Ada Sastra di Balik Penulisan Kitab Suci

2,175 total views, 3 views today

Komsoskam.com – Sebanyak 31 orang frater Kapusin Provinsi Medan kembali mengikuti Kursus Kitab Suci, setelah sebelumnya mengikuti Kursus Dasar Kitab Suci tentang “Pengenalan dasar Kitab Suci”. Tema kursus kali yakni “Memetik makna Kitab Suci dengan memperhatikan sastra penulisannya”. Kursus ini dilaksanakan mulai tanggal 17 sampai dengan 21 Maret 2020 di Biara Kapusin, Parapat dan didampingi oleh tim dari Komisi Kerasulan Kitab Suci KAM. Tim dari Komisi mendampingi yaitu: Bapak Marhosing P Tampubolon dan Fernando HS Tamba.

Kursus ini dimulai dengan ibadat untuk memohon terang Roh Kudus sehingga kegiatan kursus dapat berjalan dengan baik sampai akhir pelaksanaan kursus. Selanjutnya, pendamping menjelaskan dasar pelaksanaan kursus. Kepada peserta, pendamping menjelaskan isi dari Dokumen Konstitusi Dei Verbum (yang dihasilkan dalam Konsili Vatikan II, 1965) no. 12 tentang “Bagaimana Kitab Suci harus ditafsirkan”. Melalui dokumen ini ditegaskan tentang pentingnya memperhatikan sastra penulisan Kitab Suci demi semakin menemukan pesan kutipan secara tepat.

Setelah peserta memahami maksud dari dokumen ini, selanjutnya, pendamping mengajak peserta untuk mempelajari beberapa sastra yang dipakai untuk menuliskan Kitab Suci. Ada lima sastra yang dipelajari yaitu: sastra perumpamaan, sastra kisah panggilan, sastra mukjizat, sastra mitos, dan sastra apokaliptika.

Proses kursus yang diterapkan yakni diawali dengan penjelasan sastra yang sedang dipelajari, melihat secara bersama contoh kutipan yang dituliskan dengan menggunakan sastra yang sedang dipelajari, latihan pribadi, diskusi kelompok, dan pendalaman salah satu kutipan yang dituliskan dengan menggunakan sastra yang sedang dipelajari. Demikian diterapkan untuk setiap pembelajaran kelima sastra.

Baca juga  Gema BKSN Paroki St. Fransiskus Asisi Jalan Medan

Peserta sangat antusias dalam mengikuti tahapan setiap kursus, baik ketika penjelasan awal, kerja pribadi, diskusi kelompok, dan pendalaman. Pendamping sungguh melihat keseriusan peserta dalam mengikuti kursus ini. Pengamatan pendamping juga diteguhkan oleh apa yang dikatakan oleh peserta pada penghujung kegiatan. Dua dari 31 frater mengungkapkan kesan bahwa kursus ini sangat menarik dan karena sangat menarik maka mereka pun diajak untuk mengikuti tahapan demi tahapan. “Kursus ini sangat menarik. Saking menariknya, kami berusaha untuk tidak ketinggalan satu tahap pun dari tahapan kursus ini. Semakin menarik lagi, karena kami tidak hanya berbicara tentang Kitab Suci, tapi juga tentang pengalaman hidup kami dalam pendalaman-pendalaman yang disajikan”, demikian diungkapkan oleh salah satu peserta. Karena begitu semangat, bahkan mereka ingin ada kursus lanjutannya lagi.

Setelah menjalani kursus selama 5 hari, akhirnya kursus ditutup pada 21 Maret 2020, sekitar pukul 12.30 WIB. Akhirnya kursus bisa diselesaikan, walaupun situasi sudah mulai mencekam karena wabah virus corona yang semakin menakutkan. Semoga dengan pembelajaran ini, pesan Kitab Suci semakin ditemukan dan pada akhirnya diamalkan dalam hidup. “Puncak dari membaca Kitab Suci adalah menemukan pesannya untuk dikerjakan”, demikian kata pendamping. (Fernando Hadi Sumarta Tamba)

Facebook Comments

Ananta Bangun

Suami berbahagia dari Eva Susanti Barus | Sering menulis di blog pribadi anantabangun.wordpress.com

Leave a Reply