
Foto: Bui Thi Kim Thanh bersama puterinya berforo di depan lukisan kelahiran Yesus saat Natal 2025
VIETNAM: Keheningan menyelimuti lorong-lorong Central Hospital di Hue, Vietnam tengah, pada tengah malam. Suasana dingin itu hanya dipecah oleh detak jantung Bui Thi Kim Thanh yang berpacu dalam kecemasan.
Selama 34 tahun hidupnya, Thanh dikenal sebagai penganut Buddha yang taat. Ia tumbuh dalam tradisi keluarga yang kental dengan ritual keagamaan di kuil setempat. Namun, malam itu menjadi titik balik dalam hidupnya, ketika putri kecilnya yang berusia tiga tahun harus menjalani operasi darurat akibat otitis media—infeksi telinga yang dalam kasus langka dapat mengancam jiwa.
Dalam kondisi tertekan dan penuh ketakutan, Thanh melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya: berdoa kepada Tuhan yang selama ini hanya ia kenal secara tidak langsung melalui suaminya yang beragama Katolik.
“Ya Tuhan, selamatkan anak saya. Saya percaya Engkau memberikan yang terbaik baginya, dan saya akan hidup menurut firman-Mu,” ucapnya dalam doa penuh harap.
Thanh, seorang pegawai bank yang rasional, berasal dari keluarga dengan tiga saudara laki-laki yang semuanya setia menjalankan tradisi Buddha. Ketika ia menikah dengan Matthew Phan Van Khi, seorang pengemudi pengantar barang beragama Katolik, pada 2019, mereka sepakat untuk saling menghormati keyakinan masing-masing.
Kesepakatan itu bahkan mencakup rencana membesarkan anak: anak pertama akan mengikuti agama ibu (Buddha), sementara anak kedua akan mengikuti agama ayah (Katolik).

Foto: Bui Thi Kim Thanh berdiri depan patung Yesus Raja di kota Vung Tau
Namun, pengalaman spiritual Thanh sebenarnya mulai tumbuh sejak kunjungannya ke Kota Vung Tau pada musim panas 2025. Di sana, ia terkesan oleh patung Yesus Raja setinggi 32 meter yang berdiri di atas bukit setinggi 170 meter.
“Saya merasakan daya tarik yang sakral dan tak terduga. Patung itu sangat mengesankan dan menarik perhatian saya lebih dari tempat ibadah lain yang pernah saya kunjungi,” ujarnya.
Dalam perjalanan yang sama, Thanh membeli sebuah kaligrafi berisi kutipan Kitab Suci sebagai oleh-oleh untuk ibu mertuanya. Kutipan tersebut berbunyi: “Janganlah kamu khawatir akan hidupmu… Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Kalimat ini kemudian menjadi pegangan batinnya.
Ketika putrinya pulih dengan sangat cepat setelah operasi, Thanh meyakini bahwa hal itu bukan sekadar keberhasilan medis.
“Saya mulai memahami bahwa doa itu kuat. Tuhan menjawab. Ketika kita meminta dengan iman, Dia merespons,” katanya.
Sebagai ungkapan syukur, keluarga tersebut merayakan Natal bersama untuk pertama kalinya tahun lalu.
Keputusan Thanh untuk memeluk agama Katolik sempat menimbulkan kesedihan di pihak keluarganya. Mereka menganggap langkah tersebut sebagai penyimpangan dari tradisi leluhur. Di Vietnam, masih ada anggapan bahwa umat Katolik tidak menghormati leluhur—sebuah nilai budaya yang sangat dijunjung tinggi.
Namun, Thanh berusaha menjelaskan bahwa dalam ajaran Katolik, penghormatan kepada leluhur tetap dijaga.
“Perlahan-lahan mereka mulai memahami,” ujarnya.
Ia juga mengaku menghargai ajaran Gereja yang tidak menganjurkan praktik pembakaran kertas persembahan (joss paper), yang selama ini dilakukan sebagai simbol pemberian bagi arwah leluhur.
“Saya yakin umat Katolik tidak melakukan praktik-praktik yang bersifat takhayul,” katanya.
Lebih dari itu, ia tersentuh oleh ajaran Gereja tentang penghormatan terhadap kehidupan, termasuk janin dan anak-anak.
“Saya ingin nilai itu menjadi bagian dari kehidupan anak saya,” ucapnya.
Kini, Thanh bersama putrinya tengah menjalani masa katekumen di Paroki Vinh Loc bersama enam orang lainnya. Mereka dijadwalkan menerima baptisan pada Malam Paskah, 4 April mendatang.
Dalam baptisan tersebut, Thanh akan mengambil nama Teresa, sementara putrinya akan diberi nama Catherine.
Suaminya, Matthew Khi, mengaku sangat bahagia atas keputusan tersebut.
“Tuhan menjawab doa saya,” katanya.
Bagi Thanh, perjalanan ini bukan sekadar perpindahan keyakinan, melainkan pengalaman iman yang lahir dari sebuah janji di lorong rumah sakit pada malam yang sunyi.
“Itu adalah bukti kasih Tuhan bagi mereka yang percaya sepenuhnya kepada-Nya,” ujarnya.
Bagikan ini:
- Bagikan ke Reddit(Membuka di jendela yang baru) Reddit
- Bagikan ke Pinterest(Membuka di jendela yang baru) Pinterest
- Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
- Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
- Bagikan ke Threads(Membuka di jendela yang baru) Utas
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Bagikan ke Mastodon(Membuka di jendela yang baru) Mastodon
- Bagikan ke Nextdoor(Membuka di jendela yang baru) Nextdoor
- Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
- Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
- Bagikan ke Bluesky(Membuka di jendela yang baru) Bluesky
- Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
- Berbagi di Tumblr(Membuka di jendela yang baru) Tumblr