Paus Leo XIV Serukan Perdamaian Lebih dari 400 Kali pada Tahun Pertama Kepemimpinannya

Paus Leo XIV melepaskan seorang merpati sebagai simbol perdamaian dalam kunjungan ke Kamerun (Foto: Vatican Media)

Oleh Eduardo Giribaldi

VATIKAN — Dalam tahun pertama masa kepemimpinannya sebagai Paus, Paus Leo XIV berulang kali menyerukan perdamaian dunia. Menurut laporan Vatikan, kata “perdamaian” disebut lebih dari 400 kali dalam berbagai pidato dan pesan publiknya sejak terpilih pada 8 Mei 2025.

Paus Leo XIV menggambarkan visinya mengenai perdamaian sebagai sesuatu yang “tanpa senjata dan melucuti permusuhan.” Pernyataan itu pertama kali ia sampaikan pada hari pertama pontifikatnya dalam berkat Urbi et Orbi di Vatikan.

Bagi Paus Leo XIV, perdamaian bukan sekadar penghentian perang atau kesepakatan gencatan senjata yang rapuh. Ia menilai perdamaian sejati harus lahir dari rekonsiliasi yang tulus dan mampu menyembuhkan luka kemanusiaan.

Dalam pesan Natal 25 Desember 2025, Paus mengutip penyair Yehuda Amichai untuk menggambarkan perdamaian sebagai “bunga liar” yang tumbuh di sela-sela beton—simbol harapan yang tetap hidup di tengah kehancuran konflik.

Kritik terhadap perang dan industri senjata

Sepanjang tahun pertamanya, Paus Leo XIV secara konsisten mengkritik perang, perlombaan senjata, dan pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari konflik bersenjata.

Dalam pertemuan dengan organisasi bantuan Gereja Timur (ROACO), ia menyinggung besarnya dana yang dihabiskan untuk perang dibandingkan kebutuhan kemanusiaan.

“Uang yang seharusnya digunakan untuk membangun rumah sakit dan sekolah baru justru dipakai untuk menghancurkan yang sudah ada,” kata Paus.

Ia juga mengecam para “penguasa perang” yang, menurutnya, mengetahui bahwa kehancuran dapat terjadi dalam sekejap, sementara proses membangun kembali membutuhkan waktu sangat panjang.

Menurut data yang disampaikan Vatikan, pengeluaran militer global pada 2024 meningkat 9,4 persen dan mencapai 2,718 triliun dollar AS atau sekitar 2,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia.

Dalam doa vigili perdamaian pada Oktober 2025, Paus menyerukan agar para pemimpin dunia memiliki “keberanian untuk melucuti senjata.”

Perdamaian sebagai pelayanan dan rekonsiliasi

Paus Leo XIV juga menekankan bahwa perdamaian harus diwujudkan melalui pelayanan kepada sesama, perhatian terhadap korban perang, dan solidaritas kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan dalam berbagai kesempatan, termasuk saat kunjungan ke Kamerun dan Lebanon, dua wilayah yang lama mengalami ketegangan dan konflik.

Dalam refleksi Pekan Suci, Paus menegaskan bahwa tidak ada perang yang dapat dibenarkan atas nama Tuhan.

“Tuhan tidak mendengarkan doa mereka yang mengobarkan perang,” ujarnya dalam homili Minggu Palma.

Ia juga mengingatkan bahwa kekuasaan dan uang sering kali menjadi “berhala modern” yang memicu konflik di berbagai belahan dunia.

Pendidikan damai dan budaya non-kekerasan

Selain menyerukan penghentian perang, Paus Leo XIV mendorong pembangunan budaya damai melalui pendidikan, olahraga, dan kebudayaan.

Kepada para uskup Italia, ia meminta pengembangan pendidikan non-kekerasan serta penguatan “budaya ingatan” agar tragedi perang di abad ke-20 tidak dilupakan.

Paus juga menyebut olahraga sebagai sarana penting untuk membangun persaudaraan dan rekonsiliasi.

“Dalam pertandingan maupun kehidupan, kejatuhan bukanlah akhir,” kata Paus dalam salah satu audiensi umum pada September 2025.

Menurut Paus Leo XIV, perdamaian bukan sekadar tujuan politik, melainkan perjalanan panjang menuju rekonsiliasi yang membutuhkan keberanian, harapan, dan kepedulian terhadap sesama.

Ia menutup salah satu pesannya dengan harapan agar “perdamaian liar” tetap tumbuh di tengah dunia yang dipenuhi konflik—seperti bunga kecil yang bertahan hidup di sela-sela beton.(VATICAN NEWS, 07 Mei 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com