Umat Katolik memprotes dana yang “hilang” dari bank di Indonesia

 

Sejumlah umat Katolik Paroki Aek Nabara berdemontrasi di depan kantor BNI,Jl.Ahmad Yani pada 12 Maret 2026

 

Oleh Yakobus E.Lato

Ratusan umat Katolik, bersama para imam dan biarawati, turun ke jalan memprotes dugaan “hilangnya dana paroki” sebesar 28,5 miliar rupiah (sekitar 1,7 juta dolar AS) dari salah satu cabang bank milik negara di Sumatera Utara.

Aksi tersebut dilakukan oleh umat Paroki Santo Fransiskus Assisi di Aek Nabara, Rantau Parapat—ibu kota Kabupaten Labuhanbatu—di depan kantor cabang Bank Negara Indonesia (BNI) di Jalan Ahmad Yani pada 12 Maret.

Kepala cabang BNI setempat, Muhammad Kamel, sempat menemui para imam dan perwakilan umat. Dalam pertemuan itu, ia menyatakan bahwa pihak bank akan mengembalikan dana sebesar 7 miliar rupiah ke rekening paroki paling lambat 30 Maret.

“Bank juga akan melakukan verifikasi dan menindaklanjuti sisa pembayaran,” ujar Kamel.

Pastor Yonas Sandra Mallissa, pastor paroki Santo Fransiskus Assisi yang berada di bawah Keuskupan Agung Medan, menyatakan bahwa pihak bank belum memberikan penjelasan memadai terkait hilangnya dana tersebut.

“Kami mengetahui adanya dugaan penggelapan dana paroki sekitar 18 hari yang lalu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa dana tersebut merupakan hasil tabungan koperasi umat yang dikumpulkan secara bertahap, serta berasal dari berbagai kegiatan gereja.

Mallissa menambahkan, umat menduga dana tersebut “digelapkan oleh pihak manajemen BNI Aek Nabara.”

Peristiwa ini menjadi pukulan bagi paroki yang memiliki sekitar 4.830 umat. Karena itu, mereka memutuskan menggelar aksi demonstrasi di depan kantor bank.

Pastor Ino, yang hanya menggunakan satu nama, mengatakan bahwa dana yang disimpan di bank hilang secara bertahap dan baru diketahui pada akhir Februari.

Ia menegaskan, pihak paroki telah meminta penjelasan kronologis secara lengkap dari pihak bank terkait hilangnya dana tersebut.

Meski demikian, pimpinan paroki sepakat untuk menunggu realisasi janji yang telah disampaikan oleh kepala cabang. Namun, mereka juga membuka kemungkinan menempuh jalur hukum jika diperlukan.

Salah seorang peserta aksi yang enggan disebutkan namanya mengaku cukup lega dengan janji dari pihak bank, tetapi menegaskan bahwa umat akan terus mengawal kasus ini.

“Kami untuk sementara puas, tetapi tetap akan waspada dan menuntut pertanggungjawaban,” ujarnya.

Di wilayah pedesaan Sumatera Utara, Gereja Katolik selama ini dikenal aktif mengembangkan koperasi umat. Koperasi tersebut berperan dalam mendukung sektor pertanian, pendidikan, dan kesehatan, terutama bagi masyarakat kurang mampu.

Program koperasi ini umumnya berfokus pada pemberdayaan ekonomi, dukungan sosial, serta pemulihan pascabencana melalui inisiatif keuskupan, organisasi awam, dan tarekat religius (UCANEWS, 16 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com