Akademisi : Pemahaman Yang Tepat Menghalau Ketakutan Vaksinasi Pada Lansia

 236 total views,  1 views today

Deliserdang – Salah satu kebiasaan buruk masyarakat adalah langsung meyakini info yang berkembang dari mulut ke mulut tanpa mencari tahu kebenarannya.

Contoh kasus pada Jumat, 8 April 2022, seorang warga berusia 50 tahun di Kecamatan Hamparan Perak mengalami demam selama tiga hari setelah vaksin.

Kondisi yang dialami perempuan yang memasuki pra lansia tersebut langsung menjadi buah bibir di sekitarnya. Hal ini tentu menimbulkan persepsi yang negatif terhadap vaksin. Banyak masyarakat dan lansia menjadi takut untuk divaksin.

Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Frans Judea Samosir, S.Psi., MPH memberikan pendapatnya terkait vaksin bagi lansia. Menurutnya, rasa takut yang muncul di masyarakat terutama pada lansia dapat disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.

“Faktor internal misalnya usia, pendidikan dan jenis kelamin.  Berdasarkan riset memang ditemukan bahwa faktor internal tersebut cukup berpengaruh kepada persepsi terhadap vaksin. Faktor external misalnya seperti munculnya isu-isu hoax yang tidak ditemukan kebenarannya. Sangat penting memahami info yang benar dari pihak yang benar dan berwenang,” kata Frans, Jumat (8/4/2022).

Perlu dipahami juga bahwa demam setelah divaksin merupakan hal yang wajar yang dinamakan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi).

“Bisa saja apa yang dialami warga tersebut itu adalah efek samping dari vaksin. Apabila memang kondisi tersebut terjadi setelah mendapat vaksin,” pungkas Frans.

Baca juga  Simak Alur Penerima Vaksinasi Covid-19

Lebih lanjut, akademisi yang juga berprofesi sebagai konselor ini menjelaskan pentingnya untuk memperhatikan kesehatan tubuh setelah divaksin.

“Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memastikan kondisi setelah mendapat vaksin untuk dapat memantau kejadian pasca vaksin. Tentu saja, ada tenaga kesehatan yang dapat menjadi sumber informasi”, ungkap Frans.

“Penting juga bagi lansia yang tidak bisa mandiri untuk didampingi oleh anggota keluarga sehingga mendapat dukungan sosial yang tepat”, imbuhnya.

Maka dari itu mari sayangi orang tua kita, sayangi lansia dengan menemani mereka untuk vaksinasi. Kita harus mendukung percepatan vaksinasi dengan mensukseskan vaksinasi lansia.

Sebagai penutup, Frans berpesan agar masyarakat jangan mudah percaya begitu saja dengan isu-isu yang belum tentu kebenaran beritanya.

“Cari tahulah manfaat dan kemungkinan efek kejadian pasca vaksin terlebih dahulu, supaya kita siap. Rasa ketakutan itu normal dan hal yang wajar. Tapi kita juga perlu pemahaman yang lebih tepat lagi soal vaksinasi untuk usia rentan,” tegas Frans.

 

Penulis : Safri Adi (Jurnalis Warga)

Facebook Comments

Sri Lestari Samosir

Ibu Bahagia. Freelance Writer. Womanpreneur.

Leave a Reply