Seorang Martir untuk Kebebasan Beragama

Shahbaz Bhatti, tokoh pejuang kebebasan dan dialog antar agama di Pakistan (foto aid to the Church need)

Oleh Benedict Rogers, aktivis Hak Asasi Manusia dan Penulis

Lima belas tahun lalu, tepatnya pada 2 Maret 2011, Pakistan kehilangan salah satu pejuang kebebasan beragama paling berani. Shahbaz Bhatti, seorang aktivis hak asasi manusia sekaligus Menteri Urusan Minoritas Pakistan, tewas ditembak oleh kelompok jihadis di siang bolong.

Kabar kematiannya datang seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Pagi itu, penulis—yang telah lama menjalin kerja sama erat dengan Bhatti—mendengar berita yang selama ini dikhawatirkan, tetapi selalu diharapkan tidak pernah terjadi.

Selama lima tahun, antara 2004 hingga 2009, keduanya bekerja bersama dalam advokasi kebebasan beragama di Asia. Bhatti dikenal sebagai aktivis Katolik yang gigih dan berani. Ia juga merupakan salah satu pendiri All Pakistan Minorities Alliance (APMA), organisasi yang memperjuangkan hak-hak kelompok minoritas di Pakistan.

Hubungan keduanya bukan sekadar profesional, melainkan juga personal. Mereka rutin berkomunikasi, bepergian bersama ke berbagai daerah di Pakistan, bahkan pernah selamat dari ledakan bom di Islamabad hanya dalam selisih lima menit. Pengalaman nyaris maut itu mempererat ikatan di antara mereka.

Bhatti juga dikenal karena keberpihakannya kepada korban yang terpinggirkan. Dalam satu kesempatan, ia mendampingi seorang anak perempuan Kristen berusia tujuh tahun yang menjadi korban kekerasan brutal oleh ekstremis. Di saat banyak pihak memilih diam, Bhatti justru hadir memberikan perlindungan.

Dalam peristiwa lain pada 2007, sebuah komunitas Kristen di Charsadda menghadapi ancaman: memeluk Islam atau menghadapi konsekuensi kekerasan. Ketika dunia seakan tidak peduli, sebuah panggilan telepon sederhana dari luar negeri menjadi sumber harapan. Bhatti, yang saat itu berada langsung di lokasi, mengatakan bahwa perhatian sekecil apa pun dapat memberi kekuatan besar bagi mereka yang terancam. Serangan yang dikhawatirkan itu pada akhirnya tidak pernah terjadi.

Karier Bhatti kemudian beralih ke dunia politik. Ia terpilih menjadi anggota Majelis Nasional Pakistan pada 2008 dan diangkat sebagai Menteri Urusan Minoritas. Meski jalur mereka berpisah, persahabatan tetap terjalin hingga kabar duka itu datang.

Bhatti dikenang sebagai sosok yang melampaui sekat agama. Sebagai seorang Katolik yang taat, ia memperjuangkan kebebasan beragama untuk semua orang, tanpa kecuali. Ia aktif membangun dialog lintas iman, termasuk dengan komunitas Muslim yang menjadi mayoritas di Pakistan. Banyak dari mereka yang justru menghormati dan berduka atas kepergiannya.

Warisan Bhatti adalah pesan tentang perdamaian, keberanian, dan kemanusiaan. Ia menunjukkan bahwa membela hak asasi tidak boleh terbatas pada kelompok sendiri, tetapi harus mencakup semua manusia, apa pun latar belakangnya.

Dalam sebuah pidato di London pada 2009, Bhatti menyatakan komitmennya dengan tegas: ia hidup untuk kebebasan beragama dan siap mati demi tujuan itu. Baginya, perjuangan ini adalah tentang menghadirkan harapan bagi mereka yang hidup dalam ketakutan dan penindasan.

Empat bulan sebelum kematiannya, ia bahkan telah merekam pesan terakhir. Dalam wawancara tersebut, Bhatti mengakui ancaman terhadap dirinya, tetapi tetap teguh pada keyakinannya. Ia menyatakan siap mengorbankan hidup demi membela hak-hak komunitas yang tertindas.

Kini, 15 tahun setelah kepergiannya, Bhatti dikenang sebagai martir modern bagi kebebasan beragama. Proses beatifikasi di Vatikan telah dimulai sebagai bentuk pengakuan atas pengorbanannya.

Namun lebih dari sekadar mengenang, warisan Bhatti menuntut tindakan. Nilai-nilai yang ia perjuangkan—toleransi, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia—tetap relevan di berbagai belahan dunia hingga hari ini.

Menghidupkan kembali semangat itu, dalam tindakan nyata, menjadi penghormatan terbaik bagi sosok yang telah mengorbankan segalanya demi kemanusiaan (Sumber: UCANEWS, 23 Maret 2026)

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com