Paus Leo XIV: Paskah Mengusir Kebencian dan Meruntuhkan yang Berkuasa

 

 

Paus Leo XIV dalam perayaan Vigili Paskah di Basilika St.Petrus, 04 April 2026

Oleh Joseph Tulloch

VATIKAN — Dalam Misa Malam Paskah di Basilika Santo Petrus, Sabtu, 04 April 2026  (malam waktu setempat), Paus Leo XIV menegaskan bahwa Paskah menjadi kekuatan yang mengusir kebencian, memupuk persatuan, serta meruntuhkan kekuasaan yang menindas.

Dalam homilinya, Paus mengutip sebuah himne kuno yang menyebut bahwa Paskah “mengusir kebencian, menumbuhkan keselarasan, dan meruntuhkan yang perkasa”.

Sejarah keselamatan

Paus Leo XIV menjelaskan bahwa inti perayaan Paskah adalah kebangkitan Yesus Kristus dari kematian. Namun, menurut dia, misteri suci malam Paskah melampaui peristiwa tersebut dan membentang sepanjang sejarah keselamatan.

Melalui sembilan bacaan Kitab Suci dalam liturgi, umat diajak menelusuri perjalanan rekonsiliasi dan rahmat, mulai dari penciptaan dunia, pembebasan bangsa Israel dari Mesir, hingga pewartaan Santo Paulus.

“Tema yang menyatukan seluruh perjalanan ini adalah bahwa Tuhan menjawab kekerasan dosa—yang memecah dan membinasakan—dengan kekuatan kasih yang mempersatukan dan memulihkan kehidupan,” ujar Paus.

Kasih melampaui kematian

Paus kemudian menyoroti kisah kebangkitan Kristus dalam Injil Matius. Ia menggambarkan momen ketika dua perempuan, Maria, mendatangi makam Yesus dan menyaksikan batu penutup terguling akibat gempa.

Menurut Paus, peristiwa itu menjadi tanda nyata bahwa kasih Allah lebih kuat daripada kejahatan.

“Manusia dapat membunuh tubuh, tetapi kehidupan dari Allah yang penuh kasih adalah kehidupan kekal, yang melampaui kematian dan tidak dapat dikurung oleh kubur mana pun,” katanya.

Tantangan dunia saat ini

Dalam bagian akhir homilinya, Paus Leo XIV menyinggung berbagai “kubur” yang masih harus dibuka di dunia saat ini, seperti ketidakpercayaan, ketakutan, egoisme, dan kebencian.

Ia juga menyoroti persoalan global seperti perang, ketidakadilan, serta isolasi antarbangsa.

Paus mengajak umat untuk tidak terjebak dalam keputusasaan menghadapi situasi tersebut. Sebaliknya, umat diminta meneladani komitmen para santo dan orang kudus.

“Dengan demikian, anugerah Paskah berupa harmoni dan perdamaian dapat terus tumbuh dan berkembang di seluruh dunia, kapan pun dan di mana pun,” ujar Paus (VATICAN NEWS, 05 April 2026).


Tinggalkan Balasan

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com