PERAN KATEKESE BAGI PENDIDIKAN LITURGIS

 10,274 total views,  3 views today

Ditulis oleh Fr. Kardianus Manfour, SMM (Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang)

PENGANTAR
Akhir-akhir ini banyak umat yang belum memahami hakekat dan substansi dari liturgi. Ada banyak umat yang sering mengikuti perayaan-perayaan liturgis tetapi kurang memahami segala ritus dengan baik. Seseorang tidak akan bisa menghayati liturgi dengan baik apabila ia belum memahami dan mengerti segala aspek yang terkandung di dalamnya. Ada juga umat yang cendrung berargumen bahwa liturgi Ekaristi gereja Katolik bersifat kaku, monoton, struktrurnya sudah baku dan pakem. Hal ini menyebabkan banyak umat yang lari ke “gereja lain” karena di “gereja lain”, struktur liturgi lebih praktis, dan kita secara bebas untuk mengeskpresikan dan melampiaskan perasaannya saat bergumul dengan persoalan hidupnya. Apalagi nyanyian dalam “gereja lain” benar-benar sesuai dengan keadaan hati kita. Di “gereja lain”, kita bisa berdoa sepuasnya sambil menangis dan tidak perlu malu berseru memanggil nama Tuhan dengan suara lantang.

Dengan latar belakang persoalan di atas maka saya melihat bahwa katekese memiliki peran yang sangat penting dalam mewartakan makna dan substansi liturgi. Tulisan ini bermaksud untuk menjelaskan peran dari katekese dalam mewartakan makna dari liturgi. Dalam tulisan ini juga, pada bagian awal saya menjelaskan mengenai pengertian, makna dan tujuan katekese. kemudian saya menjelaskan korelasi antara katekese dan liturgi.

PENGERTIAN, MAKNA DAN TUJUAN KATEKESE.
Sebelum menjadi seorang katekis, para katekis mestinya memahami substansi dan esensi dari katekese. Bahan katekese dapat diberikan dengan baik, apabila para katekis menguasai defenisi, dan esensi dasar katekese. Katekese tidak akan memiliki arah dan tujuan yang jelas, jika para katekis tidak memahami hakekat dan prinsip dari katekese. Kata katekese berasal dari kata Yunani katekoe yang berarti membuat bergema. Istilah ini kemudian digunakan oleh umat Kristiani menjadi istilah khusus dalam bidang pewartaan. Dalam Kitab Suci, katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman agar orang semakin dewasa dalam iman. Segala usaha pewartaan injil dan penyampaian ajaran gereja disebut katekese. Berkaitan dengan hal ini katekese dimengerti sebagai pengajaran, pendalaman, dan pendidikan iman. Tujuannya adalah agar umat kristen semakin dewasa dalam iman. Sebelumnya Katekese biasanya diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah dibaptis. Akan tetapi, Gereja masa kini menempatkan katekese untuk pengertian yang lebih luas.

Dalam Direktorium Kateketik Umum (1971), Katekese merupakan salah satu bentuk pelayanan sabda, yang bertujuan membuat iman umat hidup, dasar, dan aktif lewat cara pengajaran. Dalam ruang lingkup kegiatan pastoral, istilah katekese diartikan sebagai karya gerejani, yang menghantarkan kelompok maupun perorangan kepada iman yang dewasa. Isi katekese adalah wahyu Allah, misteri Allah dan karya-karya-Nya yang menyelamatkan, yang terjadi dalam sejarah umat manusia (DKU. 37)
Katekese terutama merupakan pewartaan tentang kristus, yang merupakan pusat dan acuan katekese. Katekese sebagai permulaan dari suatu perjumpaan antarpribadi. Karena Sabda Allah bukan sesuatu tetapi seseorang, maka katekese sebagai pelayanan Sabda Allah harus mengintroduksi perjumpaan yang bersifat pribadi antara umat beriman dengan Kristus. Memang berkatekese berarti mengkomunikasikan ajaran Kristus tetapi bukan sebagai suatu hal yang abstrak, melainkan sebagai komunikasi misteri Allah yang hidup.

Yohanes Paulus II dalam anjuran Apostolik Catehesi Tradendae menegaskan bahwa katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, khususnya menyangkut penyampaian ajaran kristen yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT18).
Dengan demikian, katekese dapat diartikan sebagai usaha gereja untuk membantu umat agar semakin berkembang dalam iman serta dapat mewujudkan iman itu dalam hidup sehari-hari. Pembinaan iman ini diberikan baik untuk anak-anak, kaum muda, maupun orang dewasa. Usaha pembinaan dengan menyampaikan ajaran Kristiani bagi umat ini merupakan tanggung jawab Gereja yang penting.

Katekese umat membantu untuk hidup dengan semakin sadar, semakin mendalam dan utuh. Katekese umat mendorong proses pemanusiaan Kristiani. Katekese umat menempatkan pengalaman religius kembali ke dalam hidup konkret. Dengan demikian umat Kristiani dibantu untuk menafsir riwayat hidupnya sebagai sejarah penyelamatannya. Membuka diri bagi kehadiran Allah di tengah-tengah kita, itulah tobat menurut Kitab Suci. Dengan mengusahakan tobat, katekese umat menghilangkan jurang antara agama dengan hidup sehari-hari. Agama dihayati dalam hidup yang “profan” dan hidup biasa menjadi medan perjumpaan dengan Allah. Melalui katekese umat, kaum beriman mengalami dan menyadari bahwa seluruh dunia ini termasuk segala pengalaman hidup manusia ditebus oleh Kristus dan dipakai oleh Roh Kudus untuk dihantar kepada Bapa.

Katekese bertujuan agar umat atau para peserta semakin mengalami dan menyadari karunia Allah kepada manusia. Hal ini juga berarti katekese umat membangun Gereja. Umat Kristiani tidak diselamatkan secara sendiri-sendiri. Umat dipanggil selaku anggota umat. Unsur kebersamaan ini diteguhkan oleh katekese umat. Gereja bukanlah tujuan melainkan sarana untuk bersaksi tentang Kristus melalui pengabdian kepada manusia konkret. Agar Kristus semakin berpengaruh dalam masyarakat, itulah yang dicita-citakan katekese umat.

PERAN KATEKESE BAGI PENDIDIKAN LITURGIS
Katekese menanam biji, mempersiapkan ladang dan menanam kerinduan dalam hati agar biji gandum berbuah. Dengan demikian, dalam liturgi, biji gandum dapat tumbuh dan berbuah tanpa penjelasan. Manusia dapat mengalami secara langsung sapaan Allah dalam hati. Katekese memberi penjelasan tentang Sabda Allah, liturgi melalui eksegese, dan sharing iman tentang bacaan Kitab Suci. Maka dalam saat hening pada Liturgi, seseorang dapat menghayati apa arti sapaan Allah dan menjawabnya dengan syukur dan doa permohonan. Katekese berupa mistagogi dengan memberi pengertian tentang apa arti karya penyelamatan Allah dan apa arti sakramen apa arti tanda-tanda liturgi, dan mengapa liturgi dirayakan dengan tata perayaan tertentu. Hal ini penting karena dalam liturgi, orang beriman mengalami daya Ilahi yang termuat dalam tanda dan sabda hingga hatinya bahagia dan hidupnya menjadi baru.
Katekese harus membuka mata orang Kristiani untuk menyadari adanya tanggung jawab terhadap dunia sekitarnya Untuk menerima tantangan hidup sesuai dengan injil. Sehingga dalam liturgi, tanggung jawab ini diungkapkan antara lain dalam doa umat namun bukan sebagai tugas manusia melainkan sebagai kepercayaan bahwa allah akan melengkapi karya penyelamatan-Nya juga pada dunia atau manusia yang menderita.

Katekese dapat mempersiapkan para petugas liturgi, misalnya para lektor dan pemazmur untuk mengerti apa yang diwartakan, para dirigen untuk menghayati syair lagu dan kemudian membantu mereka agar isi syair dapat diungkapkan dalam musiknya. Sehingga para petugas liturgi dapat membagi semangatnya yang seharusnya sudah dimiliki umat, karena mereka diselamatkan oleh Kristus dan bertanggung jawab agar liturgi menjadi perayaan.

Katekese menjadi tempat ideal untuk menjelaskan inkulturasi lambang, ritus, lagu, dan sebagainya. Sehingga pada liturgi inkulturatif, orang beriman menemukan dirinya sendiri dalam lambang, ritus, dan nyanyian hingga pengalaman karya penyelamatan Allah menjadi makin padat. Katekese secara mutlak memakai kata, istilah, dan merupakan ajaran. Sehingga Liturgi berusaha melampaui kata, gambar, dan mencari apa yang tidak tampak.

Katekese terutama merupakan perwartaan tentang Kristus, yang merupakan pusat dan acuan iman Katolik. sehubungan dengan sifat kristosentris katekese, perlu diperhatikan adanya dua tuntutan berkaitan dengan liturgi : katekese supaya diberikan secara lengkap dan makna keselamatan serta pembebasan kristus bagi umat manusia supaya ditekankan bahwa kristus merupakan cahaya bagi hidup manusia dan jawaban atas masalah-masalah yang mendasar umat manusia. Katekese harus sampai pada inti dari liturgi sebagai peristiwa penyelamatan. Katekese adalah permulaan antarpribadi. Karena Sabda Allah bukan sesuatu tetapi seseorang, maka katekese sebagai pelayaan Sabda Allah harus mengintroduksi perjumpaan yang bersifat pribadi antara umat beriman dengan kristus. Salah satunya dalam liturgi. Memang katekese berarti mengkomunikasikan ajaran Kristus tetapi bukan sebagai ajaran abstrak, melainkan sebagai sarana agar umat bisa menghayati liturgi dengan baik.

Terpusatnya katekese pada pribadi Kristus menjadikan segala proses liturgis semakin bermutu. Katekese sejauh merupakan karya pewartaan gereja untuk memperdalam iman adalah karya Roh Kudus. Dimensi spiritual Sabda Allah membawa banyak konsekuensi bagi katekese. maksudnya bahwa dalam katekese, Roh Kudus yang menginspirasi, membimbing agar umat Allah dalam perayaan liturgis bisa lebih terbuka untuk menanggapi panggilan sebagai umat Allah. Dalam hubungan dengan liturgi, katekese akan disebut berhasil apabila penghayatan umat akan liturgi semakin mendalam.

Memang liturgi bukanlah pertama-tama tugas manusia melainkan tugas Allah berkaitan dengan karya penyelamatan Allah kepada umat-Nya. Akan tetapi yang perlu diingat bahwa semua rahmat Tuhan perlu ditanggapi dengan baik. Dalam arti bahwa adalam liturgi, jawaban manusia juga menentukan keselamatan Kristus. Di sinilah fungsi katekese di mana katekese membawa orang agar dapat menanggapi cinta dan anugerah keselamatan Kristus dengan baik. Tujuan utama katekese adalah membawa orang dalam kesatuan dengan Yesus Kristus. Dengan demikian melalui katekese orang diharapkan dapat mengembangkan pengertian tentang misteri Kristus dalam terang sabda Allah, sehingga seluruh pribadinya diresapi oleh Sabda itu. Katekese merupakan tindakan gerejawi. Dengan demikian tugas katekese adalah mendukung pertumbuhan gereja dengan mengembangkan pengetahuan iman, pendidikan liturgis, pembinaan moral dan mengajar berdoa.

Salah satu tugas katekese berkaitan dengan pendidikan liturgis. Gereja menginginkan partisipasi umat yang sadar dan aktif sesuai dengan imamat umat yang dianugerahkan dalam baptisan. Katekese tidak hanya harus memajukan pengertian tentang liturgi dan sakramen-sakramen, tetapi juga mendidik para murid Yesus untuk berdoa, bersyukur, bertobat, bersatu sebagai umat Allah, dan mengerti bahasa simbolisme karena semuanya itu perlu untuk menghayati liturgi.

Katekese memiliki hubungan yang sangat erat dengan liturgi. Katekese dapat menjadi pendalaman iman sejauh iman dapat dijelaskan. Homili dalam liturgi dapat juga berupa sharing, namun perlu dijaga proporsi waktunya. Katekese mau tidak mau juga berpangkal dari kata dan gagasan karena merupakan pewartaan iman. Liturgi mau tidak mau harus berpangkal dari misteri dari apa yang dikerjakan Allah, artinya belum tentu selalu menjadi jelas. Katekese dapat memakai sarana audiovisual namun perlu dihindari menjadi pertunjukan. Liturgi tidak boleh menjadi pertunjukan karena bertentangan dengan tujuannya yakni berdialog dengan Allah.
Selain keterkaitan dan keterikatan di atas, katekese berhasil bila dipakai didaktik, bila terjadi komunikasi dengan para hadirin.

Liturgi berhasil bila terjadi dialog dengan Tuhan. tugas katekese tidak terbatas pada persiapan baptis atau ajaran tentang sakramen atau hal lainnya tetapi harus membantu orang untuk hidup di dunia sesuai dengan injil. Tugas liturgi tidak terbatas pada penyelenggaraan di gereja, tetapi harus menjadi sumber untuk dilanjutkan dalam pelayanan. Melihat pentingnya peran katekese bagi pendidikan liturgis maka para katekis perlu memiliki keterampilan dan kemampuan berkaitan dengan cara-cara berkatekese tentang pendidikan liturgi. Katekis juga diharapkan mau dan mampu mengusahakan dan menggunakan media komunikasi yang sesuai dan memadai.

IV. PENUTUP
Katekese dapat banyak membantu untuk merayakan liturgi yang baik dan menambah pengertian umat tentang liturgi yang makin kurang, asal katekese menuju pada inti liturgi yakni pada karya penyelamatan Allah dan tidak berputar-putar pada penjelasan atau tugas manusia. karena liturgi adalah perayaan, bukan pertunjukkan, aktor utama bukan manusia tetapi Kristus. Allah hadir dalam sakramen-sakramen sedemikian rupa, sehingga bila ada orang yang membaptis, Kristus sendirilah yang membaptis. Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam gereja. Akhirnya ia hadir sementara gereja memohon dan bermazmur dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di antara tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di antara mereka (mat 18 :20). Namun perjalanan ke situ adalah sebuah katekese.

 

Baca juga  Mencintai Orang Kecil, Bahkan Yang Paling Hina

DAFTAR PUSTAKA
BUKU
-Gitowiratmo, S., Gagasan Dasar Pastoral Berbasis Data, Yogyakarta : Kanisius, 2016

– Janssen,P., Pastoral Umat, Malang : Institut Pastoral Indonesia, 1998

– Lalu,Yosef, Katekese Umat, Yogyakarta : Kanisius, 2007.

– Telaumbanua, Marinus, Ilmu Kateketik, Jakarta : Obor, 2005,

ARTIKEL
– Panamokta, Geradus Hadian Menuju Gereja Terjaring (NETWORKED CHURCH), JURNAL TEOLOGI, volume 07, nomor 01, mei 2018

INTERNET
-http://www.imankatolik.or.id/ diakses pada 10 mei 2020, pkl. 20.00

Facebook Comments

Leave a Reply