Lebih dari Separuh Remaja Putri Jepang Curhat ke AI, Pakar Ingatkan Risiko Ketergantungan

Gadis-gadis Jepang sedang menggunakan smartphone mereka di Mall (Foto:AFP)

 

Oleh Keiko Kurane, Reporter UCA NEWS

TOKYO, KOMPAS.com — Lebih dari separuh remaja putri di Jepang kini menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk berkonsultasi mengenai masalah pribadi mereka. Temuan ini terungkap dalam survei terbaru pemerintah Jepang yang menyoroti semakin besarnya pengaruh teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari generasi muda.

Survei yang dilakukan Panel Konsumen Kantor Kabinet Jepang pada Februari lalu menunjukkan bahwa 52 persen remaja perempuan pengguna AI generatif mengaku meminta saran kepada AI terkait kekhawatiran pribadi mereka. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibanding kelompok usia dan gender lainnya.

Selain itu, sekitar 63,1 persen responden remaja perempuan menyatakan mereka mempercayai saran AI dalam urusan hubungan sosial dan interaksi dengan orang lain. Sekitar 10 persen responden juga merasa AI membantu mengurangi rasa kesepian.

Profesor emeritus bidang psikologi komunitas, studi perdamaian, dan pendidikan di International Christian University Tokyo, Toshi Sasao, mengatakan kondisi tersebut mencerminkan tekanan sosial yang dihadapi banyak remaja Jepang.

“AI terasa lebih aman secara emosional bagi sebagian pengguna muda,” ujarnya kepada UCA News pada 14 Mei.

Menurut Sasao, AI dapat diakses kapan saja, memberikan respons instan, dan memungkinkan pengguna menyampaikan keluhan secara anonim tanpa takut dihakimi.

Ia menilai banyak remaja Jepang mengalami tekanan akademik, perbandingan sosial, kesepian, serta kecemasan terkait hubungan dan masa depan. Namun di sisi lain, kesempatan untuk berkomunikasi secara terbuka dengan keluarga, sekolah, maupun lingkungan sekitar masih terbatas.

Meski demikian, Sasao mengingatkan bahaya ketergantungan emosional terhadap AI.

“AI tidak benar-benar memahami emosi manusia, nuansa budaya, atau situasi hubungan interpersonal yang kompleks,” katanya.

Ia menambahkan bahwa ketergantungan berlebihan pada AI untuk dukungan emosional dapat mengurangi kesempatan seseorang membangun hubungan nyata, keterampilan komunikasi, dan koneksi sosial di masyarakat.

Tekanan Hidup Remaja Jepang

Fenomena ini juga berkaitan dengan kondisi kehidupan remaja di Jepang. Survei tahun 2023 menunjukkan sekitar 70 persen anak-anak Jepang tidak memiliki tempat untuk benar-benar bersantai.

Keseharian mereka dipenuhi aktivitas sekolah dan kegiatan setelah sekolah yang berfokus pada belajar, membaca, serta mendengarkan. Waktu luang hampir tidak tersedia.

Di tengah kondisi tersebut, AI mulai menjadi bagian dari rutinitas emosional, tidak hanya bagi remaja tetapi juga orang dewasa.

Seorang guru prasekolah berusia 30 tahun di Tokyo bernama Chi Watanabe mengaku terkadang menggunakan ChatGPT untuk meminta pendapat terkait pekerjaan, keluarga, dan hubungan pribadi.

“Kadang menurut saya jawabannya benar, kadang juga tidak. Saya hanya ingin mendengar sudut pandang lain,” ujarnya.

Ia merasa chatbot membantu mengurangi tekanan sehari-hari karena memberikan respons cepat dan cenderung positif.

“Kadang lebih mudah mengatakan sesuatu di sana dibanding kepada orang lain. Kita tidak perlu memikirkan bagaimana dinilai,” katanya.

Namun, ia juga menyadari keterbatasan AI.

“AI membantu, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Pada akhirnya semuanya tetap tergantung pada diri sendiri,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu serius mempercayai ChatGPT dan tetap mencari bantuan profesional bila diperlukan.

Tetap Mengandalkan Keluarga

Meski penggunaan AI meningkat, sebagian remaja Jepang masih lebih mengandalkan keluarga saat menghadapi persoalan serius.

Seorang siswi SMA berusia 16 tahun di Prefektur Saitama mengatakan ia menggunakan ChatGPT hanya untuk mencari jawaban cepat terkait tips makeup atau masalah kesehatan ringan.

Namun untuk persoalan penting, ia memilih berbicara dengan orang tuanya.

“Lebih baik bertanya kepada orang tua karena mereka mengenal saya dan lebih berpengalaman,” katanya.

Ia juga menegaskan tidak sepenuhnya mempercayai ChatGPT dan menganggapnya “hanya chatbot”.

“Saya lebih memilih memverifikasi informasinya daripada langsung mempercayainya,” ujarnya.

Sang ibu mengaku bersyukur anaknya masih terbuka untuk berbicara dengan keluarga.

“Kami berusaha mendengarkan dan membimbingnya sebaik mungkin,” katanya.

Sementara ayahnya mengatakan mereka membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai moral dan tanggung jawab yang kuat agar tetap memiliki pegangan dalam mengambil keputusan.

Pemerintah Jepang sendiri terus mendorong pemanfaatan AI secara luas sambil menekankan pentingnya keamanan dan kepercayaan dalam penggunaannya.

Seperti dikatakan remaja di Saitama tersebut, “teknologi tetap memiliki risiko dan keterbatasan.”(UCA NEWS,18 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com