
Paus Leo XIV menahbiskan imam ( Foto Ansa)
Oleh Deborah Catellano Lubov
Paus Leo XIV merilis pesan untuk Hari Doa Sedunia bagi Panggilan ke-63 yang tahun ini diperingati pada Minggu, 26 April, bertepatan dengan Minggu Paskah keempat atau yang dikenal sebagai Minggu Gembala Baik. Dalam pesannya, Paus menegaskan bahwa setiap panggilan merupakan anugerah yang tak terukur, baik bagi Gereja maupun bagi mereka yang menerimanya dengan sukacita.
Dalam pesannya, Paus menyebut peringatan ini sebagai “kesempatan rahmat” untuk merenungkan dimensi batin dari panggilan hidup, yang dipahami sebagai penemuan atas karunia Allah yang tumbuh dalam kedalaman hati manusia. Ia juga mengajak umat untuk bersama-sama menelusuri jalan kehidupan yang indah, di mana Sang Gembala menuntun umat-Nya.
Mengacu pada Injil Yohanes, Paus mengingatkan bahwa Yesus adalah Gembala Baik yang rela menyerahkan hidup-Nya bagi domba-domba-Nya, sebagai wujud kasih Allah. “Dialah Gembala yang menarik kita kepada-Nya; tatapan-Nya menyingkapkan bahwa hidup menjadi indah ketika kita mengikuti-Nya,” tulis Paus.
Menurut Paus, untuk menyadari keindahan ini diperlukan sikap hening, doa, dan refleksi batin. Hanya mereka yang mau berhenti sejenak, mendengarkan, dan membuka diri terhadap kehadiran Tuhan yang dapat dengan yakin berkata bahwa hidup bersama-Nya sungguh indah.
Ia menambahkan, menjadi murid Kristus berarti mengalami transformasi batin. “Dalam mengikuti-Nya, kita menjadi ‘indah’, karena keindahan-Nya mengubah kita,” ujarnya, seraya menyinggung pengalaman Santo Agustinus yang menemukan terang ilahi setelah melewati masa-masa kelam dalam hidupnya.
Paus juga menekankan bahwa panggilan bukanlah sebuah paksaan atau pola seragam, melainkan “petualangan cinta dan kebahagiaan”. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen Gereja—keluarga, paroki, komunitas religius, hingga para pemimpin umat—untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya panggilan tersebut.
“Panggilan akan bertumbuh ketika lingkungan kita diterangi oleh iman yang hidup, doa yang terus-menerus, dan kebersamaan dalam persaudaraan,” katanya.
Lebih lanjut, Paus menegaskan bahwa setiap panggilan berawal dari pengalaman akan Allah yang adalah kasih. Ia percaya bahwa Tuhan mengenal setiap pribadi secara mendalam dan telah menyiapkan jalan unik bagi setiap orang menuju kekudusan dan pelayanan.
Namun, kesadaran ini harus diimbangi dengan upaya manusia untuk mengenal Tuhan melalui doa, Sabda, sakramen, serta karya kasih kepada sesama.
Secara khusus, Paus mengajak kaum muda untuk mendengarkan panggilan Tuhan dengan membuka diri terhadap kehidupan yang penuh dan bermakna. Ia mendorong mereka untuk meluangkan waktu dalam adorasi, merenungkan Kitab Suci, serta aktif dalam kehidupan Gereja.
Melalui kedekatan dengan Kristus, menurut Paus, setiap orang akan menemukan panggilannya—baik dalam hidup berkeluarga, imamat, diakonat, maupun hidup bakti. “Setiap panggilan adalah anugerah yang tak terukur bagi Gereja dan bagi mereka yang menerimanya dengan sukacita,” tegasnya.
Dalam pesannya, Paus juga menyoroti teladan Santo Yosef yang tetap percaya kepada rencana Allah di tengah ketidakpastian. Yosef menerima Maria dan Yesus dengan hati yang taat, meskipun situasi yang dihadapinya penuh misteri.
“Yosef adalah contoh kepercayaan total kepada rencana Allah, bahkan ketika segala sesuatu tampak gelap dan tidak pasti,” tulis Paus.
Ia menambahkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya, bahkan dalam masa-masa tersulit. Dengan bantuan Roh Kudus, panggilan hidup seseorang dapat terus bertumbuh dan matang, meskipun di tengah cobaan.
Paus juga mengingatkan bahwa panggilan bukanlah sesuatu yang statis, melainkan proses yang terus berkembang sepanjang hidup. Karena itu, panggilan perlu dipelihara melalui relasi harian dengan Tuhan.
“Berhentilah sejenak, dengarkan, dan percayakan diri kepada-Nya,” pesan Paus. “Dengan demikian, anugerah panggilan akan bertumbuh, membawa kebahagiaan, serta menghasilkan buah bagi Gereja dan dunia.”
Di akhir pesannya, Paus memohon agar Bunda Maria senantiasa menyertai umat dalam perjalanan panggilan hidup mereka, sebagai teladan dalam menerima kehendak Allah dengan penuh iman dan keheningan (Sumber:UCANEWS, 25 Maret 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr