Paroki St. Fidelis Sigmaringen Mempersiapkan Pewarta Kitab Suci

 626 total views,  1 views today

Paroki St. Fidelis Sigmaringen, Parapat menyelenggarakan Kursus Dasar Kitab Suci bagi para pengurus gereja.  Kursus ini dilaksanakan sebagai tindaklanjut dari hasil Rapat Paripurna beberapa waktu lalu yang menekankan perlunya diperbanyak perihal katekese atau pengajaran tentang gereja.

Sehubungan dengan ini, para pengurus gereja yang diharapkan menjadi pemandu katekese harus dibekali terlebih dahulu agar mereka dapat melaksanakan tugas ini dengan baik, apalagi Paroki St. Fidelis Sigmaringen, Parapat baru mengadakan periodisasi.

Para pengurus gereja yang baru terpilih perlu dibekali dengan baik agar dapat mengemban tugasnya dengan baik pula. Salah satu hal yang perlu dipahami para pengurus dengan baik adalah perihal Kitab Suci. Para pengurus  gereja harus memahami Kitab Suci, yang merupakan sumber utama iman umat Katolik, agar mereka bisa mewartakannya dengan baik pula. Inilah yang mendasari pelaksanaan kursus ini.

Kursus ini dipandu oleh tim dari Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM. Tim yang hadir dari Komisi yakni Sr. Petronella Br Karo KSSY dan Fernando HS Tamba. Materi yang dijelaskan dalam kursus ini yakni pengenalan dasar Kitab Suci yang dibawakan oleh Fernando HS Tamba dan langkah-langkah memetik pesan sebuah perikop Kitab Suci yang dipandu oleh Sr. Petronella Br Karo KSSY.

Kursus dilaksanakan di PPU, Parapat dan dilaksanakan dalam empat gelombang. Gelombang pertama dilaksanakan pada 20 April 2022, pesertanya yakni dari Rayon Ajibata dengan jumlah peserta 35 orang. Gelombang kedua dilaksanakan pada 21 April 2022, pesertanya dari Rayon Pondok Bulu dengan jumlah peserta 35 orang. Gelombang ketiga dilaksanakan pada 22 April 2022, pesertanya dari Rayon Parapat dengan jumlah peserta 39 orang. Gelombang keempat dilaksanakan pada 26 April 2022, pesertanya dari Rayon Lumban Pea dengan jumlah peserta 52 orang. Kursus sehari ini dimulai pada pukul 10.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB.

Baca juga  Membaca Merenungkan dan Menghayati Kitab Suci

Sebagai ringkasan dari materi yakni sebagai berikut: Banyak umat masih belum menyadari pentingnya Kitab Suci. Jawaban atas pertanyaan “Mengapa Kitab Suci harus dibaca” belum diketahui kebanyakan umat. Kitab Suci itu dibaca agar semakin mengenal Tuhan.

St. Hyeronimus menegaskan hal ini dengan ungkapannya yang mengatakan: “Tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Kristus”. Tuhan harus dikenal agar semakin diandalkan dalam hidup. Bila Tuhan diandalkan dalam hidup, maka umat akan mengalami keselamatan. Manusia menginginan keselamatan. Namun, usaha manusia tidak cukup untuk menjamin keselamatan manusia. Hanya kalau Tuhan diandalkan, maka keselamatan akan diperoleh oleh manusia.

Kitab Suci memberi penjelasan kepada manusia tentang siapa itu Tuhan dan apa yang dikehendaki-Nya untuk dilakukan oleh manusia. Kitab Suci itu berisi kumpulan kesaksian iman tentang sabda Tuhan dan tentang bagaimana manusia menanggapi sabda Tuhan yang ditulis oleh manusia dengan inspirasi Roh Kudus, yang nilainya sungguh baik dan berguna untuk menyucikan orang yang membacanya. Kitab Suci itu dibagi menjadi dua bagian besar yakni Perjanjian Lama (46 buku) dan Perjanjian Baru (27). Daftar resmi, sebagaimana yang ada saat ini, ditetapkan pada 8 April 1546 pada Konsili Trente.

Gereja mengajak umat untuk membaca Kitab Suci demi semakin menumbuhkan iman akan Tuhan. Pembacaannya dibuat seturut Penanggalan Liturgi. Sehubungan dengan  ini, para pembaca Kitab Suci harus memahami singkatan penulisan Kitab Suci, apalagi dalam Kitab Suci juga terdapat banyak singkatan. Ketika membaca Kitab Suci ada tiga prinsip yang harus senantiasa dipegang:

Baca juga  MENGENAL Ragam PUASA & TOBAT

Jangan memastikan yang belum pasti tentang Kitab Suci, setia pada Kitab Suci sebagai sumber dan jangan menafsir Kitab Suci menurut kehendak sendiri. Para pembaca Kitab Suci juga harus memulai dan mengakhiri pembacaan Kitab Suci dengan doa.

Demi semakin membantu pemahaman, hal-hal praktis yang perlu diperhatikan yakni: konteks, kutipan dan ayat sejajar, kamus, dan peta Kitab Suci. Para pembaca juga bisa menggunakan alat bantu lainnnya, misalnya ensiklopedi, konkordansi, buku tafsir, dan lain sebagainya. Para pembaca Kitab Suci harus ingat bahwa puncak dari membaca Kitab Suci adalah menemukan pesannya.

Agar pesan bisa ditemukan maka inti kutipan harus ditemukan. Agar inti ditemukan, maka kutipan harus dipahami secara utuh dengan baik. Bila ternyata kutipan tidak dipahami secara utuh, maka para pembaca bisa menggunakan prinsip dari kesan menuju pesan: berangkat dari apa yang menarik untuk menemukan pesan.

Demikianlah ringkasan dari materi yang disampaikan kepada peserta. Peserta juga diajak untuk latihan menemukan inti dan merumuskan pesan juga latihan menerapkan prinsip dari kesan menuju pesan. Semoga kursus ini berdaya guna bagi para pengurus gereja yang notabene merupakan para pewarta-pewarta ajaran gereja, salah satunya ajaran Kitab Suci. Kita akan semakin paham Kitab Suci bila kita dekat padanya. Kita akan semakin mampu mewartakannya bila kita terlebih dahulu menghidupinya. Penghayatan kita adalah pewartaan kita.   

(Fernando HS Tamba)

 

Facebook Comments

Leave a Reply