
Sebagian umat Kristen lari dari rumah setelah Gereja mereka diserang sekolompok orang pada hari Jumat Agung, 03 April 2026.
KEONJHAR, INDIA — Ketegangan antaragama kembali mencuat di India setelah sekelompok warga menyerang kegiatan ibadah Jumat Agung di sebuah desa di negara bagian Odisha. Insiden tersebut memaksa sejumlah keluarga Kristen meninggalkan rumah mereka demi keselamatan.
Peristiwa terjadi pada 3 April di Desa Motilocha-Singhbahali, Distrik Keonjhar. Sekitar lebih dari 100 orang dilaporkan mendatangi gereja Vishwa Vani (Voice of the World) dengan membawa tongkat kayu, lalu membubarkan ibadah yang tengah berlangsung.
Saat kejadian, sekitar 60 umat Kristen berada di dalam gereja, termasuk sekitar 30 orang dari desa tetangga yang sedang mempersiapkan perayaan Paskah.
Menurut keterangan pendeta setempat, Jagannath Hembrom, massa tidak hanya membubarkan ibadah, tetapi juga mengunci gereja dan mengancam jemaat. Mereka menuntut agar warga Kristen kembali ke kepercayaan asli suku setempat.
“Mereka mengatakan jika kami ingin tetap tinggal di desa ini, kami harus kembali ke agama leluhur kami,” ujar Hembrom.
Sejumlah tokoh dari kelompok mayoritas disebut menganggap keberadaan agama Kristen sebagai ancaman terhadap tradisi dan kepercayaan lokal, khususnya agama Sarna yang dianut masyarakat adat.
Akibat insiden tersebut, tujuh keluarga Kristen—sekitar 30 orang—memilih mengungsi ke desa lain karena khawatir akan keselamatan mereka. Hingga kini, mereka belum dapat kembali ke rumah.
Pihak kepolisian setempat menyatakan telah menggelar pertemuan damai dengan tokoh masyarakat guna meredakan ketegangan. Aparat juga telah dikerahkan untuk menjaga situasi tetap kondusif.
“Dua kelompok telah sepakat secara tertulis untuk saling menghormati praktik keagamaan masing-masing,” ujar seorang perwira polisi setempat.
Namun demikian, hingga saat ini belum ada penangkapan terkait insiden tersebut. Warga yang menjadi korban juga mengaku laporan mereka belum diproses secara resmi oleh pihak berwenang.
Seorang warga Kristen, Jaganath Majhi, menyebut situasi di lapangan masih sangat tegang dan dipicu oleh provokasi sejumlah tokoh politik garis keras.
“Selama situasi belum benar-benar aman, kami tidak mungkin kembali ke rumah,” ujarnya.
Distrik Keonjhar sendiri memiliki sejarah panjang konflik terkait isu agama. Pada tahun 1999, wilayah ini menjadi sorotan internasional setelah seorang misionaris asal Australia beserta dua anaknya tewas dibakar oleh massa.
Kasus kekerasan terbaru juga dilaporkan terjadi awal tahun ini, ketika satu keluarga Kristen ditemukan tewas di rumah mereka di desa lain di distrik yang sama.
Dalam laporan terbarunya, Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional menyoroti meningkatnya pelanggaran kebebasan beragama di India. Lembaga tersebut bahkan merekomendasikan agar India dimasukkan dalam daftar negara dengan perhatian khusus terkait isu tersebut.
Insiden di Odisha ini kembali menegaskan tantangan yang dihadapi kelompok minoritas agama di sejumlah wilayah, terutama di daerah dengan dinamika sosial dan politik yang sensitif (Sumber:UCA NEWS, 07 April 2026).
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr