PARHATA menjadi PEWARTA

2,218 total views, 1 views today

Perempuan “Parhata”

Semasa kecil, ada kebiasaan indah yang kami alami dikampung halaman. Jika ada seorang ibu yang melahirkan, maka masyarakat sekitarnya akan pergi maranggap (selama tujuh hari tidur di tempat yang lahiran itu) sebagai tanda kekeluargaan dan rasa syukur bersama atas kelahiran anaknya. Malam ketujuh/ ari papituhon menjadi malam yang sangat ditunggu-tunggu dan sekaligus menjadi penutupan malam maranggap. Biasanya tuan rumah akan menyediakan snack khas batak yang dimasak bersama-sama seperti: ketupat, nitak gur-gur dan lappet.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum tidur biasanya mengadakan berbagai permainan; Teka-teki, main halma, ular tangga, main kartu dan  mendongeng/ marsuhut-suhutan bersama teman-teman. Bagi kami anak perempuan, Marsuhutan/ cerita dongeng adalah permainan yang paling kami senangi. Masing-masing dari kami akan mendapat giliran untuk menyampaikan cerita/dongengnya dan berusaha mencari cerita yang baru dan menarik untuk didengar orang lain. Biasanya semua akan berlomba menjadi terdahulu, maka sebelum dimulai akan diadakan hompimpa untuk menentukan urutan.

Diantara kami, ada beberapa teman sangat pintar bercerita. Ceritanya selalu baru untuk kami. Dia pintar mengekspresikan cerita itu. Jika ceritanya lucu, kami semua berhasil dibuatnya tertawa terpingkal-pingkal dan jika ceritanya yang sedih, kami pun sampai ada yang meneteskan air mata mendengarnya. Pokoknya giliran orang itu memang sangat kami tunggu-tunggu. Tetapi sebaliknya, ada juga teman kami juluki sisuhar sisik alias sipanggaron artinya pribadi yang selalu menjengkelkan. Ceritanya selalu yang horor, menjijikkan, yang genit-genit. Maka setiap kali gilirannya yang cerita pasti membuat situasi kacau. Tapi anehnya, tetap saja kami beri kesempatan untuk dia. Begitulah kami menikmati cerita satu sama lain hingga biasanya ada saja  teman yang tak sadar sudah ngorok hingga ngences. Ketika malam makin larut biasanya tuan rumah akan mengingatkan dengan mengatakan “hei akka parhata, modomma, sogot sikkola hamu” artinya, kami anak-anak perempuan yang suka ngomong/ bicara supaya tidur karna besok akan sekolah. Maka, orang yang belum sempat mendapat giliran cerita akan mesrasa dongkol, kesal dan menuntut supaya besok dia yang akan duluan mendapat giliran cerita.

 

Perempuan dipilih Allah menjadi Pewarta dan Saksi kebangkitan Kristus.

Sejalan dengan cerita sederhana di atas, bagi kita kaum perempuan mungkin pasti pernah mengalami rasa jengkel ketika dikatakan atau mendengar ocehan kalau perempuan itu “suka menggosip, cerewet alias jabir kata orang batak”. Benarkah demikian? Saya kira tergantung kita mengamini dan mengimani dari sudut pandang yang mana dulu. Kita boleh protes tapi introfeksi diri jauh lebih baik. Hal yang pasti bahwa pantas kita syukuri, Allah dalam sejarah rencana penyelamatanNya tidak pernah melupakan peranan dan keterlibatan para kaum perempuan. Dalam silsilah Yesus Kristus sendiri ada lima nama wanita yang tertulis di sana, yakni: Tamar, Rahab, Rut, Uria dan Maria (Mat.1:1-17). Mereka adalah  para wanita yang tangguh, dipilih Allah kendati juga tidak lepas dari segala kelemahan dan keterbatasan hidup mereka.

Baca juga  Rekoleksi Asrama Sehat Putera dan Puteri Tiga Binanga

Dalam kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, kita pun selalu diingatkan kembali akan peran penting para perempuan. Maria Ibu Yesus, Maria Magdalena kiranya mewakili pribadi perempuan yang tangguh, berani dan setia mengikuti Yesus dari peristiwa penderitaan hingga kebangkitan-Nya. Mereka tidak mundur atau bersembunyi ketika tantangan menghadang. Kesederhanaan dan ketulusan cinta mereka mengiringi perjalanan Yesus dengan setia hingga akhir hidup-Nya. Perempuan yang dianggap lemah, parhata, suka menggosip itu ternyata memang dia tidak mau diam atau menyimpan sendiri pengalaman imannya melainkan dengan berani dia pergi berlari mewartakan, berbagi apa yang disaksikannya, dirasakannya terkait dengan kebangkitan Kristus.

Paus Fransiskus dalam katekesenya di lapangan Basilika St. Petrus pernah mengatakan, bahwa para perempuanlah yang menjadi saksi pertama dari kebangkitan Yesus. Paus Fransiskus juga menegaskan bahwa para wanita didorong oleh cinta dan tau bagaimana menyambut pernyataan ini dengan iman. Mereka percaya dan dengan segera mereka menyebarkan kabar tersebut. mereka tidak menyimpannya untuk dirinya sendiri, tetapi dengan bergegas menyampaikannya kepada yang lain, yakni para murid Yesus. Pernyataan Paus di atas mengingatkan dan mengajak kita untuk berani bersaksi tentang kebenaaran.

Maria Magdalena menjadi saksi sekaligus pembawa kabar gembira yang menyatakan bahwa Kristus benar-benar sudah bangkit. Kabar gembira tersebut kemudian diceritakan oleh Maria Magdalena kepada murid-murid yang lain dengan mengatakan “Aku telah melihat Tuhan”. Selanjutnya, kabar sukacita itu disambut baik oleh para murid-Nya dan dalam kotbah pertama Rasul Petrus yang disertai daya Roh Kududs (Kis. 2: 36-41) secara lugas ia sampaikan kepada orang Yahudi dan semua yang tinggal di Yerusalem bahwa Allah yang telah membuat Yesus yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. Orang-orang yang menerima perkataan Petrus ini kemudia member diri untuk dibabtis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Maka tepatlah yang dikatakan oleh Mgr. Kornelius Sipayung, OFM Cap       , dalam kotbahnya pada malam paskah yang lalu di Gereja Katedral Medan, dengan lugas beliau menegaskan bahwa “Perempuan itu adalah Rasul dari para Rasul”.

Baca juga  KASIH MEROBOHKAN TEMBOK PEMISAH DALAM PERBEDAAN

 

Parhata Menjadi Pewarta Kabar Gembira.

Suatu waktu, saya sangat tersinggung membaca artikel di sebuah majalah Basis yang mengatakan demikian, “Tubuh perempuan tak ubahnya sebuah produk dan kaum perempuan sejajar dengan kelas buruh. Seperti buruh yang diperas untuk menghasilkan produksi sebanyak-banyaknya, demikian pula perempuan didikte untuk berusaha sekeras-kerasnya tampil cantik, sempurna, berkulit halus, dan ber-body sexy. Demikianlah, kapitalisme diam-diam menjadikan tubuh perempuan produk ekonomi yang disesuaikan dengan standar kesempurnaan kultural tertentu yang ditentukan kapitalisme itu sendiri”. Singkat kata, isi artikel itu berbicara tentang tubuh kaum perempuan yang menjadi salah satu korban atas ganasnya kapitalisme pada zaman ini. Sungguh, sebagai perempuan ketika membaca tulisan itu ada rasa sedih, kasihan terhadap sekaumku, juga ada rasa tersinggung karena sedikit banyak mungkin saya atau bahkan kita kaum berjubah juga ikut menjadi korban di dalamnya. Memang, jika kita runut dari zaman ke zaman kaum perempuan sering menjadi korban ketidak adilan oleh system budaya yang diam-diam diamini dan diimani oleh masyarakat.

Berangkat dari realitas zaman ini, marilah hai kaumku, kita belajar dari Maria Magdalena tentang keberaniannya menjadi saksi dari kebangkitan Kristus. Kita bangkit kembali membangun habitus kaum perempuan yang berdandan sikap rendah hati, rajin, suka menolong, tulus melakukan kebaikan, setia dan tangguh dalam menghadapi tantangan dan berani mewartakan kebenaran bukan pengecut atau suka menggosip, sebab “kata-katamu adalah doamu”. Maka Jadilah pewarta kebangkitan Kristus melalui sikap dan perkataanmu yang membuat orang semakin percaya pada Kristus yang bangkit.

Kendati situasi paskah tahun ini tidak bisa kita rayakan seperti biasanya akibat covid’19, namum semoga semangat kebangkitan Kristus tetap kita rasakan dalam diri dan keluarga kita masing-masing.

 

ditulis oleh: Sr. M. Egidia Sitanggang, SFD

 

Facebook Comments

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply