Kotbah Minggu 27 Juli 2025 | Ajarlah Kami Berdoa
Kej 18:20-32; Kol 2:12-14; Luk 11:1-13 /Hari Minggu Biasa XVII
Seorang dari para murid meminta agar Yesus mengajar mereka berdoa. Setelah mengajarkan doa Bapa Kami, Yesus menjelaskan sikap yang harus dimiliki saat berdoa. Yesus menceritakan perumpamaan tentang seseorang yang kedatangan tamu. Karena tidak memiliki makanan, ia pergi meminjam roti kepada tetangganya. Walau merasa tidak enak karena sudah tidur dan hari telah larut malam, tetangganya akan bangun dan memberikan roti yang diminta sahabatnya mengingat sikap sahabatnya yang tidak tahu malu.
Yesus mau menegaskan agar para murid tetap tekun berdoa dan tidak merasa malu memohon, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” Yesus memberi garansi bahwa doa kita pasti didengarkan dan dikabulkan. Ungkapan ini kerap salah dipahami, sepertinya Allah akan memberikan apa saja yang kita mau. Yesus tidak berkata, “Mintalah apa saja yang kamu mau maka akan dipenuhi Allah.” Seturut kebijaksanaan dan kebaikan-Nya, Allah akan mengabulkan dan memberikan yang terbaik yang kita perlukan. Untuk menjelaskan kemurahan hati Allah, Yesus memakai contoh dari hidup sehari-hari. Hati bapa pasti luluh mendengar permintaan anaknya tapi mustahil ia tega mengelabui anaknya dan memberi hal yang mencelakakan. Ia akan memberi apa yang berguna, bukan apa saja yang dimaui anaknya.
“Jika kamu yang jahat tahu memberi yang baik kepada anakanakmu, apalagi Bapamu yang di surga. Ia akan memberikan Roh Kudus kepada yang meminta kepada-Nya.” Kebaikan manusia tidak dapat dibandingkan dengan kebaikan Allah. Kalau manusia yang sering bertabiat jahat pun tahu memberikan yang baik, apalagi Bapa di surga. Dia akan memberikan Roh Kudus kepada kita sebagai karunia tertinggi dan terindah.
Orang Yunani memiliki cerita bagaimana dewa-i menjawab doa. Jawaban atas doa justru menjadi perangkap. Ketika Aurora, dewi kesuburan, jatuh cinta kepada seorang pemuda tampan bernama Titonius, ia meminta hadiah dari Zeus, raja para dewa agar Titonius, kekasihnya, hidup selamanya. Doanya dikabulkan. Lambat-laun, Titonius mulai makin tua dan penyakitan, namun tidak mati-mati, sehingga menjadi beban berat bagi Aurora. Hadiah yang diminta Aurora menjadi beban dan kutuk baginya. Ia lupa meminta agar kekasihnya tetap muda dan sehat. Sering kita memohon sesuatu yang kita pikir sangat kita perlukan. Tapi, Allah mengetahui apa yang paling kita perlukan. Dia mengabulkan doa kita menurut cara-Nya yang bijaksana dan penuh kasih. Orang yang mengerti doa sebagai litani harapan yang mesti dikerjakan Allah kerap akan kecewa. Ayah yang bijak memberikan apa yang dibutuhkan anaknya, yang saat itu mungkin belum dipahami anaknya. Doa berarti memercayakan diri kepada Allah serta mencari kehendakNya, seperti diajarkan Yesus dalam doa Bapa Kami, “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di surga.”
Kita tekun berdoa bukan untuk mengubah hati dan pikiran Allah, tetapi untuk menunjukkan kepercayaan dan harapan kita kepada-Nya, agar kita dapat mengerti dan menjalani rencana Allah. Allah itu maha baik. Kebaikan-Nya melampaui kebaikan yang bisa diharapkan dari seorang ayah. Dalam kebaikanNya, Ia akan memberikan Roh Kudus kepada kita. Bila Roh Allah ada dalam diri kita, saat berdoa kita tak lagi membutuhkan katakata, sebab Roh itu sendiri yang berdoa dalam hati kita, “Ya, Abba, ya, Bapa.” Amin
RP Frans S. Situmorang OFMCap