Paradoks Pengikut Kristus : Semakin Ditindas, Semakin Berkembang

 7,182 total views,  8 views today

REFLEKSI “BOOM KATEDRAL MAKASSAR” oleh Pastor Benny Manurung,OFMCap*)

Peristiwa ledakan bom di depan Gereja Katedral Makassar bertepatan dengan perayaan Minggu Palma kemarin, 28 Maret 2021, adalah satu dari sekian teror yang pernah terjadi di negeri ini, khususnya pada perayaan-perayaan besar umat Kristen. Teror secara manusiawi memang menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Namun, orang-orang Katolik pada situasi ini hendaknya mencatat, mengingat dan mencoba merefleksikannya dalam iman. Jangan menganggapnya “biasa saja” (tidak ambil pusing!) sehingga terlupakan begitu saja. Jangan juga selalu menganggap diri sebagai pihak yang sering dijadikan korban (playing victim). Namun, jangan juga mengupayakan aksi balas dendam. Perlawanan pengikut Yesus selalu dalam bingkai kasih.

Tanpa memandang sebelah mata akibat dari peristiwa teror itu, refleksi iman kita hendaknya bergerak lebih dalam menelisik sejarah di masa-masa lalu bagaimana iman kekristenan kita justru bertumbuh di dalam penindasan.

Bila tujuan para teroris untuk menciptakan ketakutan dan membuat ‘efek jera’ supaya orang Kristen berhenti beribadah dan beriman kepada Yesus, maka para teroris tentu SALAH TOTAL. Iman para pengikut Kristus sejak awal bertumbuh dan berkembang justru dalam tekanan. Pada abad-abad awal kekristenan, ketika Yesus tidak lagi bersama para murid-Nya, orang-orang Kristen merupakan sebuah kelompok terlarang yang harus ditindas. Sebagaimana kita tahu, penganiayaan paling besar pada waktu itu terjadi pada masa Kaisar Diolektianus (abad III).

Ia mewajibkan orang-orang Kristen mengikuti praktik-praktik keagamaan Romawi tradisional. Masuk akal, peradaban Kristen pada waktu itu termasuk peradaban baru yang muncul di tengah-tengah kebudayaan yang sudah mapan. Karena penolakan dari orang-orang Kristen terhadap arahan dari pemerintah, maka orang-orang Kristen ditindas dan dibunuh. Penindasan berlangsung tiada henti hingga dikeluarkannya edik Milan Kaisar Konstantinus pada tahun 313. Berkat inspirasi salib (“in hoc signum vinces” – dengan tanda ini engkau akan menang), Konstantinus meraih kemenangan perang. Sejak saat itu agama Kristen diterima dan berkembang hingga ke seluruh dunia dengan pesatnya hingga hari ini.

Kebetulan peristiwa bom Makassar ini terjadi pada perayaan Minggu Palma: Yesus memasuki kota Yerusalem. Saya merefleksikan peristiwa teror ini sebagai tonggak awal permenungan memasuki Pekan Suci; merefleksikan sengsara dan kebangkitan Yesus Kristus. Sebagaimana saya katakan tadi, kalau tujuan para teroris hendak menanamkan ketakutan dan kengerian, strategi mereka tentu salah total dan keliru. Sejarah sudah membuktikan, di mana Gereja ditindas dan dibelenggu, di sana Gereja justru akan semakin berkembang subur. Justru musuh paling besar kekristenan bukanlah ketakutan dan penindasan tetapi kemapanan. Sekali lagi, KEMAPANAN! Kemapanan membuat Gereja mandek dan jalan di tempat. Lihatlah situasi Gereja di Eropa saat ini! Benar bahwa kesulitan dan penderitaan bukan sesuatu yang dibuat-buat apalagi harus dicari. Tetapi, pada saat-saat seperti inilah kata-kata Paus Fransiskus menjadi semakin nyata kita renungkan: “Gereja yang keluar dari dirinya sendiri, Gereja yang keluar dari kemapanan”. 

Ketika Yesus mengatakan: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23), Dia bukan sedang melukiskan sebuah ilusi. Yesus sendiri sebenarnya sedang menegaskan sebuah REALITAS kemanusiaan kita. Salib adalah kenyataan hidup kita. Kalau mau diterjemahkan lebih ringan kira-kira begini bisa dikatakan: ‘Gak dicari pun, salib akan datang sendiri. Alih-alih mengusahakan, salib adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Namun paradoksnya, justru hanya lewat salib itu kita sampai kepada kebangkitan. Yesus sendiri memberi teladan dan sudah membuktikannya, dan inilah justru yang menjadi topik permenungan pada masa-masa yang khusus ini.

Lantas, apa yang harus kita buat? Marilah kembali melihat dan merefleksikan Salib, berguru dari-Nya. Ajaran Yesus adalah Sabda yang memberikan inspirasi; sebuah peradaban yang baru, peradaban yang maju selangkah dari “mata ganti mata” (Perjanjian Lama) ke “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka” (Hukum Kasih). Ini benar-benar ajaran yang menyempurnakan keberadaan manusia itu sendiri, yang menaikkan harkat dan martabat kemanusiaan kita. Kalau orang lain menyakiti anda dan anda membalasnya setimpal atau lebih, itu sangat manusiawi. Tetapi kalau orang lain menyakiti anda dan anda membalasnya dengan kebaikan, ini baru ilahi. Sebab itu, ajaran Yesus disebut membawa kebaruan bagi peradaban kita. 

Peristiwa teror kita harapkan tidak akan terjadi lagi. Di lubuk hati terdalam, kita mendoakan mereka yang berniat jahat supaya bertobat. Cara-cara usang seperti itu tidak akan menyurutkan iman orang-orang Kristen, justru sebaliknya. Sejarah sudah membuktikannya. Pelaku teror justru layak dikasihani. Iming-iming surga dan sekumpulan bidadari adalah sesuatu yang absurd apalagi harus lewat cara-cara yang sadis dan melukai. Pencerahan dan apologetik orang-orang Kristen memang sangat dibutuhkan lewat perkembangan media sosial (youtube, tiktok, instagram, dll.). Namun, ‘perlawanan’ itu harus selalu dalam bingkai kasih: tidak menyulut kemarahan apalagi menyuburkan kebencian, meskipun yang memunculkan pertentangan dan kontradiksi selalu lebih menarik dan selalu lebih viral.

Facebook Comments

Leave a Reply