Deprecated: Fungsi WP_Dependencies->add_data() ditulis dengan argumen yang usang sejak versi 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/komsoska/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
“Timur Tengah, penyebaran perang, dan posisi Paus serta Gereja Katolik.” - KOMSOSKAM.com

“Timur Tengah, penyebaran perang, dan posisi Paus serta Gereja Katolik.”

Saat Timur Tengah terjerumus ke dalam salah satu eskalasi paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir, Paus Leo XIV menyuarakan seruannya kembali untuk perdamaian, memperingatkan bahwa spiral kekerasan yang kini sedang terjadi dapat menimbulkan bencana berskala historis. Saat berbicara kepada wartawan di luar kediaman kepausan Castel Gandolfo pada malam 3 Maret, sang paus menyampaikan pesan singkat namun tegas: dunia harus berdoa untuk perdamaian dan secara aktif bekerja untuk mewujudkannya.

“Berdoalah untuk perdamaian. Bekerjalah untuk perdamaian,” kata paus. “Terlalu banyak kebencian. Kebencian di dunia terus meningkat.” Ucapan ini muncul saat kampanye udara Amerika Serikat–Israel terhadap Iran memasuki hari keempat dan konflik meluas ke beberapa front di Timur Tengah. Apa yang dimulai dengan serangan terkoordinasi terhadap rezim Iran pada 28 Februari telah dengan cepat berkembang menjadi konfrontasi regional yang melibatkan Israel, Iran, negara-negara Teluk, dan kelompok bersenjata yang beroperasi di seluruh kawasan.

Konsekuensinya langsung dan mematikan. Menurut laporan yang tersedia, hampir 800 orang telah tewas di Iran sejak dimulainya operasi, sementara setidaknya 11 orang meninggal di Israel seiring meningkatnya serangan balasan Iran. Enam anggota militer Amerika juga telah dikonfirmasi tewas. Konflik ini telah menyebar jauh melampaui wilayah Iran. Iran melancarkan serangan terhadap target di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman. Sementara itu, pasukan Israel merespons serangan dari Hezbollah di Lebanon dengan serangan di Beirut pada 3 Maret, memicu kekhawatiran bahwa front Lebanon yang rapuh bisa kembali meletus menjadi perang penuh skala besar.

Bahkan infrastruktur diplomatik dan militer di seluruh kawasan ikut tertekan. Kedutaan besar AS di Dubai dan Riyadh dilaporkan menjadi target serangan drone, menandakan bahwa konfrontasi ini berpotensi semakin menarik aktor internasional. Eskalasi militer juga mengganggu salah satu jalur ekonomi paling penting di dunia: Selat Hormuz. Hampir 20 persen pasokan minyak global melewati jalur sempit di sepanjang pantai selatan Iran setiap hari. Pengiriman komersial di sana nyaris berhenti karena perusahaan asuransi menarik perlindungan untuk kapal yang melintasi selat. Harga minyak melonjak, mendorong Amerika Serikat mempertimbangkan untuk menempatkan pengawalan angkatan laut bagi kapal tanker yang melintasi wilayah tersebut.

Pada 3 Maret, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa kampanye militer bisa berlangsung hingga lima minggu, sambil menekankan bahwa pasukan Amerika memiliki kapasitas untuk mempertahankan operasi jauh lebih lama. Ia juga mengatakan kepada New York Post bahwa ia tidak menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat di Iran “jika diperlukan,” pernyataan yang semakin meningkatkan kekhawatiran internasional tentang potensi skala konflik.

Bagi Tahta Suci, bahaya tidak hanya terletak pada kekerasan saat ini tetapi juga pada logika eskalasi itu sendiri. Selama doa Angelus pada 1 Maret, Paus Leo memperingatkan bahwa peristiwa yang sedang terjadi dapat berubah menjadi “tragedi berskala sangat besar” jika pihak-pihak yang terlibat gagal menghentikan siklus balas dendam.

“Stabilitas dan perdamaian tidak dibangun melalui ancaman satu sama lain,” katanya pada kesempatan itu, “dan juga bukan melalui senjata yang menebar kehancuran, penderitaan, dan kematian, tetapi hanya melalui dialog yang wajar, autentik, dan bertanggung jawab.” Paus mendesak para pemimpin di semua pihak untuk mengambil apa yang disebutnya “tanggung jawab moral” untuk menghentikan spiral kekerasan sebelum berubah menjadi jurang yang tak bisa diperbaiki.

Perspektif diplomatik Vatikan terhadap Iran dibentuk oleh puluhan tahun keterlibatan yang hati-hati. Hubungan antara Tahta Suci dan Republik Islam sering kali menggabungkan kritik terbuka dengan dialog yang berkesinambungan, mencerminkan metode khas diplomasi Vatikan. Ketegangan meningkat tajam pada 2006 setelah pidato terkenal Paus Benediktus XVI di Regensburg, yang memuat kutipan sejarah mengenai kekerasan agama yang memicu reaksi luas di dunia Muslim. Saat itu, pihak berwenang Iran menuduh Vatikan memicu ketegangan antaragama. Namun, krisis tersebut pada akhirnya memicu dialog baru antara cendekiawan Katolik dan Muslim, termasuk pertemuan terstruktur antara Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dengan lembaga-lembaga Iran.

(Sumber : Zenix, 5 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *