Isolasi Mandiri

499 total views, 1 views today

Isolasi mandiri, kedengarannya sangar dan ngeri-ngeri sedap(pinjam istilah almarhum Sutan Batugana) Kebayang berbagai keterbatasan  ruang gerak dan aktifitas.

Beberapa hari sebelum kembali ke Brasil usai liburan, Pimpinan Komunitas menelpon, “Hubert, sesuai peraturan pemerintahan setempat setelah tiba di Brasil anda harus isolasi mandiri,14 hari.” “Okay, siap. Saya akan menjalankannya dengan sukacita dan bertanggung jawab.” Wong aku sudah biasa mandiri, paling tidak mandi sendiri dan tidur sendiri.

Beberapa permenungan  yang membuat aku menanggapi demikian, dengan menekankan SUKACITA DAN BERTANGGUNG JAWAB. Saya ingin membagikan kepada yang lain, siapa saja, karena bukan mustahil selama pandemi covid 19 masih meraja , isolasi mandiri akan menjadi sebuah gaya hidup. Inilah permenunganku:

  1. Positive Thingking. Proses isolasi mandiri ini demi kebaikan aku dan orang lain, terutama rekan- rekan yang serumah denganku. Kalau dalam proses isolasi mandiri ini saya mengalami gejala yang mengarah, bahwa saya tertular virus covid 19, berarti harus berobat lebih lanjut. Dalam hal ini teman-teman akan terselamatkan. Artinya rumah, komunitas, kumpulan kita tidak menjadi cluster baru penyebaran virus yang galak ini. Posutive thingking, juga menguatkan diri bahwa belum  tentu  saya sakit. Hal ini penting agar selama proses isolasi mandiri ini saya tidak memperlakukan diri sebagai orang sakit. Aku beraktivitas harian biasa, yang prinsip adalah menjaga diri agar terisolasi dari orang-orang lain.

 

  1. Berkomunikasi Dalam Keheningan. Paus Benediktus XVI pernah menulis pada suatu kesempatan hari Komunikasi Sosial Sedunia tentang hal ini.  Dalam keheningan aku dengan bebas berkomunikas dengan Tuhan dan sesama. Permenungan dalam keheningan menghadirkan kembali semua simpul-simpul relasi antara aku dengan orang lain dan Tuhan. Syukur: akan terjadi disana. Penyesalan dan permohonan maaf akan terjadi disana. Dan penataan diri yang baru akan terencana dengan baik saat keheningan itu. Bukankah bunyi belalang sembah akan semakin jelas terdengar saat hening. Inilah saatnya mendengarkan dan peka akan suarah bathin.

 

  1. Rendah hati dan akui keterbatasan. Bahwa aku bukan “Super man, atau man-man” yang lain. Jabatan, capasitas, keahlian dll tidak otomatis membentuk aku menjadi manusia hebat. Hal-hal tersebut  tidak menjamin, kita menjadi manusia yang luar biasa. Kita sama dengan saudara-saudara kita yang kecil dan sederhana; sakit, menderita dan menangis, hilang harapan dan takut akan masa depan.

 

  1. Banyak Orang Mendoakan Kita. Keyakinan ini penting, karena kita sama-sama orang beriman. Persahabatan, dan kesetiakawanan akan terurai melalui lantunan doa-doa mereka. Banjir dukungan dan doa dari keluarga, famili, sahabat, orang-orang yang kita kenal. Hal ini membesarkan hati dan semangat kita pada saat rahmat itu.

 

Campo Belo 19 Juli 2020. Hubert, osc

Facebook Comments

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply