
Truk menabrak proses Paskah di Wazirabad-Pakistan pada Minggu, 05 April 2026
Oleh UCA NEWS reporter
WAZIRABAD-PAKISTAN,— Sebuah truk menabrak prosesi Paskah di Mariamabad, distrik Wazirabad, Provinsi Punjab, Pakistan, pada Minggu (5/4/2026) dini hari. Insiden tersebut menewaskan satu orang dan melukai lebih dari 60 lainnya.
Peristiwa terjadi sekitar pukul 03.30 waktu setempat, ketika sekitar 200 umat Kristiani berkumpul untuk mengikuti ibadah matahari terbit dalam rangka perayaan Paskah, salah satu hari paling suci dalam kalender Kristen.
Sebuah kendaraan niaga ringan yang melaju kencang—dikenal secara lokal sebagai Shehzore—tiba-tiba menerobos kerumunan peserta prosesi. Tabrakan itu memicu kepanikan dan menyebabkan sejumlah orang terinjak-injak saat berusaha menyelamatkan diri.
Pengemudi kendaraan, yang diidentifikasi sebagai Muhammad Bilal, melarikan diri setelah kejadian. Polisi menyatakan kendaraan tersebut telah diamankan bersama seorang asisten pengemudi. Aparat juga telah mendaftarkan First Information Report (FIR), yakni laporan resmi yang menjadi dasar penyelidikan pidana di Pakistan.
Para korban luka dilarikan ke Rumah Sakit Gujranwala Medical College. Satu korban kemudian dinyatakan meninggal dunia akibat luka yang diderita, sementara sejumlah lainnya masih menjalani perawatan intensif.
Seorang peserta prosesi, Faisal Masih, mengkritik lambannya respons aparat. Ia menyebut polisi baru tiba hampir satu jam setelah kejadian, meski kantor polisi berada hanya sekitar 10–15 menit dari lokasi.
“Alih-alih fokus pada korban, mereka lebih memperhatikan jalan yang terblokir. Bahkan dalam laporan resmi, tidak disebutkan bahwa kami sedang mengadakan prosesi matahari terbit,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Komisi Katolik untuk Keadilan dan Perdamaian, Ata-ur-Rehman Saman, menyebut insiden ini sebagai peristiwa yang memilukan.
“Kekacauan dan ketakutan telah menghancurkan banyak keluarga. Insiden ini tidak boleh diabaikan, dan harus ada pertanggungjawaban,” katanya.
Hingga kini, pihak berwenang belum memastikan apakah insiden tersebut disengaja atau akibat kelalaian. Polisi mengklaim tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai prosesi tersebut sehingga pengamanan tidak disiapkan. Namun, pernyataan itu dibantah oleh komunitas Kristen setempat yang mengaku telah memberi informasi sebelumnya.
Peristiwa ini kembali memicu kekhawatiran terkait keamanan dalam perayaan keagamaan berskala besar di wilayah tersebut (Sumber: UCA NEWS, 07 Apri,2026)