Entah mengapa, akhir-akhir ini aku ingin menuliskan kisah tentang Yudas. Apakah karena kami memiliki kemiripan? Bisa jadi. Atau karena diam-diam aku merasa lebih kudus, lebih benar, lalu ingin membandingkan diriku dengan dia? Rasanya itu terlalu jauh dari kenyataan. Aku tidak cukup suci untuk berdiri di hadapannya sebagai hakim.
Sebab ketika aku menyebut nama Yudas, aku tidak sedang menyebut orang lain. Aku sedang menyebut sisi gelap dalam diriku sendiri. Sisi yang sering aku kunci rapat-rapat agar tidak terlihat orang lain.
Dalam keheningan doa, Yudas hadir di hadapanku, bukan sebagai seorang pengkhianat tetapi sebagai cermin. Cermin itu memantulkan sesuatu yang tidak selalu ingin kulihat.
“Hai, senang bertemu denganmu. Aku Yudas salah seorang murid Yesus sama seperti dirimu. Murid yang menerima rahmat untuk mewartakan kabar gembira bagi banyak orang. Selain itu, Yesus juga memberikan anugerah kepadaku dan juga kepada murid-murid lainnya untuk melakukan perkara-perkara besar, menyembuhkan orang yang sakit. Sakit secara fisik dan jiwa. Aku juga murid yang dipercaya untuk memegang uang kas. Engkau pasti tahu tidak semua orang dipercayakan menjadi seorang bendahara, tetapi Yesus memercayakan hal itu padaku karena aku dianggap cakap dan jujur dalam keuangan. Sebenarnya masih banyak hal lain yang Yesus percayakan padaku. Bagi-Nya, aku bukan orang asing dan juga bukan seorang musuh. Aku murid sekaligus sahabat seperjalanan-Nya.”
Kata-kata Yudas penuh makna, menembus hatiku.
“Perlu kamu ketahui banyak kebaikan yang sudah kuperbuat. Tetapi saat aku melakukan satu kesalahan, kebaikan-kebaikan itu tidak ada yang mengingatnya. Aku tidak sejahat yang kamu duga. Kehadiranku sebenarnya untuk menggenapi nubuat dan itu merupakan bagian dari rencana keselamatan yang berasal dari Allah. Coba kamu bayangkan seandainya aku tidak menjual Yesus barangkali tidak ada salib, tidak ada sengsara dan tidak ada kebangkitan. Intinya tidak ada kemuliaan. Jadi kehadiranku salah satu skenario dari Allah. Jika kamu tidak percaya, terserah padamu.
Ia mengangkat wajahnya, menatapku tajam. Aku merasa kalimat Yudas itu seperti pisau. Bukan karena aku sepenuhnya setuju, tetapi karena aku mengenali nada itu. Nada pembenaran yang sering dipakai manusia ketika ia tidak sanggup menghadapi rasa bersalah.
Ia menarik napas, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih berat. “Barangkali kamu tidak tahu, setelah aku menjual Yesus dengan harga tiga puluh keping perak aku tersadar dan sangat menyesal. Apalagi saat aku melihat Orang yang aku kasihi disiksa dan disalibkan. Dia tidak bersalah mengapa harus diperlakukan demikian? Akhirnya, aku mengembalikan uang itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dan meminta agar Yesus dikembalikan padaku tetapi hal itu tidak mungkin terjadi. Yesus sudah mereka bawa dan tidak akan pernah kembali lagi padaku.”
Kemudian dia melanjutkan kisahnya dan kulihat wajahnya tertunduk sambil kedua tangannya menutupi wajahnya. “Aku sangat menyesal hanya karena dengan tiga puluh keping perak aku menjual Yesus pada orang-orang yang kejahatannya lebih besar dari pada Guruku. Penyesalan ku sangat dalam tetapi tak ada satupun dari kalian yang memaafkan, merangkul, serta memelukku. Semua menjauh seakan-akan kalian lebih baik dariku. Pada saat itu aku hanya membutuhkan pelukan hangat tetapi hal itu tidak aku temukan. Aku tinggal dalam keputusasaan. Aku merasa sendiri dan tidak punya harga diri lagi. Biasanya Yesus selalu datang memeluk dan menghibur bila aku punya masalah. Tetapi penghiburan itu tidak lagi kutemukan karena aku telah menjual-Nya dengan harga yang murah.”
“Maafkan aku, bila aku memilih jalan yang tidak pantas, seharusnya aku masih dapat bertobat dan memulai lagi dari awal. Tetapi hal itu tidak aku lakukan karena kenangan itu akan selalu hidup dalam diriku. Bisa kubayangkan, ketika orang melihatku akan mengatakan “lihat orang yang tidak punya rasa malu itu yang mengaku murid Yesus tetapi menjual Yesus hanya gara-gara tiga puluh keping perak”. Kata-kata itu akan terus terngiang di telingaku dan aku tahu itu akan membuatku semakin tersiksa. Dari pada hal itu terjadi akhirnya aku memilih untuk bunuh diri. Penyelesaian yang sampai saat ini amat ku sesali. Aku yang berbuat jahat, tetapi aku tidak mampu bertanggungjawab. Bahkan mengakhiri hidupku secara tragis. Jalan pintas yang kuanggap pantas.”
“Kisahku ini mungkin membuat dirimu kasihan padaku, tetapi kamu tidak perlu mengasihani aku. Aku patut menerima ganjaran yang memang seharusnya aku terima. Tidak seperti Guruku, Dia disiksa dan disalibkan atas dosa yang tidak Ia perbuat.”
“Tetapi yang aku kasihani adalah teman-temanmu atau bahkan dirimu. Kalian sama seperti diriku, sering mengkhianati-Nya. Banyak orang yang mengklaim diri sebagai pengikut Yesus tetapi hidupnya tidak lebih baik dariku.”
Kemudian dia memandang wajahku dengan senyum yang amat tipis. “Apakah kamu baik-baik saja saat mendengar kisahku ini? Aku percaya kamu juga orang yang terpanggil dan terpilih menjadi pengikut Yesus. Aku berharap hidupmu lebih baik dari hidupku.”
Saat ia selesai mengungkapkan dirinya, aku memberanikan diri untuk menyapanya. “Hai Yudas, aku baik-baik saja. Apa yang kamu katakan semuanya benar, aku tidak menyangkalnya. Bahkan aku sedang berbicara dengan diriku sendiri, jangan-jangan hidupku lebih hancur darimu.”
“Engkau menjual Yesus dengan harga tiga puluh keping perak. Tetapi aku menjual-Nya dengan harga yang sangat murah; demi harga diri, demi pengakuan dan entah berapa banyak alasan lainnya. Semuanya itu kulakukan demi kemuliaan diri sendiri.
Aku sering mengabaikan suara hatiku. Saat orang meminta bantuan aku memberikan seribu alasan mulia untuk menolaknya. Saat pengemis menghampiriku, aku memberinya dengan terpaksa tanpa menyentuh tangan mereka. Aku lebih memilih kenyamanan daripada turun berlumpur demi sebuah kebaikan.
Yudas, engkau mencium Yesus dan kemudian menjualnya. Sementara aku, yang selalu memeluk Yesus dalam doaku, dalam hitungan menit aku telah menyalibkan-Nya. Aku menyalibkan-Nya melalui sikap dan cara hidupku. Kata-kata yang aku ucapkan melukai hati orang-orang terdekatku. Begitu mudah aku menghakimi dari pada mengampuni. Aku ingin dipahami daripada memahami dan selalu menuntut daripada rela berkorban. Aku selalu berusaha tampil sempurna supaya dikagumi orang namun nyatanya aku pribadi yang rapuh dan sangat rentan. Yudas, terlalu banyak litani pengkhianatan yang sudah kulakukan tetapi aku tidak berani mengakuinya.
Satu hal yang kusyukuri dan itulah yang membedakan aku dan engkau. Aku selalu berusaha dan berjuang untuk bertobat terus-menerus, entah sampai kapan pertobatanku berakhir akupun tidak tahu. Aku yakin tangan Tuhan selalu terbuka untuk menungguku kembali pada pelukan-Nya yang penuh kasih. Seperti anak hilang, Bapa selalu menunggu di pintu kerahiman-Nya dan mengulurkan tangan-Nya saat aku ingin pulang. Aku percaya akan pengharapan dan pengharapan itu tidak akan pernah mengecewakan.
Terima kasih telah menceritakan kisahmu. Semoga kami para pengikut Yesus belajar dari kisahmu agar tidak dengan mudahnya menjual Yesus dengan harga yang sangat murah. Menjual Yesus karena status, jabatan dan posisi yang sangat menggiurkan. Semoga kami tidak mencium Yesus seakan-akan itu cinta yang tulus, padahal itu tanda pengkhianatan.
Yudas, engkau teman seperjalananku. Apa yang kamu alami itu juga cerminan hidupku. Aku bukan manusia sempurna, namun dalam pelukan Bapa yang penuh kasih, aku mengalami hidup yang disempurnakan.
Terima kasih, Yudas. Dariku teman seperjalananmu.
Sr. Egidina Saragih, KSFL.