
Mengenal dan Mengalami Kerahiman Ilahi
Perjalanan iman tidak terjadi dalam sekejap. Selalu ada proses yang membutuhkan waktu panjang. Itulah yang dialami oleh Josua Fransisko Munthe (38), umat Paroki Katedral Medan, dalam mengenal dan menghidupi Devosi Kerahiman Ilahi.
Doa-doa Kerahiman Ilahi sebagai Nutrisi
Awal perjumpaannya dengan Kerahiman Ilahi sebenarnya sudah terjadi cukup lama. Sekitar tahun 2009, ia membaca buku tentang Santa Faustina karya Stefan Leks, yang membuka wawasan awal tentang kasih Allah yang tak terbatas. Dari sana, ia mulai mengenal doa-doa seperti penyerahan kepada Kerahiman Ilahi dan Rosario Koronka.
Namun, semua itu masih sebatas pengetahuan dan praktik pribadi yang belum mendalam.
“Waktu itu saya hanya tahu bahwa melalui sengsara Kristus, Allah membuka rahmat pengampunan bagi semua orang,” ungkapnya. Pemahaman itu belum sepenuhnya membentuk hidupnya, tetapi menjadi benih yang diam-diam bertumbuh.
Perubahan mulai terasa ketika ia mengalami perjumpaan yang lebih nyata. Pada tahun 2019, ia mengikuti Misa Pesta Kerahiman Ilahi di Paroki Katedral Medan. Di sana, ia menerima gambar Kerahiman Ilahi dan mulai diperkenalkan lebih dalam tentang devosi ini oleh Bapak Erwin Yapen dan Ibu Maria Fornika, yang kemudian mengajaknya untuk ikut dalam kegiatan doa bersama.
Ketertarikan itu semakin tumbuh, meskipun sempat terhambat oleh tugasnya di luar kota. Saat itu ia bekerja di Kabupaten Toba, sehingga tidak selalu bisa mengikuti kegiatan secara rutin. Namun, setiap kali ada kesempatan, ia tetap menghadiri misa Kerahiman Ilahi di Katedral Medan.
Pada tahun 2022, Tuhan mengabulkan permohonannya—ia kembali dan menetap di Medan. Secara resmi ia bergabung dalam Apostolat Kerahiman Ilahi Paroki Katedral Medan, dan didampingi oleh Ibu Marta Metta. Sejak saat itu, devosi ini bukan lagi sekadar praktik sesaat, melainkan menjadi bagian dari ritme hidupnya.
Bagi Josua, ada satu bentuk doa yang paling menyentuh hatinya: Jam Kerahiman Ilahi pada pukul tiga sore. Dalam keheningan doa ini, ia merasakan kedekatan yang mendalam dengan Yesus, khususnya dalam mengenangkan sengsara-Nya.
Ia mengingat sabda Yesus kepada Santa Faustina:
“Pada pukul tiga petang serukanlah kerahiman-Ku… Inilah Jam Kerahiman-Ku yang besar bagi seluruh dunia” (BHSF 1320).
Bagi Josua, doa ini bukan sekadar rutinitas, tetapi perjumpaan.
“Dalam keheningan itu, hati seperti dibawa masuk ke dalam kasih Yesus,” tuturnya.
Buah dari devosi ini nyata dalam hidupnya. Dalam relasi dengan sesama, ia merasakan perubahan yang mendalam. Ia menjadi lebih peka, lebih mampu mengasihi, dan lebih siap hadir bagi orang lain—baik dalam suka maupun duka.
Devosi ini juga membawanya masuk dalam kehidupan komunitas yang lebih hidup. Melalui pertemuan devosi mingguan, misa bulanan, dan kegiatan Apostolat Kerahiman Ilahi, ia menemukan rekan-rekan seiman yang saling menguatkan. Baginya, komunitas ini menjadi tempat bertumbuh bersama dalam iman.
Tidak hanya itu, kegiatan nyata pun dilakukan. Di Paroki Katedral Medan, devosi ini dijalankan melalui devosi mingguan pada Selasa ketiga dan keempat, misa bulanan AKIP setiap Selasa kedua, serta Misa AKI Keuskupan Agung Medan pada Selasa pertama setiap bulan. Selain itu, kegiatan sosial seperti kunjungan ke panti asuhan juga rutin dilakukan sebagai wujud nyata kerahiman kepada sesama.
Perubahan dalam dirinya pun semakin terasa. Ia menjadi lebih mencintai doa, lebih setia dalam membangun relasi dengan Tuhan, dan lebih peduli terhadap sesama. Ia juga semakin terdorong untuk mendoakan jiwa-jiwa yang telah meninggal serta orang-orang yang sedang sakit, menjadikan doa sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup sehari-hari.
Josua meyakini bahwa Kerahiman Ilahi bukan hanya sebuah devosi, tetapi sebuah cara hidup. Ia merangkum semuanya dalam satu keyakinan sederhana namun mendalam:
“Doa adalah napas dalam iman Katolik. Kerahiman Ilahi adalah nutrisi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.”
Semakin Mengandalkan Tuhan, Bukan Diri Sendiri
Pengalaman akan Kerahiman Allah juga dibagikan oleh Emillia Dewi (45), umat Paroki Hayam Wuruk Medan, yang telah menikah dengan Jeffrey Saputro.
Ia mengungkapkan bahwa sejak kecil, ia telah hidup dalam iman Katolik. Namun ia mengakui bahwa pemahamannya tentang kerahiman Allah belum mendalam. Dalam masa pencariannya, ia bahkan pernah menapaki jalan refleksi yang berbeda.
“Saya sudah Katolik sejak kecil, tapi saat kuliah saya sempat mendalami ajaran Buddha tentang welas asih.”
Pengalaman itu tidak membuatnya menjauh, tetapi justru membantunya melihat bahwa nilai kasih dan belas kasih adalah sesuatu yang universal. Namun, ia baru menemukan kedalaman makna itu secara utuh dalam Devosi Kerahiman Ilahi.
Perjumpaan dengan devosi ini terjadi secara sederhana, namun penuh rahmat.
“Suatu hari saudara saya datang membawa buku kecil tentang devosi Kerahiman Ilahi. Ada dorongan kuat untuk membaca dan tertarik mempraktikkan doa Koronka tiap hari.”
Dorongan itu kemudian menemukan bentuk yang lebih nyata dalam pengalaman liturgis Gereja. Pada April 2007, setelah Ibadat Jalan Salib Jumat Agung di Gereja Kristus Raja Medan, ia menerima ajakan temannya untuk berdevosi melalui novena Kerahiman Ilahi. Tanpa ragu, ia mengikuti novena tersebut.
Pengalaman itu sungguh berkesan baginya. Sejak saat itu, ia dengan setia menjalani devosi ini dan tidak pernah lelah menjadi devosan Kerahiman Ilahi.
Dalam permenungannya, pengalaman Santa Faustina ikut menguatkannya.
“St. Faustina adalah seorang biarawati dari Polandia yang mendapat panggilan sejak kecil dan menuliskan sabda Yesus dalam buku hariannya yang berjumlah 1045 halaman. Dari kesaksian inilah dunia mengenal pesan Kerahiman Ilahi,” katanya.
Bagi Emillia, ada dua bentuk doa yang sangat bermakna. Yang pertama adalah Doa Jam Kerahiman pada pukul 15.00 WIB, sebuah momen hening untuk masuk dalam misteri sengsara Kristus. Yang kedua adalah Doa Koronka Kerahiman Ilahi, yang diulang dalam butiran rosario.
Ia menegaskan makna doa tersebut melalui kalimat yang selalu diucapkan:
“Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia.”
Kalimat ini menyadarkannya bahwa kerahiman Allah tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh dunia. Menurutnya, devosi ini juga memiliki dimensi yang sangat kuat sebagai doa bagi sesama.
“Doa Koronka sangat bermanfaat bagi orang sakit, khususnya yang menghadapi sakratul maut, juga bagi para pendosa dan jiwa-jiwa yang menderita.”
Dalam hidup harian, ada satu doa sederhana yang terus dipegangnya:
“Yesus, Engkau andalanku.”
Namun ia juga jujur mengakui bahwa doa ini adalah tantangan iman.
“Pada kenyataannya kita sering mengandalkan diri sendiri, orang lain, bahkan kuasa, bukan Tuhan.”
Karena itu, devosi ini mengajaknya untuk terus belajar berserah.
Lewat Komunitas Kerahiman Ilahi, ia menyadari banyak hal baik yang tumbuh dalam dirinya: semakin merasakan kehadiran Allah dalam sesama, semakin peduli, lebih sabar, serta dimampukan untuk menerima hidup apa adanya.
Dalam permenungannya, Emillia meyakini bahwa doa merupakan wujud relasi yang hidup dengan Tuhan.
“Doa itu adalah berdialog. Dalam doa kita juga harus mampu mendengarkan suara Tuhan. Berdoa bukan hanya hadir dan aktif ke gereja, tetapi harus berbuah dalam kehidupan sehari-hari.”
Doa bagi Jiwa-jiwa di Api Penyucian dan Penderita Sakit
Kehadiran Komunitas Kerahiman Ilahi di Keuskupan Agung Medan berawal dari hal sederhana, yakni sebuah ajakan. Namun dari sana, Tuhan membawa orang-orang yang dikasihi-Nya untuk mengalami secara pribadi kasih-Nya.
Hal ini dialami oleh Maria Sunarta Halim (66), seorang ibu rumah tangga dari Paroki St. Antonius Padua Hayam Wuruk Medan, istri dari Hasan Salim, yang kini telah memiliki tiga cucu.
Ia mengisahkan bahwa perkenalannya dengan Kerahiman Ilahi berawal di Paroki Kristus Raja. Dari sana, ia bersama teman-temannya mengikuti seminar tentang Kerahiman Ilahi.
“Saya semakin mengenal Kerahiman Ilahi melalui suatu seminar. Lalu kami mulai membentuk grup dengan ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota, serta mulai berdevosi,” katanya.
Dari sinilah perjalanan imannya dalam Kerahiman Ilahi bertumbuh secara lebih terarah. Komunitas pun berkembang, hingga akhirnya ia dipercaya menjadi Ketua Apostolat Kerahiman Ilahi Keuskupan Agung Medan.
Maria Sunarta sungguh melihat peran penting Santa Faustina dalam mewartakan karya Allah.
“Melalui Buku Harian Santa Faustina, kita memahami rencana Allah yang memakai Santa Faustina sebagai sarana untuk menegaskan kembali kerahiman-Nya kepada dunia,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa devosi Kerahiman Ilahi memiliki dimensi yang luas dan menyentuh banyak pihak.
“Doa ini ditujukan untuk orang sakit, terutama yang mendekati sakratul maut, orang-orang yang menderita berbagai masalah, para pendosa, jiwa-jiwa di api penyucian, serta untuk keutuhan Gereja: Paus, Uskup, para imam, serta biarawan-biarawati.”
Dengan demikian, Allah menunjukkan kerahiman-Nya yang tidak terbatas dan merangkul seluruh umat manusia. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk terus membagikan pengalaman iman kepada orang lain.
“Kami mengajak sebanyak mungkin sesama untuk mengenal keindahan doa dan manfaat besar dari Kerahiman Ilahi, agar mereka juga memperoleh rahmat,” tuturnya.
Melihat besarnya manfaat devosi ini, ia juga berharap agar para pastor paroki semakin memperkenalkan Kerahiman Ilahi kepada umat, serta bersama-sama merayakan Minggu Kerahiman Ilahi sesuai anjuran Gereja.
Semakin Mampu Mengampuni dan Berbelas Kasih
Kebahagiaan akan Kerahiman Ilahi juga dirasakan oleh Emilia Sihombing, umat Paroki St. Laurentius Brindisi Pematangsiantar. Ia telah menikah dengan Harmedin Saragih dan dikaruniai empat orang anak, salah satunya telah menjadi imam Kapusin yang berkarya di Keuskupan Agung Medan.
Sebelum mengenal Devosi Kerahiman Ilahi secara mendalam, Emilia sebenarnya sudah memiliki dasar iman yang kuat. Ia percaya bahwa Allah adalah kasih yang tidak pernah meninggalkan manusia.
“Allah adalah kasih yang selalu siap mengampuni dan merangkul orang berdosa, asal kita mau percaya secara total kepada-Nya.”
Ia bahkan meyakini bahwa semakin besar dosa manusia, semakin besar pula kerahiman Allah, selama manusia mau bertobat.
Perkenalannya dengan Kerahiman Ilahi dimulai sejak tahun 1992. Ia diperkenalkan oleh almarhum Sr. Imelda Situmorang, KSFL, serta didukung oleh almarhum RP Marcelinus Manalu, OFM Cap, melalui doa bersama dan penyebaran gambar Kerahiman Ilahi di lingkungan.
Namun, pengalaman itu belum langsung berakar kuat. Devosi tersebut sempat terhenti dan tidak dilanjutkan.
Titik balik dalam hidupnya justru datang melalui penderitaan. Pada tahun 2007, ia mengalami pergumulan berat dalam keluarganya. Dalam situasi itu, ia dan keluarganya mendapat pendampingan rohani dari RP Agustinus Yew, OFM Cap.
Arahan yang diberikan sangat sederhana, namun mendalam: setia berdoa setiap pukul tiga sore.
“Kami hanya diminta untuk setiap jam tiga sore masuk ruang doa, berdoa dan membaca Kitab Suci,” kenangnya. Saat itu, ia belum memahami secara penuh makna Jam Kerahiman. Namun, ketaatan sederhana itu perlahan membuka jalan bagi pengalaman iman yang lebih dalam.
Dalam perjalanan tersebut, ia semakin mengenal dasar devosi ini melalui sosok Santa Faustina. Dari sanalah ia belajar tentang panggilan untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah yang berbelas kasih. Semakin hari, ia menghidupi doa-doa tersebut dengan penuh kesadaran.
Buah dari devosi ini sangat nyata dalam hidupnya. Dalam relasi dengan sesama, ia mengalami perubahan yang mendalam.
“Saya mampu untuk mengampuni, berbelas kasih kepada sesama, tidak menghakimi, dan menemukan kehadiran Allah dalam diri sesama.”
Ia bahkan mengungkapkan kerinduan hatinya:
“Saya ingin menjadi bejana kerahiman Allah dan membiarkan belas kasih Tuhan mengalir melalui tindakan nyata dalam kehidupan.”
Seperti devosan lainnya, ia juga mengajak umat Katolik untuk mau mengenal Kerahiman Ilahi serta setia dalam doa.
“Kesetiaan pada Jam Kerahiman dan Doa Koronka, khususnya bagi mereka yang menjelang ajal, jiwa-jiwa di api penyucian, dan para pendosa, menjadi jalan untuk menghadirkan kasih Allah di dunia,” terangnya.
Pengalaman empat devosan Kerahiman Ilahi ini menegaskan kembali bahwa manusia sungguh membutuhkan Kerahiman Allah. Pada saat yang sama, Allah selalu menantikan umat-Nya untuk datang dan memohon belas kasih-Nya yang tiada batas.
Kita yang masih berziarah di dunia ini sangat membutuhkan kerahiman Allah—terlebih bagi mereka yang berada dalam api penyucian. Karena itu, umat Allah diajak untuk tidak pernah lelah dalam doa, serta terus menghidupi kerahiman dalam tindakan nyata sehari-hari.
Kerahiman Ilahi bukan hanya devosi, tetapi jalan hidup yang mengubah hati, memulihkan relasi, dan menghadirkan harapan bagi dunia.
Jansudin Saragih, RD Benno Ola Tage, Rina Barus