Paus Serukan Focolare Jadi Penyeimbang Kekerasan dan Kebencian Global

 

 

Foto: Paus Leo XIV bertemu dengan anggota Gerakan Fokolare  pada 21 Maret 2026 di Vatikan

Oleh Isabella H.de Carvalho

VATIKAN, Hari Sabtu, 21 Maret 2026 Pope Leo XIV menyerukan kepada anggota Focolare Movement untuk menjadi kekuatan penyeimbang terhadap meningkatnya kekerasan dan kebencian di dunia.Dalam pidatonya di Vatikan  itu, Paus menekankan pentingnya semangat persatuan di tengah situasi global yang dipenuhi konflik dan perpecahan.

“Kita sangat membutuhkan semangat persatuan saat ini, karena racun perpecahan dan konflik dapat merusak hati serta relasi sosial, dan harus dilawan dengan kesaksian Injil tentang persatuan, dialog, pengampunan, dan perdamaian,” ujar Paus.

Pertemuan tersebut dihadiri anggota Focolare yang mengikuti Sidang Umum organisasi di Castel Gandolfo, dekat Rome, pada 1–21 Maret 2026.

Paus menyebut, selama beberapa dekade terakhir, Focolare telah membentuk “umat perdamaian” yang kini dipanggil untuk menjadi benteng terhadap pihak-pihak yang menyebarkan kebencian dan menyeret umat manusia kembali pada kekerasan.

Foto: Paus Leo XIV bersama presiden Focolare Margaret Karman  dan Wakil Presiden Pastor Roberto Almada

Gerakan global untuk persatuan

Focolare, yang didirikan oleh Chiara Lubich pada 1943, merupakan organisasi internasional yang berfokus pada pembaruan spiritual dan sosial. Saat ini, gerakan tersebut hadir di 140 negara.

Dalam pertemuan itu turut hadir Presiden Focolare Margaret Karram yang kembali terpilih untuk masa jabatan kedua, serta Wakil Presiden baru, Roberto Almada.

Paus menegaskan bahwa setiap karisma dalam Gereja mencerminkan aspek Injil yang relevan dengan zamannya. Dalam konteks Focolare, karisma tersebut adalah pesan persatuan antarmanusia sebagai cerminan kesatuan Kristus dengan Allah.

“Semangat persatuan adalah benih yang sederhana namun kuat. Ia menarik banyak orang, menginspirasi panggilan hidup, serta mendorong karya-karya sosial, budaya, dan dialog lintas agama,” kata Paus.

Tekankan transparansi dan keterlibatan

Paus juga menyoroti pentingnya menjaga semangat persatuan dalam struktur organisasi. Ia mengingatkan para pemimpin Focolare untuk bersama-sama memilah mana aspek yang esensial dan perlu dipertahankan, serta mana yang sudah tidak relevan dan perlu ditinggalkan.

Menurut Paus, hal itu menuntut komitmen kuat terhadap transparansi.

“Transparansi adalah prasyarat kredibilitas, sekaligus tuntutan karena karisma merupakan anugerah Roh Kudus yang menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.Ia menambahkan bahwa keterlibatan anggota sangat penting karena dapat mendorong pertumbuhan pribadi dan organisasi, serta memperkuat rasa tanggung jawab kolektif.

Persatuan bukan keseragaman

Lebih lanjut, Paus menekankan bahwa persatuan harus tetap menghormati kebebasan dan suara hati setiap individu. Ia mengingatkan bahwa persatuan tidak berarti keseragaman dalam pemikiran atau gaya hidup.

“Keseragaman justru dapat merugikan kebebasan pribadi dan kemampuan seseorang untuk mengikuti hati nuraninya,” tegasnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya sikap rendah hati, keterbukaan, dan kejujuran dalam proses discernment atau penegasan bersama dalam organisasi.

Mengutip ajaran Chiara Lubich, Paus menegaskan bahwa kasih harus menjadi dasar utama dalam membangun persatuan, yang ditopang oleh sikap saling menghargai, kebaikan hati, dan kemurahan.

Apresiasi bagi keluarga besar Focolare

Di akhir pidatonya, Paus menyampaikan rasa syukur atas perkembangan Focolare sebagai “keluarga spiritual besar” yang melibatkan berbagai kalangan, mulai dari kaum muda hingga pemimpin Gereja.

Ia juga mengapresiasi kontribusi gerakan tersebut dalam menyebarkan nilai-nilai Injil dan menghasilkan “buah kekudusan” yang nyata dalam kehidupan Gereja.


Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com