
Para imam Diosesan yang telah menjalani lebih dari 21 tahun tahbisan imamat berkumpul dalam sebuah perjumpaan persaudaraan dan penyegaran hidup rohani di Hotel Azana, Padang, sejak Senin, 23 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan On Going Formation Imam se-Regio Sumatera, yang berlangsung hingga 27 Februari 2026.
Ada 86 orang imam peserta yang berasal dari berbagai keuskupan di wilyah Sumatera, yakni Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Sibolga, Keuskupan Padang, Keuskupan Agung Palembang, Keuskupan Pangkalpinang, dan Keuskupan Tanjung Karang.
Pertemuan ini menjadi ruang istimewa untuk berhenti sejenak dari dinamika pelayanan pastoral yang padat, guna memperdalam kembali panggilan imamat dalam suasana doa dan persaudaraan.
Imamat yang telah mereka jalani selama puluhan tahun tidak lahir dari usaha pribadi semata, melainkan tumbuh dalam perjalanan iman, kehidupan doa, serta dukungan persaudaraan yang saling menguatkan. Karena itu, kehidupan imamat tidak hanya dijalani, tetapi juga terus dipelihara melalui doa yang setia dan persaudaraan yang hidup.
Bukan Imam Birokrat
Dalam sesi penyegaran yang dibawakan Mgr. Adrianus Sunarko OFM, (Selasa, 24 Februari) dikatakan bahwa para imam harus senantiasa menyadari dan mensyukuri bahwa mereka dipenuhi belas kasih Allah, dengan demikian maka para imam mengalami sukacita.
Uskup Sunarko menjelaskan pentingnya menjalani imamat dengan sukacita, termasuk hidup dengan humor. “Paus Fransiskus selalu memohon dari Tuhan rasa humor. Maka imam harus menunjukkan kekhasan dalam sukacita” katanya.
“Jangan menjadi imam yang birokrasi atau fungsional, seperti pekerjaan sewaan, seperti membangun gedung, dalam melakukan program. Tapi jadilah imam yang dekat dengan Kristus” kata Uskup yang menggembalakan Keuskupan Pangkal Pinang, sekaligus Sekjen KWI dengan mantap.

Melalui kegiatan On Going Formation ini, para imam diharapkan semakin diteguhkan dalam panggilan pelayanan mereka, sehingga tetap setia menjadi gembala yang menghadirkan harapan, penghiburan, dan kasih Kristus bagi umat Allah di tengah perubahan zaman.
Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan sebuah perjalanan rohani bersama. Melalui perayaan Ekaristi, rekoleksi, refleksi bersama, serta dialog persaudaraan, para imam diajak untuk kembali menimba kekuatan dari sumber utama panggilan mereka: relasi dengan Tuhan dan kebersamaan sebagai saudara seimamat.