
Agnes Im Sun-hae saat tampil di Pusat Seni Mapo, Korea Selatan pada 12 November 2025 (Foto: Mapo Cultural Fundation)
Oleh Michaela Lee JU-Yeon, reporter UCA NEWS
KATOLIK KOREA: Agnes Im Sun-hae menemukan makna perjalanan musiknya saat duduk di sebuah katedral pada 2009. Kini, soprano ternama dunia itu memilih membawa musik bukan hanya ke panggung megah, tetapi juga kepada mereka yang membutuhkan penghiburan.
Penampilan pertama Im pada awal tahun ini bukan digelar di aula konser besar yang dipenuhi ribuan penonton. Penyanyi berusia 50 tahun itu justru tampil di sebuah gereja kecil dan panti jompo di wilayah pedesaan Jeonbuk, sekitar 200 kilometer dari Seoul, Korea Selatan.
Dalam konser bertajuk “Hope Sharing Concert” atau “Hinakon” pada pertengahan Januari lalu, sebagian besar penonton merupakan lansia penghuni panti. Beberapa di antaranya tampak meneteskan air mata saat mendengar lagu-lagu yang dibawakannya.
Usai tampil, Im tidak langsung meninggalkan lokasi. Ia ikut menikmati ramen, sup fish cake, dan kimchi bersama para penghuni panti serta umat Katolik setempat yang menyiapkan hidangan. Ia juga memeluk para lansia sebelum berpamitan.
“Saya tidak tahu apakah dalam hidup ini saya bisa mendengar nyanyian seperti itu lagi,” ujar salah seorang penghuni panti.
Penyanyi Sopran Dunia
Im dikenal sebagai salah satu penyanyi sopran paling terkemuka di dunia. Selama hampir tiga dekade terakhir, ia tampil di berbagai kota besar dunia.
Musisi Belgia René Jacobs bahkan pernah menyebutnya sebagai “salah satu penyanyi dan penampil paling luar biasa” yang pernah ia kenal.
Namun bagi Im, pengalaman tampil dalam konser Hinakon justru menjadi salah satu pencapaian paling bermakna dalam kariernya.
“Di tempat seperti inilah saya bisa kembali pada niat awal dan melakukan perenungan yang tidak mungkin didapat di panggung besar,” katanya.
Gerakan Harapan dan Berbagi
Hinakon bermula dari Festival Budaya di Myeongdong Cathedral pada 2009. Program itu kemudian berkembang pada 2013 menjadi gerakan konser berbasis harapan dan berbagi.
Konser “Hope Concert” digelar atas undangan gereja atau institusi tertentu. Hasil penyelenggaraannya digunakan untuk membiayai “Sharing Concert”, yakni konser di gereja pedesaan, fasilitas sosial, dan rumah sakit yang sulit mengakses pertunjukan musik. Para musisi tampil secara sukarela tanpa menerima bayaran.
Selama lebih dari dua dekade, Hinakon dinilai berhasil membangun budaya berbagi dan pengharapan.
Salah satu kisah menyentuh terjadi tahun lalu di Gangneung Calvary Hospital, rumah sakit hospice pertama di Asia yang berdiri sejak 1965 dan dikelola Kongregasi Little Companions of Mary.
Seorang pasien yang selama ini menolak ditemui siapa pun akhirnya membuka pintu kamarnya setelah mendengar musik konser dari luar. Ia meminta dibawa ke ruang pertunjukan. Dua hari kemudian, pasien itu meninggal dunia.
Konser Hinakon terbaru digelar di Paroki Hogyedong, Keuskupan Suwon, pada 9 Mei lalu. Sejumlah konser serupa juga dijadwalkan berlangsung di berbagai wilayah, termasuk Keuskupan Chuncheon.
Menemukan Makna Musik
Lahir di Cherwon, Korea Selatan, pada 1976, Im menempuh pendidikan musik vokal di Seoul National University dan University of Music Karlsruhe di Jerman.
Pada 1997, ia meraih berbagai penghargaan nasional dan internasional di Seoul, Osaka, dan Tokyo. Tiga tahun kemudian, ia menjadi salah satu finalis ajang bergengsi Queen Elizabeth Competition di Brussel.
Karier internasionalnya dimulai pada 1999 lewat penampilan di Antwerp, Belgia, saat membawakan karya Mozart berjudul Et Incarnatus Est.
Meski telah mendunia, Im mengaku lama mencari jawaban atas satu pertanyaan penting: “Apa makna sebuah lagu bagi dunia?”
Jawaban itu baru ia temukan 10 tahun setelah debutnya, ketika sedang duduk di sebuah katedral.
“Dua kata muncul dalam benak saya: penghiburan dan sukacita,” katanya.
Awalnya ia mengira musiknya harus menjadi sarana memberi penghiburan dan kebahagiaan kepada orang lain. Namun kemudian ia menyadari bahwa musik juga menjadi sumber sukacita dan penghiburan bagi dirinya sendiri.
“Karena saya sendiri merasa terhibur dan bahagia, maka lagu ini juga bisa membawa sukacita bagi orang lain,” ujarnya.
Menembus Tradisi Musik Eropa
Dalam tradisi musik klasik Eropa, karya Bach Passion dianggap sebagai repertoar yang sangat khusus, terutama selama masa Prapaskah. Sangat jarang penyanyi Asia dipercaya menjadi solois soprano dalam pertunjukan tersebut.
Sekitar 2005, Im sempat mendapat kesempatan tampil. Namun meski latihan berjalan baik, ia akhirnya digantikan oleh soprano asal Jerman.
Beberapa tahun kemudian, René Jacobs justru mempercayakan peran solois soprano untuk St. Matthew Passion dan St. John Passion kepadanya.
Menurut Jacobs, Im memiliki sesuatu yang dulu dimiliki musisi Eropa saat menciptakan musik itu, tetapi kini mulai hilang.
Dalam setiap persiapan konser, Im memberi perhatian besar pada lirik lagu. Ia membandingkan teks dalam sedikitnya dua bahasa asing sebelum menerjemahkannya ke dalam bahasa Korea.
Baginya, panggung oratorio memiliki makna tersendiri. Di atas panggung itu, ia hanya mengandalkan tatapan mata dan suara tanpa kostum mewah ataupun akting.
“Musik ini membuat saya tetap membumi dan rendah hati,” katanya. “Setiap kali bernyanyi, saya berdoa agar lagu itu menjadi doa saya, bukan sekadar penampilan yang dianggap hebat oleh orang lain.”
Iman yang Menjadi Penuntun
Im merupakan seorang Katolik taat seperti kedua orangtuanya. Ia rutin mengikuti misa dan selalu berdoa sebelum makan.
Ia mengenang, saat berada di Eropa, orang-orang sempat memandang heran ketika ia membuat tanda salib sebelum makan. Namun pada waktu makan berikutnya, beberapa orang mulai ikut melakukannya.
Kini, Im mengatakan akan terus bernyanyi selama masih mampu.
“Saya ingin mencapai saat ketika saya bisa berkata dengan lega bahwa saya telah menyelesaikan pertandingan, seperti yang dikatakan Rasul Paulus,” ujarnya. “Saya ingin mempersiapkan diri turun dari panggung dengan elegan.”(UCA NEWS, 21 Mei 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr