
Oleh Devin Watkins
BOGOTA, — Paus Leo XIV, baru-baru ini, menegaskan bahwa Gereja di kawasan Amazon harus menjadi tanda persatuan dalam keberagaman, sekaligus pelindung kehidupan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi wilayah tersebut.Pesan itu disampaikan Paus melalui video pada Selasa (waktu setempat) kepada peserta Sidang ke-6 Konferensi Gerejawi Amazon (CEAMA) yang berlangsung di Bogota, Kolombia.
Dalam pesannya, Paus pertama, asal Amerika Serikat ini, mengapresiasi para uskup, klerus, biarawan-biarawati, serta umat awam yang hadir dalam pertemuan tersebut. Ia menyebut pertemuan itu sebagai “momen istimewa untuk mendengarkan Roh Kudus guna meneguhkan arah perjalanan komunitas Gereja di wilayah Amazon.”
Paus Leo XIV, yang berasal dari Ordo St. Agustinus ini juga menyampaikan kedekatannya dengan masyarakat Amazon yang menghadapi berbagai kesulitan, baik secara material maupun spiritual.
Ia mendorong sidang tersebut untuk merumuskan arah pastoral sinodal yang dapat menjadi pedoman bagi Gereja-Gereja lokal ke depan.
Dalam pesannya, Paus Leo XIV menggunakan perumpamaan pohon shihuahuaco (Dipteryx micrantha), yang tumbuh sangat lambat, dapat hidup lebih dari seribu tahun, dan menjadi penopang ekosistem di sekitarnya.
“Gereja dipanggil untuk menjadi seperti itu: tanda persatuan dalam keberagaman serta tempat perlindungan yang aman yang melahirkan dan menjaga kehidupan,” ujarnya.
Paus juga mengingatkan pentingnya menjaga iman yang berakar pada Kristus, serta terus memperdalam relasi dengan-Nya melalui doa.
Menurutnya, situasi saat ini menuntut respons yang tepat terhadap berbagai tantangan sosial, lingkungan, budaya, dan kehidupan menggereja di Amazon, yang masih dibayangi oleh eksploitasi dan penyalahgunaan.
Di tengah kondisi tersebut, Gereja diharapkan terus mewartakan inti Injil (kerygma) dan kehidupan baru dalam Kristus, sembari mendampingi mereka yang menderita serta menjaga ciptaan dan menghormati kehidupan dalam segala bentuknya, terutama kehidupan manusia.
Paus Leo XIV juga menekankan pentingnya inkulturasi Injil dalam budaya lokal, agar misteri Kristus dapat dihayati dan dirayakan secara lebih mendalam.
“Inkulturasi adalah jalan yang sulit, tetapi perlu. Kita harus berani menerima kebaruan Roh Kudus, yang selalu mampu menciptakan hal baru dari kekayaan Kristus yang tak terbatas,” katanya, mengutip dokumen Querida Amazonia.
Sebagai penutup, Paus mengajak umat Katolik di Amazon untuk meneguhkan jati diri sebagai murid-murid misioner Kristus.
“Teruslah menabur di ladang yang telah disirami, bahkan dengan darah banyak orang yang telah mendahului kalian. Mereka, yang bersatu dengan penderitaan Kristus, telah menjadi akar dari ‘pohon besar’ yang kini tumbuh di Amazon,” ujarnya (Sumber: VATICANEWS, 18 Maret 2026)
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr