
Foto : Damien Khong Yi Han menemukan iman sejati dalam Gereja Katolik (foto:Ucanews)
Oleh Joseph Masilamany
Pada usia 21 tahun, Damien Khong Yi Han tak pernah membayangkan bahwa pencariannya akan kebenaran justru membawanya ke Gereja Katolik.
Ia tumbuh di Selangor, Malaysia, dalam keluarga Tionghoa kelas menengah yang tidak secara aktif menganut agama tertentu. Ayahnya berlatar belakang Katolik, sementara ibunya berasal dari keluarga Buddhis. Namun, menurut Han, praktik keagamaan “tidak pernah menjadi pusat” dalam kehidupan keluarganya.
“Selama sebagian besar masa kecil saya, iman terasa jauh,” ujarnya. Meski sesekali menghadiri acara keluarga yang melibatkan doa-doa seperti Bapa Kami dan Salam Maria serta nyanyian rohani, pengalaman itu tidak membentuk keterikatan pribadi terhadap iman.
Paparan yang lebih intens terhadap Kekristenan mulai ia rasakan pada usia 13 tahun, ketika bersekolah di sebuah sekolah Methodist di Kuala Lumpur. Sekolah tersebut rutin mengadakan doa mingguan dan pembacaan Kitab Suci, namun Han mengaku sering kali “tidak terlalu memperhatikan.”
Pengalaman yang lebih berkesan justru datang dari keterlibatannya dalam organisasi remaja Boys’ Brigade. Melalui kegiatan kemah dan pelayanan kelompok, ia mulai mengenal nilai kebersamaan dalam komunitas Kristen.
Meski demikian, iman masih ia pandang sebagai sesuatu yang bersifat intelektual—untuk dipahami, bukan dijalani.
Ia bahkan sempat merasa bahwa Kekristenan, khususnya dalam pengalaman awalnya dengan tradisi Katolik, tampak “kaku dan berjarak.”
Menemukan iman melalui komunitas
Perubahan mulai terjadi setelah ia menyelesaikan pendidikan menengah pada 2023. Seorang teman mengajaknya menghadiri persekutuan pemuda Methodist. Di sana, ia merasakan “kehangatan, sukacita, dan rasa memiliki yang kuat.”
Sejak saat itu, Han rutin mengikuti kegiatan tersebut. Pada Hari Natal 2023, ia dibaptis dalam Gereja Methodist.
Ia mengakui bahwa komunitas tersebut berperan penting dalam pertumbuhan awal imannya. Keterbukaan dan bimbingan dari kelompok itu membantunya melihat bagaimana iman dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.
Perjalanan spiritualnya kembali mengambil arah baru ketika seorang teman yang ia nilai memiliki pemahaman teologi yang kuat mulai mengikuti program Rite of Christian Initiation of Adults (RCIA), yakni program persiapan bagi mereka yang ingin menjadi Katolik.
Ketertarikannya pun tumbuh. Ia mulai mendalami praktik-praktik seperti puasa, doa, dan refleksi selama masa Prapaskah. Dengan minimnya bimbingan formal dalam tradisinya saat itu, ia kembali meminta arahan dari temannya yang memperkenalkannya pada praktik-praktik Katolik.
Ia juga mengikuti podcast “Bible in a Year” yang dibawakan oleh Pastor Mike Schmitz, yang mengajak pendengar menelusuri seluruh isi Alkitab dalam 365 episode.
Seiring waktu, pemahamannya tentang iman Katolik berkembang. Pada akhir 2025, ia mulai menghadiri misa. Meskipun awalnya terasa asing dengan berbagai gerakan, tanggapan umat, dan struktur ibadah, suasana khidmat dalam misa meninggalkan kesan mendalam baginya.
Ketertarikannya semakin kuat hingga akhirnya ia mendaftar dalam kelas RCIA di Church of the Assumption, Keuskupan Agung Kuala Lumpur.
Menemukan akar Gereja
Selama mengikuti program tersebut, Han mulai memahami kesinambungan apostolik Gereja Katolik yang berakar sejak masa Para Rasul. Ia melihat sejarah Gereja perdana dan ajaran konsili sebagai upaya komunitas iman untuk tetap setia pada ajaran Kristus.
Melalui pembacaan Kitab Suci dan diskusi yang intens, ia pun semakin yakin akan kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi—sebuah keyakinan yang menjadi titik penting dalam perjalanan imannya (Sumber:UCANEWS,25 Maret 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr