
Paus Leo XIV saat bertemu dengan utusan group ITA Airways dan Lfthansa (Foto:Media Vatican)
Oleh Devin Watkins
Pope Leo XIV menegaskan bahwa pesawat terbang semestinya menjadi sarana pembawa perdamaian, bukan alat perang dan kehancuran. Hal itu disampaikan menjelang perjalanan apostoliknya ke empat negara di Afrika yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut disampaikan Paus saat menerima delegasi eksekutif dan staf dari ITA Airways—maskapai nasional Italia—serta Lufthansa Group. Dalam kesempatan itu, Paus menyampaikan apresiasi atas pelayanan ITA Airways, termasuk pendahulunya, Alitalia, yang selama ini mendukung perjalanan para Paus, dimulai sejak masa Paus Santo Paulus VI.
Ia memuji profesionalisme para kru yang dinilai mampu menciptakan suasana penerbangan yang tenang dan nyaman, baik bagi Paus, rombongan, maupun para jurnalis yang meliput perjalanan apostolik.
Menurut Paus, penerbangan kepausan memiliki makna simbolis yang kuat dalam dunia modern. Ia selalu melakukan perjalanan sebagai “utusan perdamaian”, dengan rute yang seharusnya menjadi jembatan dialog, perjumpaan, dan persaudaraan.
Namun demikian, Paus juga menyoroti realitas pahit bahwa pesawat kerap digunakan dalam konflik bersenjata untuk menyebarkan ketakutan dan kehancuran.
“Pesawat seharusnya selalu menjadi pembawa damai, bukan perang. Tidak seorang pun boleh hidup dalam ketakutan bahwa ancaman kematian dan kehancuran akan datang dari langit,” ujarnya.
Ia mengingatkan kembali tragedi pemboman udara pada masa Perang Dunia dan berbagai konflik lain yang masih berlangsung hingga kini. Menurutnya, pengalaman pahit abad ke-20 seharusnya menjadi pelajaran untuk mengakhiri praktik tersebut.
“Setelah pengalaman tragis itu, pemboman udara seharusnya sudah dilarang selamanya. Namun kenyataannya, hal itu masih terjadi. Perkembangan teknologi yang sejatinya positif justru dimanfaatkan untuk perang. Ini bukan kemajuan, melainkan kemunduran,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Paus kembali menyampaikan terima kasih kepada para karyawan ITA Airways atas dukungan mereka dalam misinya menyebarkan pesan perdamaian.
“Dalam situasi dunia saat ini, semakin penting untuk menapaki jalur perdamaian di langit. Saya berterima kasih karena dalam misi yang dipercayakan Tuhan kepada saya, saya tahu dapat mengandalkan Anda semua,” katanya (Sumber: VATICANEWS, 23 Maret 2026)
Oleh Devin Watkins
Pope Leo XIV menegaskan bahwa pesawat terbang semestinya menjadi sarana pembawa perdamaian, bukan alat perang dan kehancuran. Hal itu disampaikan menjelang perjalanan apostoliknya ke empat negara di Afrika yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut disampaikan Paus saat menerima delegasi eksekutif dan staf dari ITA Airways—maskapai nasional Italia—serta Lufthansa Group. Dalam kesempatan itu, Paus menyampaikan apresiasi atas pelayanan ITA Airways, termasuk pendahulunya, Alitalia, yang selama ini mendukung perjalanan para Paus, dimulai sejak masa Paus Santo Paulus VI.
Ia memuji profesionalisme para kru yang dinilai mampu menciptakan suasana penerbangan yang tenang dan nyaman, baik bagi Paus, rombongan, maupun para jurnalis yang meliput perjalanan apostolik.
Menurut Paus, penerbangan kepausan memiliki makna simbolis yang kuat dalam dunia modern. Ia selalu melakukan perjalanan sebagai “utusan perdamaian”, dengan rute yang seharusnya menjadi jembatan dialog, perjumpaan, dan persaudaraan.
Namun demikian, Paus juga menyoroti realitas pahit bahwa pesawat kerap digunakan dalam konflik bersenjata untuk menyebarkan ketakutan dan kehancuran.
“Pesawat seharusnya selalu menjadi pembawa damai, bukan perang. Tidak seorang pun boleh hidup dalam ketakutan bahwa ancaman kematian dan kehancuran akan datang dari langit,” ujarnya.
Ia mengingatkan kembali tragedi pemboman udara pada masa Perang Dunia dan berbagai konflik lain yang masih berlangsung hingga kini. Menurutnya, pengalaman pahit abad ke-20 seharusnya menjadi pelajaran untuk mengakhiri praktik tersebut.
“Setelah pengalaman tragis itu, pemboman udara seharusnya sudah dilarang selamanya. Namun kenyataannya, hal itu masih terjadi. Perkembangan teknologi yang sejatinya positif justru dimanfaatkan untuk perang. Ini bukan kemajuan, melainkan kemunduran,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Paus kembali menyampaikan terima kasih kepada para karyawan ITA Airways atas dukungan mereka dalam misinya menyebarkan pesan perdamaian.
“Dalam situasi dunia saat ini, semakin penting untuk menapaki jalur perdamaian di langit. Saya berterima kasih karena dalam misi yang dipercayakan Tuhan kepada saya, saya tahu dapat mengandalkan Anda semua,” katanya (Sumber:VATICANEWS, 23 Maret 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr