku bagi seluruh Gereja. Tatanan penerimaan abunya sbb.: untuk para imam dan awam laki-laki, abu ditaburkan di atas kepala, sedangkan untuk kaum wanita, abu dibubuhkan pada dahi dengan tanda salib. Bersamaan dengan penerimaan abu diucapkan kata-kata refleksif: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15) atau kata-kata lain: “Ingatlah, kita ini abu dan akan kembali menjadi abu.” Antifonnya pun menggemakan permenungan senada: “Marilah kita mengenakan kain kasar dan menaburi kepala dengan abu. Marilah berpuasa dan meratap di hadapan Tuhan, sebab Allah penuh belaskasih dan pengampunan” (Yl 2:13). Semuanya dimaksudkan sebagai ungkapan pertobatan.

Perkembangan berikutnya, penerimaan abu pun dimaksudkan sebagai awal perjalanan rohani di Masa Prapaskah agar “…semua orang secara mantap memperbaharui diri untuk merayakan Paskah” dan “…hidup kita diperbaharui sesuai dengan citra Tuhan yang sudah bangkit.” Rumusan doa pemberkatan atas abu dari abad ke-11 menyatakan: “…semoga puasa dan pantang yang kami jalankan, menyucikan hati kami, supaya kami Kauperkenankan ikut serta merayakan Paskah Kristus…”; …semoga dengan pantang dan puasa kami memperoleh pengampunan dosa dan bangkit untuk hidup baru bersama Kristus…” Pertobatan lebih dilihat sebagai pintu penyegaran iman dan abu yang harus diambil dari pembakaran daun palma Minggu Palma tahun sebelumnya baru ditetapkan abad ke-12.

S.Ferguson mengingatkan kita: “Orang Kristen tahu bahwa tanpa meninggalkan dosa-dosa yang disadarinya, ia tidak dapat memeluk salib, atau lebih penting lagi, merangkul Kristus yang mati di atas kayu salib, dan yang sekarang hidup selamanya melayani Allah. Kita tidak dapat melayani dua tuan – Kristus yang disalib dan mati untuk dosa kita, dan juga mengabdi kepada dosa yang untuknya Kristus mati. Jadi, semakin kita bersukacita di dalam keselamatan yang Kristus berikan, tentunya semakin kita mematikan perbuatan dosa.” Mumpung masih ada waktu: BERTOBATLAH & PERCAYALAH KEPADA INJIL!

Facebook Comments
Baca juga  Yesus Dipersembahkan Di Kenisah

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply