Dion Sihombing Temui Uskup Agung Medan, Paparkan  Hasil Riset Doktoral Manajemen Sekolah Berbasis Budaya Batak

 1,093 total views,  1 views today

Akademisi Unimed, Dionisius Sihombing, yang juga Mahasiswa Doktoral Bidang Manajemen Pendidikan Pascasarjana Unimed, menemui Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius OFMCap, Senin 27 September 2021, di Pendopo Uskup, Jl. Imam Bonjol Medan.

Dionisius Sihombing, didampingi istrinya Evi Kristina Simorangkir,  sengaja berjumpa dengan Uskup Agung Medan, guna melaporkan hasil akhir studi doktoralnya di Unimed sekaligus melaporkan hasil penelitian yang dilaksanakan di Yayasan Pendidikan Katolik Santo Yoseph Medan di Pematang Siantar, dimana Uskup Agung Medan sebagai Pembina.

Dalam kesempatan itu, Dion Sihombing yang juga Sekretaris Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Medan, memaparkan alasan dasar melakukan penelitian di Yayasan St. Yoseph “Penelitian ini saya lakukan menyikapi hasil penelitian KOMDIK KAM tahun 2017 dimana  pengelolaan sekolah masih berbeda dengan harapan stakeholder sekolah. Oleh karena itu diharapkan adanya keterlibatan dan partisipasi aktif semua pihak lewat kerjasama yang baik. Selaras dengan budaya Batak bahwa sudah kebiasaan dalam program budaya melibatkan semua pihak terkait, mendengar suara para pihak, dan berdemokrasi (mufakat) dalam pengambilan keputusan  seturut dengan philosofi Dalihan Na Tolu (DNT). Sekolah pun patut dipandang sebagai suatu keluarga sekolah yang cita-citanya sejalan dengan cita-cita dalam budaya Batak yakni Hagabeon, Hamoraon dan Hasangapon.

Di sekolah Hagabeon itu jika banyak siswa/lulusan, hamoraon itu jika sekolah memiliki banyak asset, dan hasangapon itu jika sekolah beroleh pengakuan terpuji dari publik. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan sinergitas dan kerjasama dari tiga organ di sekolah yaitu organ pemberi restu, organ pemilik program dan organ pelaksana program.

Tiga organ ini adalah bentukan hasil adaptasi dari Dalihan Na Tolu: Hula-Hula, Dongan Tubu, dan Boru. Preposisi sesuai Dalihan Na Tolu di sekolah dapat berubah pada saatnya, sebagaimana terjadi juga dalam budaya Batak. Preposisi didasarkan pada fungsional bukan struktural. Maka pemaknaan posisi dan fungsional sebagai modal untuk bisa mensukseskan program-program sekolah: akademik, non akademik, kemitraan dan pendukung.

Untuk itu sekolah harus dipandang sebagai satu bentuk ikatan keluarga yaitu keluarga sekolah. Digerakkan atau diselenggarakan dan dikelola berbasis nilai-nilai, prinsip-prinsip dan norma-norma luhur: saling hormat, penuh kehati-hatian dan kasih sayang. Maka orientasi yang dituju adalah bonum commune (kebaikan umum) di sekolah dan bukan orientasi personal dan kelompok tertentu saja. Sistem Demokrasi di sekolah pun harus secara mufakat. Maka semua pihak atau stakeholder harus diberi ruang dan kesempatan mendiskusikan kemajuan sekolah, yang dianggap di dalamnya ada ikatan keluarga sekolah”.                             

Menanggapi itu Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFM.Cap., menyampaikan apresiasi atas model manajemen sekolah berbasis budaya Batak yang dihasilkan Dion Sihombing. Ia juga menilai sumbangan pemikiran ini bisa digunakan demi pemajuan pengelolaan sekolah.

“Sudah sejak dulu sistem budaya Batak ada dan sesuai dengan situasi kehidupan. Masyarakat Batak diajari untuk saling mendukung, bekerjasama dan saling kasih (holong) tidak boleh bersikap kasar kepada sesama apalagi sesama satu keluarga. Dalam banyak acara budaya semua pihak diberi kesempatan berpendapat dan itu tanda saling menghargai. Tidak ada monopoli satu pihak dalam memutuskan sesuatu. Tujuan dasar yang hendak diraih adalah kemajuan satu keluarga yang saling terkait.

Luar biasa jika Bapak Dion Sihombing mencoba mengangkat nilai philosofi budaya Batak dalam upaya memberi solusi agar manajemen sekolah Katolik ke depan menjadi lebih baik katanya. Saya turut gembira dan bangga atas karya itu dan jika ada saran-saran yang direkomendasikan dalam disertasi ini sangat baik dan saya sependapat agar ditindaklanjuti dalam prngelolaan sekolah di wilayah Keuskupan Agung Medan. Model Manajemen Sekolah Berbasis Budaya Batak sesuai untuk dapat diterapkan. Untuk itu tugas pak Dion Sihombing bisa jadi lebih berat ke depannya”, tandas Uskup.       

Lanjut Uskup, saya bangga dan gembira mengetahui pak Dion Sihombing sudah selesai studi Doktor dan akan dipromosikan oleh Unimed dalam sidang terbuka promosi doktor bidang manajemen pendidikan.

Dalam kesempatan itu pula, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap mendoakan dan memberi berkat agar sidang promosi doktor Dion Sihombing berjalan lancar dan ilmunya bermanfaat bagi orang banyak terutama bagi pendidikan Katolik ke depannya.  

Facebook Comments
Baca juga  Deseminasi Manajemen Pengelolaan Sekolah Berbasis Budaya Batak (MPSB3) Secara Online

Leave a Reply