
Seorang demonstran mengangkat foto Ayatollah Khameneims,sementara seorang yang lain memegang bendera Pelestina dalam demonstraso di depan Balai Kota Los Angeles pada tanggal 2 Maret 2026
Oleh John Dayal
Kesatuan umat Kristen global menjadi salah satu korban tidak langsung dari operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu konflik bersenjata besar di kawasan Timur Tengah. Operasi yang diluncurkan pada akhir Februari itu tidak hanya memicu perang rudal dan ancaman krisis energi global, tetapi juga memperlihatkan perpecahan sikap di kalangan gereja-gereja dunia.
Serangan udara terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel menewaskan pemimpin politik dan spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin negara tersebut sejak 1989. Dalam serangan itu, Khamenei yang berusia 86 tahun dilaporkan tewas bersama sejumlah anggota keluarga dan pejabat tinggi Iran, termasuk menteri pertahanan dan komandan Garda Revolusi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membela operasi tersebut sebagai langkah yang diperlukan untuk menghilangkan ancaman Iran dan membebaskan rakyatnya. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut serangan itu sebagai upaya menetralkan ancaman eksistensial terhadap Israel.
Konflik yang juga dijuluki “Perang Ramadan” ini dengan cepat berkembang menjadi konfrontasi terbuka. Iran meluncurkan serangan balasan ke sejumlah kota Israel, termasuk Tel Aviv, sementara jalur perdagangan minyak melalui Strait of Hormuz ikut terganggu. Hingga pertengahan Maret, lebih dari 1.300 warga sipil dilaporkan tewas.
Pembunuhan Khamenei memicu perdebatan luas mengenai legalitas dan moralitas tindakan tersebut. Beberapa negara Barat menilai serangan itu melanggar hukum internasional dan prinsip kedaulatan negara. Piagam United Nations secara tegas melarang pembunuhan di luar proses hukum semacam ini.
Peristiwa tersebut juga mengingatkan pada serangan drone Amerika Serikat pada 2020 yang menewaskan jenderal Iran Qasem Soleimani. Namun, berbeda dengan harapan sebagian pihak bahwa serangan tersebut akan memicu perubahan rezim di Iran, hingga kini tidak terlihat tanda-tanda pemberontakan besar di dalam negeri.
Dampak konflik mulai dirasakan secara global, terutama di sektor energi. Negara-negara Asia, termasuk India, menghadapi potensi krisis bahan bakar akibat terganggunya pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Di tengah situasi tersebut, reaksi komunitas Kristen dunia memperlihatkan perbedaan yang tajam.
Sebagian kecil pemimpin evangelikal di Amerika Serikat yang memiliki kedekatan politik dengan pemerintahan Trump dan gerakan Make America Great Again (MAGA) menyatakan dukungan terhadap operasi militer tersebut. Mereka menyerukan doa bagi tentara Amerika dan Israel serta menilai tindakan tersebut sebagai bagian dari upaya melawan rezim Iran.
Namun dukungan semacam itu tidak mewakili arus utama kekristenan global.
Sebaliknya, banyak pemimpin gereja Katolik, Protestan arus utama, Anglikan, Episkopal, dan Ortodoks menegaskan pentingnya diplomasi serta penghormatan terhadap kehidupan manusia. Mereka menilai konflik ini berpotensi memperparah penderitaan warga sipil dan merusak stabilitas internasional.
Salah satu suara paling kuat datang dari pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo XIV, paus pertama asal Amerika Serikat yang terpilih pada 2025.
Dalam doa Angelus pada 1 Maret, ia menegaskan bahwa perdamaian tidak dapat dibangun melalui ancaman maupun senjata.
Ia mengingatkan bahwa perang hanya dapat dibenarkan jika bersifat defensif, proporsional, menjadi pilihan terakhir, dan tetap melindungi warga sipil—standar yang menurut banyak pengamat tidak terpenuhi dalam serangan tersebut.
Seruan serupa juga disampaikan organisasi ekumenis global seperti World Council of Churches, yang mewakili lebih dari 350 gereja di berbagai negara. Organisasi itu mendesak penghentian segera operasi militer, perlindungan bagi warga sipil, serta kembalinya para pihak ke meja diplomasi.
Para pemimpin gereja Protestan di Amerika Serikat, termasuk dari United Church of Christ dan Disciples of Christ, bahkan menyebut serangan tersebut sebagai penyalahgunaan kekuasaan. Mereka mengutip pesan kitab Yesaya tentang mengubah pedang menjadi mata bajak sebagai simbol panggilan iman untuk menciptakan perdamaian.
Di kalangan Anglikan, kekhawatiran terutama tertuju pada dampak konflik terhadap komunitas Kristen di Timur Tengah. Seorang mantan Archbishop of Canterbury menyebut perang tersebut tidak adil dan berpotensi merusak tatanan hukum internasional.
Sementara itu, Russian Orthodox Church menyampaikan belasungkawa atas kematian Khamenei dan memuji keteguhan keyakinannya. Sikap ini juga dipandang mencerminkan hubungan politik yang erat antara Rusia dan Iran, serta kedekatan gereja tersebut dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Perbedaan sikap ini mencerminkan perbedaan teologis yang lebih dalam. Banyak gereja arus utama menekankan prinsip keadilan, perlindungan kehidupan, dan penyelesaian damai konflik. Sebaliknya, sebagian kalangan evangelikal dan penganut Christian Zionism melihat dukungan terhadap Israel sebagai bagian dari tafsir nubuatan Alkitab tentang akhir zaman.
Di India, negara dengan masyarakat multireligius yang kompleks, konflik ini juga memicu refleksi lintas denominasi. Sejumlah pemimpin gereja mengadakan pertemuan doa bersama di New Delhi di bawah koordinasi National Council of Churches in India.
Pertemuan yang digelar di Cathedral Church of the Redemption itu dihadiri sejumlah tokoh gereja dan berlangsung selama dua jam. Para peserta memanjatkan doa bagi para pemimpin Amerika Serikat, Israel, Iran, serta negara-negara Timur Tengah, sekaligus menyerukan penghentian perang yang telah menyebabkan penderitaan besar bagi warga sipil dan kerusakan lingkungan.
Selain sebagai bentuk solidaritas spiritual, pertemuan doa tersebut juga menjadi ruang penting untuk berbagi informasi yang akurat. Di tengah maraknya disinformasi dan propaganda politik, ruang dialog seperti ini dinilai penting untuk mencegah penyebaran rumor yang dapat memperkeruh hubungan antarumat beragama.
Konflik yang sedang berlangsung ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan politik dan teologis dapat memengaruhi cara komunitas agama merespons krisis global. Namun di tengah perpecahan tersebut, seruan untuk menghentikan kekerasan dan mengutamakan perdamaian tetap menjadi suara dominan di sebagian besar gereja dunia (Disadur dari UCANNEWS, 16 Maret 2026)