Dokter Betseba, Menjadi Garda Terdepan Sekaligus Motivator untuk Pasien Covid-19

 3,799 total views,  1 views today

dr.Betseba berpose di depan IGD RS Wisma Atlet

Kesedihan yang mendalam. Tetesan air mata mengucur tiada henti. Tak mampu berkata apa-apa, selain pasrah pada Yang Mahakuasa. Saat melirik keluarga dan sahabatnya, hati semakin tersayat. Mereka tak mampu menghantar ke tempat terakhir. Hanya melihat jenazah dari kejauhan. Virus Covid-19 ini memang kejam. Virus terkejam yang pernah terjadi di dunia ini. 

Menemani para pasien Covid-19 dalam perjuangan hidup yang sulit ini, menguras energi dan tenaga yang tidak sedikit. Pelayanan kesehatan secara medis tidak cukup membuat mereka tenang dan menerima kenyataan. Antara nyawa dan kuburan jaraknya hanya setipis benang. Mendengar banyak jumlah orang yang meninggal setiap hari, membuat jantung berdetak tak menentu.  

Selama kurang lebih satu tahun, perjuangan dokter Betsheba Elisabeth Simanjorang sebagai relawan di Wisma Atlet, Jakarta belumlah berakhir. Perempuan kelahiran Medan ini merasa tertantang menjadi garda terdepan bagi penyintas Covid-19. Tak dipungkiri ada perasaan takut, khawatir, dan cemas kemungkinan akan tertular virus mematikan itu kadang menggema di benaknya.

“Itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Menjadi garda terdepan bukan hanya memberikan pelayanan kesehatan melalui obat-obatan, tetapi harus mampu memotivasi pasien agar tidak terlalu stres. Imun tubuh akan semakin buruk jika pikirannya dihantui hal-hal negatif,” kata dr. Betseba saat wawancara melalui aplikasi kirim pesan pada Senin (05/04/2021).

Meskipun demikian, keinginan untuk membantu para pasien Covid-19 memiliki daya pikat yang kuat dalam dirinya. Naluri seorang dokter mengetuk rongga dadanya dan mendesak dr. Betseba untuk menyentuh dan memegang pasien Covid-19 secara langsung. Didasari niat baik itu, dr. Betseba tetap semangat dan mampu menjalankan tugas di Wisma Atlet dengan baik dan semangat. Disamping kesibukan untuk melayani pasien, dia tidak lupa menerapkan disiplin protokol kesehatan dan pola makan sehat. Bukan hanya itu, kata-kata motivasi juga memiliki dampak kuat bagi pasien.

Hari-hari besar keagamaan kadang menyiratkan kekhawatiran dr. Betseba karena jumlah pasien akan melonjak tinggi. Pada bulan Desember 2020, selesai masa Natal pasien berduyun-duyun menghampiri Wisma Atlet. Banyak dari antara pasien tersebut berasal dari satu keluarga dan teman dekat.

dr.Betseba sedang menjelaskan penyakit kepada pasien

“Bapak sama ibu itu gak usah takut anggap aja lagi liburan karena disini itu bebas mau olah raga bisa jalan-jalan di lapangan bebas mau go food bisa, makanan diantar. Yahh kayak di hotel. Intinya ibu tidak boleh stress, kalau ibu stress ini obat tidak berfungsi apa-apa. Jadi ibu bisa bantu dokter-dokter di sini dengan menjaga imun dengan tetap bahagia. Kalau ibu bisa begitu saya jamin dalam dua minggu kedepan ibu sudah sehat dan boleh keluar dari rumah sakit ini.”

Kata-kata motivasi itu selalu menggema di benak pasien tersebut. Benar, mereka tidak membutuhkan waktu yang panjang dalam proses pemulihan. Saat hendak pulang, keluarga tersebut selalu mengingat suara dr. Betseba. Tak lupa mereka mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan Wisma Atlet. Bukan hanya sampai disitu saja, komunikasi yang baik antar mereka berlanjut setelah saling tukar kontak masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran dr. Betseba menjadi berkat bagi sesamanya.

Perempuan berusia 27 tahun ini dikenal baik diantara rekan kerja di Wisma Atlet. Kepribadiannya yang tegas, namun lembut itu disenangi banyak orang. Saat terjadi perpindahan tempat dari tugas sebagai dokter umum ruangan ke Penanggung Jawab Instalasi Gawat Darurat (PJ IGD), rekan-rekan kerjanya sedih dan memintanya untuk tidak pindah. Namun, dr. Betseba harus mengikuti peraturan yang berlaku.

Dia mengakui bahwa sesuatu yang membanggakan karena mampu menolong pasien Covid-19. Itu akan diukir dalam sejarah hidupnya. Apalagi pasien yang dia rawat pulang dengan sembuh dan semangat. Kebahagiaannya bertambah dua kali lipat. Tak terkira.

Bukan hanya melayani pasien yang sakit, lulusan Universitas Prima Indonesia, Medan ini berbakat juga menjadi penyiar. Selama menjalani pendidikan dokter, dia mengabdikan diri sebagai volunteer di Radio Maria Indonesia. Dia menikmati pekerjaan itu sebagai sebuah pelayanan untuk menyeberkan kebaikan dan cinta kepada sesama manusia lewat menyiarkan informasi yang positif, mendidik, dan pewartaan sabda Tuhan.

Meskipun sibuk dengan rutinitas harian, dia juga senang berenang dan traveling. Hal tersebut membuat dia lebih semangat dan menikmati hidup. Memiliki kepribadian yang baik dan taat pada agama, telah diajarkan oleh kedua orang tua kepadanya sejak kecil. Tidak heran kalau dia menjadi misdinar di Gereja Paroki Santo Paulus Pasar Merah Medan selama sembilan tahun, yakni sejak duduk di kelas lima Sekolah Dasar hingga di bangku kuliah semester dua. (Sr. Angela Siallagan FCJM)

Facebook Comments
Baca juga  Paus Fransiskus Serukan Umat Manusia Doa dan Puasa Bersama Pada 14 Mei 2020

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply