BERSUKACITA

 2,318 total views,  1 views today

RP. Frans Sihol Situmorang, OFMCap || Dosen STFT Pematangsiantar

Bersukacitalah senantiasa! (Hari Minggu Adven III)

Kepada umat Israel yang pulang dari pembuangan, Yesaya menyerukan janji keselamatan dan tahun rahmat Tuhan. Orang miskin dan remuk hati, kaum tertindas dan terpenjara akan mengalami pembebasan. Hati umat itu bersukacita, “Aku bersukaria di dalam Tuhan, jiwaku bersorak-sorai dalam Allahku. Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran.”

Paulus mengajak umat di Tessalonika untuk selalu bersukacita, berdoa dan bersyukur. Bersukacita bukan karena tidak ada penderitaan atau karena kenikmatan duniawi, tetapi karena kehadiran Allah juga dalam penderitaan serta cobaan. Sukacita adalah buah pengharapan akan kehadiran Allah yang akan menyelamatkan, membebaskan dan menghibur. Kita bersukacita sebab Penyelamat dan Penebus sudah dekat, bahkan sudah hadir di tengah kita.

Yohanes menegaskan bahwa Juruselamat telah berada di tengah bangsa itu, namun tidak mereka kenal. Penyelamat yang sudah lama dinubuatkan para nabi dan kini sudah berada di tengah orang banyak tak dikenal, karena mereka membatasi diri untuk melihat pahlawan yang hebat. Impian mereka tentang Mesias begitu hebat, sehingga Yesus yang tampil amat sederhana tidak mereka lihat sebagai pemenuhan janji Allah. Rahasia pribadi Yesus dikenali ketika orang membuka hati dan mata kepada kaum kecil.

Sekelompok peziarah menuju Gua Maria sambil memikul beban berat. Hati mereka terarah pada tujuan yang ingin dicapai dan bukan pada beban berat yang mereka pikul. Seorang malaikat bergabung dengan mereka dan menaburkan benih putih kecil pada beban mereka. Benih itu tumbuh dan berkembang menjadi sayap-sayap yang membawa para peziarah itu menelusuri jalan menanjak dan berkerikil. Jauh di belakang ada juga peziarah. Wajah mereka murung mengeluhkan beban yang mereka pikul. Malaikat itu mendatangi mereka, tapi lewat terus. Seseorang bertanya, “Mengapa Anda tidak memberikan sayap kepada mereka? Mereka itu letih dan murung. Mereka lebih membutuhkan sayap daripada orang-orang yang berwajah riang di depan itu.” Jawab malaikat itu, “Benih-benih yang saya miliki hanya akan tumbuh di atas tanah yang cocok. Benih-benih itu membutuhkan keceriaan dan sukacita. Suasana hati yang penuh gerutu dan muka murung akan mematikan benih-benih itu.”

Ajakan Nabi Yesaya dan Paulus untuk senantiasa bersukacita ternyata masih jauh dari pengalaman kita. Tidak sedikit dari kita merasa hidup ini sebagai beban yang tak terpikul. Mungkinkah bersukacita ditengah tekanan dan himpitan beban hidup yang kian berat? Untuk bisa senyum pun sudah susah apalagi untuk bersukacita. Paling banter bisa bermimpi bersukacita.

Tak ada alasan untuk tidak bersukacita dan bersyukur, sebab Pembawa kabar gembira, tahun rahmat dan kebebasan sudah ada di tengah kita. Tapi, seperti orang pada masa Yohanes, kita tidak melihat Dia, sebab harapan kita tentang Allah kerap lain. Hidup bersukacita bukan berarti tanpa kesulitan. Kehadiran Juruselamat bukan ibarat tukang sulap yang dengan sim salabim menyingkirkan beban hidup. Dasar dan alasan sukacita kita ialah kepastian bahwa Allah menyertai kita. Sekitar kita banyak orang yang dirundung duka karena beban hidup. Seperti Yohanes, kita pun diutus untuk menyatakan bahwa Allah ada di tengah kita dan menyertai kita. Amin.

Facebook Comments
Baca juga  KAMI TELAH MELIHAT TUHAN

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply