“AKU MAU, JADILAH ENGKAU SEMBUH”

3,631 total views, 4 views today

RP. Huibertua Agustus Lidy, OSC.

(Im 13: 1-2.44-46, I Kor 10:31 – 11:1, Mrk 1:40 -45)

Orang Kusta, sebagaimana tertera dalam kisah Injil Markus pada hari Minggu ini, nampaknya ia sangat menderita. Penderitaan raga dan batinya. Bintik-bintik dan borok mengguyur tubuhnya. Tentu perih dan busuk. Ia juga terkucil dari tengah masyarakat dan keluarganya. Lapar, haus dan terlantar. Bahkan dianggap NAJIS, bukan saja karena penyakitnya itu, tetapi lebih jauh dari itu, ia dijastifikasi sebagai ORANG YANG DIKUTUK TUHAN. Sambil ia sendiri belum tahu dosa dan salahnya pada Tuhan. “Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, diluar perkampungan itulah tempat kediamannya.”

Apakah orang Kusta itu HILANG HARAPAN HIDUPNYA? Tidak! Hal itu di tunjukkan, saat bertemu Yesus. Semua orang yang hadir pada saat itu, menutup hidung, membuang muka dan ludah. Ia TEGAR DAN PERCAYA, sujud di hadapan Yesus, sembari memohon: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Yesus tergerak hati dan mengatakan: “Aku mau jadilah engkau tahir.” Orang Kusta itupun sembuh.

Ketulusan dan iman orang kusta itu patutlah kita acungkan jempol.  Sepenuhnya ia serahkan pada Tuhan. Ungkapannya sederhana: KALAU ENGKAU MAU, menunjukan bahwa ia tidak memaksa apalagi mendesak Yesus. Ia mempercayakan keputusan sepenuhnya pada Tuhan. Orang Kusta itu percaya bahwa keputusan Tuhan adalah terbaik untuknya. Bagi orang Kusta itu, ‘keberanian memohon’ agar sembuh, kiranya sejalan dengan yang digagas Rasul Paulus, bahwa hal itu merupakan cara MEMULIAKAN ALLAH.

Dalam menggapi kasih dan kebaikan Allah, orang Kusta itu tidak menempatkan diri sebagai korban dari kutukan. Pengucilan baginya bukan menjadi alasan untuk tidak ‘PD’ alias percaya diri. “Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.”  Prinsip orang Kusta itu bahwa Allah menyelamatkan semua orang.

Saudara dan saudariku.  Lebih dari setahun, virus covid 19 menggoyang dan memorak-morandakan jagat kita. Banyak dari antara saudara-saudari kita meninggal dunia.  Banyak orang yang terinveksi. Sakit dan sakit. Hidup   kita “tidak bebas” bak dikucilkan.  Usaha kita gagal, jatuh miskin dan masa depan menjadi kabur.  Dalam kondisi ini beberapa dari antara saudara dan saudari kita, menjalankan program yang mirip ‘pengucilan’: ISOLASI DAN KARANTINA. Tentu bukan karena najis, tetapi ini semua untuk kebaikan kita bersama. Salah satu cara untuk memutuskan mata rantai penyebarannya.

Saudaraku, sebagaimana orang Kusta itu, mari kita bersujud dihadapan Tuhan dan mohon agar Tuhan menghabisi/memproteksi virus ini, melalui upaya para ahli dan siapa saja yang bermaksud baik. Bagi yang sakit, Tuhan sembuhkan!  Semoga hidup, usaha dan kerja kita menjadi normal kembali. Bagi saudara-saudari kita yang meninggal terimalah mereka dalam Kemuliaan-Mu. Mari kita saling mendukung, mendoakan dan tetap teguh berharap pada KASIH DAN KEBAIKAN TUHAN. Tuhan katakan sepatah kata ini kepada dunia kami: “Aku mau jadilah engkau sembuh” (Hari Minggu Biasa yang ke 6 – 2021)

Facebook Comments
Baca juga  BACAAN INJIL, SELASA, 22 SEPTEMBER 2020

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply