Uskup AS Ajak Pendidik Katolik Sembuhkan Luka Batin Kaum Muda

Uskup Andrew H.Cozzens sedang berpidato pada pembukaan Konvensi Asosiasi Pendidikan Katolik Nasional (NCEA) pada 07 April 2026 di Minneapolis.

 

Oleh Josh McGovern/The Catholic Spirit, OSV NEWS

MINNEAPOLIS — Banyak orang saat ini hidup dengan hati yang terluka. Karena itu, para pendidik Katolik memiliki peran penting dalam membantu proses penyembuhan tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Uskup Andrew H. Cozzens dari Keuskupan Crookston, Amerika Serikat, dalam pidato kunci pada pembukaan Konvensi Asosiasi Pendidikan Katolik Nasional (NCEA) yang digelar pada 7 April 2026 di Minneapolis.

Konvensi NCEA tahun ini menjadi yang pertama kali kembali digelar di Minneapolis setelah 17 tahun. Sekitar 3.800 pendidik Katolik dan religius dari seluruh Amerika Serikat hadir untuk berbagi gagasan dan hasil riset di bidang pendidikan.

Presiden dan CEO NCEA, Steven Cheeseman, dalam sambutannya menekankan bahwa ilmu yang diperoleh dalam konferensi tersebut tidak boleh berhenti sebagai catatan semata.

“Apa yang dipelajari di sini harus dijalankan, diterapkan, dan dibagikan,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Uskup Cozzens menegaskan bahwa panggilan seorang pendidik Katolik tidak jauh berbeda dengan pembimbing rohani atau pastor, yakni membantu menyembuhkan hati manusia.

Ia mencontohkan fenomena budaya populer dengan menampilkan video penyanyi muda Gracie Abrams yang membawakan lagu reflektifnya, “Camden”.

Menurut Cozzens, Abrams tampak sebagai sosok muda yang sukses dan berbakat. Namun, lirik lagunya justru mengungkapkan kesedihan mendalam yang juga dirasakan banyak orang seusianya.

“Ini adalah gambaran nyata dari budaya populer saat ini. Banyak anak muda menyuarakan luka batin mereka,” kata Cozzens.

Ia juga menyoroti dampak negatif media sosial, yang kerap membuat seseorang menilai dirinya berdasarkan jumlah “likes” dan pandangan orang lain.

Menurutnya, ada tiga hal mendasar dalam kehidupan manusia: relasi, identitas, dan misi. Urutan ini, kata dia, sangat penting.

“Relasi adalah yang paling utama. Dari relasi itulah identitas kita terbentuk, dan dari identitas lahirlah misi hidup,” ujarnya.

Namun, ia menilai banyak orang kini terjebak dalam urutan yang keliru, yakni membangun identitas dari pencapaian atau penilaian orang lain.

Lebih lanjut, Cozzens menegaskan bahwa kecerdasan buatan, teknologi, budaya populer, maupun politik tidak mampu menyembuhkan luka hati manusia.

“Justru sering kali memperburuk keadaan,” katanya.

Menurut dia, hanya kasih yang mampu menyembuhkan luka tersebut, sebagaimana diajarkan dalam iman Kristiani.

“Ini adalah alasan mengapa Yesus hadir. Ia memahami luka hati manusia dan ingin menyembuhkannya,” ujar Cozzens.

Ia menambahkan, para pendidik Katolik memiliki tugas untuk mengajak kaum muda mengalami penyembuhan melalui perjumpaan dengan kasih Kristus.

Cozzens juga menekankan pentingnya pendidik terlebih dahulu mengalami proses penyembuhan dalam diri mereka sendiri sebelum membimbing orang lain.

“Hati adalah tempat terdalam dari harapan, ketakutan, dan jati diri kita. Di sanalah kebenaran tentang diri kita ditemukan, tetapi juga bisa menjadi tempat berkembangnya kebohongan tentang diri sendiri,” jelasnya.

Sebagai langkah praktis, ia mengusulkan tiga hal yang dapat diajarkan kepada kaum muda:

  1. Menyadari bahwa hati manusia bisa terluka
  2. Membuka diri terhadap kasih yang menyembuhkan
  3. Menemukan sukacita dengan memberi diri kepada orang lain setelah mengalami pemulihan

Ia menutup dengan menegaskan bahwa penyembuhan hati terjadi melalui pengalaman dikasihi.

“Kasih yang tidak bersyarat — yang kita sebut sebagai belas kasih — mampu memulihkan, memperbarui, dan mengungkapkan kebenaran tentang diri kita,” katanya.

Menurut Cozzens, kasih inilah yang sebenarnya dirindukan oleh setiap manusia, termasuk generasi muda saat ini (Sumber UCA NEWS, 8 April 2026)


 

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com