Proses Kanonisasi “Martir Keringat” dari Korea Maju ke Tahap Berikutnya

Patung Pastor Thomas Choe Yang-Eop di Shrine Baeti, Keuskupan Cheongju, Korea Selatan (Foto Chatolic Times of Korea)

 

Oleh UCA News Reporter

SEOUL: Proses kanonisasi seorang imam Korea abad ke-19, Thomas Choe Yang-eop, mengalami perkembangan penting setelah Vatikan mengakui mukjizat yang dikaitkan dengan perantaraannya.

Komite Medis di bawah Dicastery for the Causes of Saints menyatakan bahwa sejumlah kasus penyembuhan yang diajukan dinilai sebagai mukjizat. Hal ini disampaikan oleh Catholic Bishops’ Conference of Korea dalam pernyataan resmi tertanggal 30 Maret.

Dengan pengakuan tersebut, proses menuju beatifikasi kini memasuki tahap lanjutan. Gereja Katolik di Korea saat ini menantikan persetujuan dari Paus, Pope Leo, sebelum penetapan tanggal beatifikasi dapat diumumkan.

Dalam sidang pada 26 Maret, tujuh pakar medis menyimpulkan bahwa kasus-kasus yang diajukan merupakan “penyembuhan ajaib” yang terjadi melalui perantaraan Pastor Choe Yang-eop, setelah melalui diskusi panjang.

Thomas Choe (1821–1861) merupakan imam Korea kedua yang berada di jalur menuju kesucian, setelah Andrew Kim Tae-gon, imam pribumi pertama Korea yang dikanonisasi oleh Pope John Paul II pada 1984.

Proses kanonisasi Choe telah dimulai sejak 1996 oleh Keuskupan Cheongju. Ia kemudian dinyatakan “Venerable” oleh Pope Francis pada 26 April 2016.

Menariknya, mukjizat yang diakui dalam kasus Choe merupakan yang pertama dalam sejarah Gereja Korea. Sebelumnya, proses kanonisasi di Korea umumnya melibatkan para martir, yang tidak memerlukan mukjizat sebagai syarat pengakuan.

Pada Mei 1984, Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasi Andrew Kim Tae-gon bersama 102 martir Korea. Sementara itu, pada 2014, Paus Fransiskus membebatifikasi 124 martir Korea lainnya.

Ketua Komite Khusus Beatifikasi dan Kanonisasi Korea, Simon Kim Jong-kang, mengajak umat Katolik untuk terus berdoa hingga Pastor Choe Yang-eop resmi dinyatakan sebagai “Beato”.

Dikenal sebagai “gembala di jalan” dan “martir keringat”, Choe lahir pada Maret 1821 di Cheongyang, Provinsi Chungcheong Selatan. Ia termasuk salah satu seminaris pertama Gereja Korea bersama Andrew Kim Tae-gon dan Francis Xavier Choi Bang-je. Pada 1836, mereka berangkat ke Makau untuk menempuh pendidikan seminari.

Choe ditahbiskan sebagai imam pada 15 April 1849 di Katedral Shanghai, Tiongkok, dan kembali ke Korea pada tahun yang sama. Selama pelayanannya, ia mengunjungi lebih dari 120 komunitas Katolik dengan menempuh perjalanan sekitar 2.800 kilometer per tahun selama 12 tahun, di tengah tekanan dan penganiayaan terhadap umat Katolik saat itu.

Kondisi kesehatannya menurun akibat kelelahan berat. Ia kemudian terserang tifus dan wafat pada 15 Juni 1861 dalam usia 40 tahun.

Keluarga Choe juga dikenal sebagai saksi iman. Ayahnya, Francis Choe Gyeong-hwan, gugur sebagai martir pada 1839 dan dinyatakan santo pada 1984. Sementara ibunya, Maria Lee Seong-rye, diakui sebagai Beata pada 2014 (UCA NEWS, 02 April 2026).

Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com