Tantangan Membaharui Mentalitas di Masa New Normal

1,676 total views, 1 views today

 Salah satu dampak dari pendemi Covid 19, dalam kehidupan sosial bermasyarakat yakni terserapnya  beberapa istilah asing. Misalnya: Social Distancyng, Physical Distancing, dan sekarang New Normal. Istilah-istilah tersebut langsung dikenal oleh masyarakat Kota dan Desa. Apakah menulis dan menyebut istilah tersebut secara benar, itu soal lain.  Beberapa orang menggunakan istilah sesuai aslinya “New Normal.” Ada beberapa orang menterjemahkan dalam bahasa  Indonesia menjadi “Kenormalan baru atau tatanan baru.” Anda bebas, penting mengerti makna dan persoalan di balik istilah tersebut.
New Normal pada prinsipnya merupakan tanggapan kita keterkaitan dengan bagaimana membangun hidup dan komunikasi bersama saat ini. Saat Covid 19 memporak-porandakan dunia dengan segala isinya. Saat  seakan-akan yang normal, menjadi abnormal. Apapun ceritanya kehidupan ini harus berjalan, karena itu kita perlu “memenitsnya” secara lain dari biasanya sehingga aktivitas-aktivitas harian tetap jalan. Tujuaannya agar  rahmat hidup yang dipercayakan Allah kepada kita masing-masing berjalan secara efektif dan benar pada  sesuai dengan situasi dan keadaan saat ini.Toh hidup kita harus lebih produktif dan kualitas kerja kita tetap terjamin.
Apakah ada hal yang baru dalam era New Normal ini? Ada. Semangatnya yakni: PENATAAN ULANG. Misalnya: Tata ruang yang memungkinkan ada jarak berdiri, atau duduk, maka ruang tersebut  diatur kembali. Seperti  Rumah Ibadat, kantor, transportasi umum dll. Tata gerak dan relasi, misalnya: salam hormat; hanya tunduk, kedip dll, “no” jabat tangan, cipi-cipi, tepuk bahu, apalagi pelukan dll. Tata diri, misalnya: kenakan masker saat keluar rumah, selalu mencuci tangan dengan sabun, pada air yang mengalir dengan durasi waktu minimal 20 detik. Menghindari kerumunan. Hidup sehat agar imunitas terjaga. Perubahan-perubahan itu tanpa sadar membuat hidup dan relasi kita menjadi lebih formal dan individualistis. Kita lebih peka pada diri dan sesama,  dan saling menjaga diri dan sesama.
Pertanyaan reflektif untuk kita. Bagaimana kenormalan baru, menjadi sebuah kebiasaan  hidup saat ini? Tantangan bagi kita adalah bagaimana  masing-masing kita, pribadi per pribadi membaharui mentalitasnya, sehingga hal-hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan baru. Anda suka atau tidak mentalitas kita harus baru, karena kita diperhadapkan dengan resiko yang besar bagi orang lain. Kita tidak mau kalau hidup kita menjadi ‘bencana’ bagi orang lain. Kita inginkan ialah hidup kita ini menjadi rahmat bagi orang lain.
Saat kita mendalami hidup di era New Normal ini, maka inilah saat yang paling tepat  memaknai Hukum Kasih dalam kehidupan kita sehari-hari, di rumah, tempat kerja, pasar dll, “Mencintai  Allah, dan sesama, sebagaimana kita mencintai diri.”  New Normal itu sebuah istilah, mari kita wujudkan istilah itu dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Hubert OSC.
Facebook Comments
Baca juga  Mencari Rahmat Di Balik Puing-Puing Kehancuran

Rina Barus

Menikmati Hidup!!!

Leave a Reply