Vatikan: Ketergantungan pada Deterrensi Nuklir Tingkatkan Risiko Global

Takhta Suci Vatikan memperingatkan bahwa meningkatnya ketergantungan pada deterrensi nuklir, modernisasi persenjataan, serta penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem militer,Rabu 29 April 2026

NEW YORK, KOMPAS.com — Takhta Suci Vatikan memperingatkan bahwa meningkatnya ketergantungan pada deterrensi nuklir, modernisasi persenjataan, serta penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam sistem militer mendorong dunia ke arah yang semakin berbahaya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Misi Pengamat Tetap Takhta Suci untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam debat umum Konferensi Tinjauan ke-11 Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) di markas besar PBB, New York, Rabu,29 April 2026.

Dalam forum itu, delegasi Vatikan menyebut situasi global saat ini sebagai momen dengan “tingkat keseriusan yang mendalam,” di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan melemahnya kerangka pengendalian senjata.

Vatikan juga menyoroti kembalinya retorika nuklir, termasuk ancaman terkait kemungkinan penggunaan dan uji coba senjata nuklir.

Pergeseran dari diplomasi multilateral

Mengutip Paus Leo XIV, Takhta Suci menyesalkan pergeseran dari diplomasi multilateral yang berbasis dialog dan konsensus, menuju pendekatan yang lebih mengandalkan kekuatan.

Selain itu, serangan terhadap fasilitas nuklir dalam beberapa waktu terakhir dinilai sebagai tanda melemahnya norma internasional yang selama ini menjaga keamanan global.

Kekhawatiran khusus juga diarahkan pada meningkatnya peran kecerdasan buatan dalam pengambilan keputusan terkait nuklir. Vatikan menilai, penggunaan AI dapat mengurangi waktu pertimbangan manusia saat krisis, sehingga meningkatkan risiko kesalahan perhitungan serta mengaburkan dimensi moral dalam keputusan hidup dan mati.

Pentingnya pelucutan senjata dan non-proliferasi

Vatikan menegaskan kembali pentingnya Traktat Non-Proliferasi Nuklir dengan tiga pilar utama, yakni pelucutan senjata, non-proliferasi, dan pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai, sebagai fondasi perdamaian dan keamanan internasional.

Terkait pelucutan senjata, disebutkan bahwa Pasal VI mewajibkan negara-negara untuk melakukan negosiasi menuju penghapusan senjata nuklir. Kewajiban ini dinilai semakin mendesak seiring modernisasi arsenal oleh negara-negara pemilik senjata nuklir.

Tren tersebut, menurut Vatikan, berisiko memperkuat paradigma yang “secara strategis dan moral sudah dipertanyakan.” Ketergantungan pada deterrensi dianggap mencerminkan pendekatan keamanan yang bertumpu pada ancaman dan kerentanan bersama, bukan pada hukum dan kepercayaan.

Dampak kemanusiaan yang katastrofik

Mengingat dampak kemanusiaan yang sangat besar dari penggunaan senjata nuklir, Vatikan kembali menyatakan dukungannya terhadap Traktat Pelarangan Senjata Nuklir, yang dinilai memperkuat kerangka moral dan hukum bagi pelucutan senjata.

Dalam isu non-proliferasi, Takhta Suci juga menyerukan penguatan pengawasan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta dukungan baru terhadap pembentukan zona bebas senjata nuklir di Timur Tengah.

Namun, Vatikan menegaskan bahwa verifikasi saja tidak cukup tanpa upaya mengatasi akar penyebab ketidakamanan melalui dialog dan keterlibatan yang bertanggung jawab.

“Perdamaian tidak bisa bertumpu pada rasa takut”

Terkait pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai, Vatikan menegaskan hak setiap negara untuk mengembangkan teknologi nuklir sesuai kewajiban internasionalnya, termasuk untuk bidang kesehatan, pertanian, ketahanan pangan, dan perlindungan lingkungan.

Menutup pernyataannya, Takhta Suci mengutip seruan Paus Leo XIV tentang pentingnya “perdamaian yang dilucuti dan melucuti.” Perdamaian sejati, tegasnya, tidak dapat dibangun di atas rasa takut, melainkan harus berlandaskan kepercayaan, dialog, dan pengakuan atas kemanusiaan bersama.(VATICAN  NEWS,30 April 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com