“Merayakan Belas Kasih Allah melalui Sukacita Injili di Asia”

3,144 total views, 1 views today

Peserta dari Indonesia dalam Kongres Kerahiman Ilahi ke 4, Penang-Malaysia 2018

Kongres Kerahiman Ilahi Asia Keempat (Asian Apostolic Congress on Mercy IV atau AACOM IV) telah berlangsung di Penang Malaysia 26-28 Sept 2018. Acara ini juga diikuti oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus B. Sinaga OFCap., Direktur Spiritual AKI KAM RP John Rufinus Saragih OFMCap, beserta kontingen lainnya yang mewakili Indonesia sebanya 47 tujuh orang. Sebelum acara kongres, peserta diberi kesempatan untuk mengikuti formatio tentang Kerahiman Ilahi yang diikuti sebanyak 1400 peserta, termasuk Duta Vatican untuk Malaysia. Hadir dalam acara itu, 16 Uskup dari Asia dan 120 an Imam dari setiap negara Asia. Diantaranya Indonesia, Malaysia, Philippina, Korea, Hongkong, Thailand, Singapore, India, Guam dll. Kerinduan para peserta untuk mendengarkan dan mengalami kerahiman ilahi serta Kegembiraan Injili telah menggerakkan mereka untuk berdevosi kepada Kerahiman Ilahi Yesus yang penggalan doanya dipopulerkan oleh Santa Faustina Kowalska-Polandia, “Jesus I trust in You, Yesus Engkaulah Andalanku.”

Kongres AACOM kali ini mengangkat tema “Experiencing Mercy through the Joy of the Gospel in Asia, atau Mengalami Belas Kasih Allah melalui Sukacita Injili di Asia”. Perhelatan akbar ini berlangsung di Space Convention Centre Penang, salah satu negara bagian dari Malaysia.  Salah satu Uskup pembicara menyampaikan bahwa belas kasih adalah misi yang membawa suka cita. Maka kita semua dipanggil untuk berubah dan bertobat. Ada empat tingkatan untuk berubah. Pertama personal, kita mulai dari diri sendiri, lalu family/ komunitas, bersama keluarga atau komunitas kita bisa berubah, ketiga ekklesial, sebagai umat beriman gerejani kita bertobat dan keempat ekologikal, bertobat dengan alam. Santa Katarina dari Siena (1447-1510) pernah mengungkapkan “Pembaharuan tanpa mau berubah itu berarti tidak fair.” Rasanya kata-kata ini masih sangat relevan di zaman ini. Kata pertama yang diucapkan oleh Yesus ketika Dia mulai berkarya ialah ‘Bertobatlah dan percayalah’. Maka ide perobahan itu sendiri harus menyentuh badan, pikiran, jiwa dan roh kita semua.

Berpikir, Bertutur dan Bertindak Dalam Belas Kasih dan Kemurahan Hati Allah.

Dalam tiga hari kongres ini para peserta AACOM IV mengalami, merayakan dan berbagi pengalaman belas kasih Allah dan siap diubah untuk menjadi manusia baru. Kebersamaan ini cukup menarik karena AACOM ini diikuti oleh berbagai negara-negara Asia yang berbeda bahasa, budaya dan latar belakang, tetapi dapat tetap merasa satu dalam kerahiman Tuhan.  Kongres diawali dengan Misa yang dipimpin oleh Mgr. Joseph Salvador Marino duta Vatikan di Malaysia. Dalam homilinya, Ia menegaskan bahwa panggilan dan perutusan untuk mewartakan dan menghadirkan kemurahan hati dan belas kasih Allah bagi dunia dan khususnya Asia adalah panggilan kita semua sebagaimana diajarkan Paus Fransiskus bahwa “menjadi murah hati dan penuh belas kasih dalam hidup adalah dasar dari kehidupan Gereja.” Gereja dipanggil untuk mewartakan dan memberikan kesaksian tentang belas kasih Allah dalam pelayanan sehari-hati kita. Karena itu AACOM IV, dimaknai bagaimana manusia agar dapat terus menerus memperbaharui diri dalam berpikir, bertutur dan bertindak dalam belas kasih dan kemurahan hati Allah. Lebih jauh Mgr. Salvador Marino mengatakan “menjadi murah hati dan berbelas kasih artinya siap sedia untuk mengikuti cara berpikir Allah sendiri. Hendaklah kamu murah hati seperti Bapa murah hati” (Cf. Luk 6:36). Selanjutnya Mgr. Ruperto C. Santos, uskup delegatus dan Koordinator Kerahiman Ilahi se-Asia dalam sambutannya menegaskan tiga hal yang patut dihayati para devosan Kerahiman Ilahi dimana pun berada.

Pertama, Think always of Mercy. Selalu berpikir tentang belas kasih. Kita sering cemas dan takut. Kita punya banyak rencana di dalam hidup. Maka hendaknya kita selalu melihat ke depan dan mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa depan. Apa pun yang akan terjadi atau apa pun yang kita alami pikirlah selalu tentang belaskasih Allah. Letakkanlah selalu di dalam pikiranmu betapa Allah itu mahakasih. Ingatlah seruan yang kita ucapkan setiap kali merayakan Ekaristi “Lord have mercy” (Tuhan kasihaniah). Berpikir tentang Allah membuat diri kita spesial. Berpikir bahwa Allah membuat kita berhasil. Berpikir bahwa Allah akan menyembuhkanmu. Berpikir bahwa Allah selalu membantu kita. Allah sungguh Allah yang berbelaskasih. Maka jika kita berpikir tentang Allah kita akan berbicara akan Kerahiman Ilahi-Nya.
Kedua, Speak of Mercy. Berbicara akan belaskasih. Kita mendengar banyak hal. Kita juga mendengar banyak kisah. Kita juga banyak berbicara, berbagi nasehat dan melakukan konseling. Kebanyakan dari kita yang hadir di sini mengajar dan menyampaikan kabar gembira kepada orang lain. Tetapi sesudah segalanya dikatakan dan dibagikan hendaknya semuanya disampaikan dengan belaskasih Allah. Kata-kata yang mampu meneguhkan dan menyenangkan orang lain adalah belaskasih di dalam perbuatan. Belaskasih adalah kata-kata yang ramah dan penuh rahmat. Belaskasih memberi inspirasi dan meneguhkan kata-kata. Belaskasih adalah kata-kata dan karya Allah. Maka mari wartakanlah kepada orang lain betapa Allah sangat berbelaskasih kepada kita semua, tanpa kecuali.

Ketiga, Perform always acts of Mercy. Selalu menampikan tindakan belas kasih Allah. Kita mempunyai banyak kesibukan dan tanggungjawab. Kita punya pekerjaan dan kita juga bekerja bagi orang lain. Kita melakukan apa yang dipercayakan kepada kita dan kita menyiapkan apa yang dibutuhkan oleh keluarga dan teman-teman kita. Tetapi di atas segalnya itu kita harus berbelaskasih. Lakukanlah segala sesuatu di dalam belaskasih Allah. Dan berbuatlah selalu dengan semangat belaskasih kepada orang lain.

Tiga aksi ini berpikir, berbicara dan berbuat adalah sangat mendasar, biasa dan alamiah. Maka mari menyatukan belaskasih itu di dalam pikiran, dengan tutur kata kita sehingga di dalam segalanya kita menjadi pribadi yang berbelaskasih. Belaskasih akhirnya ada dalam pikiran kita, bibir kita dan ada di tangan kita. Dengan demikian orang-orang akan mendengar belaskasih dari kita dan akhirnya semakin banyak orang yang akan menerima belaskasih itu sendiri. Ruperto C. Santos Uskup dari Bataan Philippine mengakhiri kata sambutannya dengan mengajak para partisipan untuk mendaraskan doa “Jesus I trust in You” setiap hari di dalam situasi apa pun.

RP Jhon Rufinus Saragih OFMCap. Direktur Spiritual Kerahiman Ilahi KAM

Jansudin Saragih

Carpe diem

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *