Refleksi Jumat Agung,

100 total views, 5 views today

“Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” KataNya “Akulah Dia.” (Yoh 18:4-5)

Banyak orang mencari Yesus awalnya dengan berbagai motivasi, ingin penyakitnya sembuh, yang kerasukan roh jahat ditahirkan, yang lapar untuk dikenyangkan, bahkan kedatangan-Nya supaya memberi hidup baru kepada yang meningal dunia. Banyak orang berduyun-duyun datang kepada Yesus, bahkan saat Dia masuk kota Jerusalem, merekapun memuji-muji Yesus dengan menhamparkan kain atau pakaian untuk dilewati-Nya. Namun mereka menyalibkan-Nya juga.

Yesus wafat. Yesus meregang nyawa di kayu salib tanpa kesalahan sedikitpun. Tahta salib-Nya justru merupakan upah dari perbuatan baik yang dilakukan-Nya. Fitnah, hoax, kabar atau berita yang tidak benar menjadikan Yesus harus menderita dan wafat.

Mendengar kisah sengsara dan wafat Yesus tidak hanya berempati dengan rasa sedih melainkan juga sesal. Mengapa hal itu bisa terjadi ? Itulah kelemahan manusia, yang ada hanya penyesalan diri setelah melakukan perbuatan yang salah, merugikan orang lain.

Para murid tidak menyaring pengaruh-pengaruh yang diterimanya. Kemudian pada saat yang sama menyebarkannya, dan tidak menyadari akan kesalahan mereka kalau berpartisipasi menyebarkan berita bohong menyebabkan orang lain menderita. Seolah-olah bisa menyalibkan Yesus merupakan sebuah kemenangan atau keberhasilannya.

Dalam kehidupan bersama kita, tidak jarang dijumpai orang yang membenci orang benar, apapun alasannya. Tidak jarang ada orang yang mudah ikut membenci orang atau saudaranya tanpa tahu alasannya. Bahkan ada kegiatan massal yang menghukum orang tak bersalah, sebelum proses peradilan. Sekali lagi, hanya karena hoax, orang lain harus mengalami kematian.

Yesus wafat karena kesalahan kita. Ada tiga hal yang bisa kita renungkan bersama dibalik peristiwa jumat agung ini :
1. Pengampunan. Kata Yesus, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Saling mengampuni diwariskan Yesus kepada umat-Nya.
2. Mentalitas pemenang meski dikalahkan dengan kecurangan. Tidak ada putus asa karena menderita. Kita tetap menang karena kita benar.

Semoga dengan penuh penyesalan, kita mohon ampun kepada-Nya dan siap memikul salib kita masing2 sebagai partisipasi mengikuti Dia. Bukankah hal itu juga yang diharapkan Yesus jika ingin mengikuti-Nya ? Kita harus bangga akan salib Tuhan kita dan juga salib kita masing-masing, agar kelak kitapun juga boleh mengalami kebangkitan dan kemuliaan bersama dengan Yesus yang tersalib.
“Kami bersujud kepada-Mu ya Tuhan, sebab dengan Salib Suci-Mu, Engkau telah menebus dunia”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *